
"Bun, Dara pergi dulu ya." Pamit Dara setelah sarapan.
"Apa Yoan sudah menjemput? mana dia?" tanya Bunda. Biasanya kalau pagi menjemput, calon menantunya itu akan nyelonong masuk. Dan berpamitan padanya.
"Hah itu... Yoan lagi keluar kota, Bun." Alasan Dara makanya Yoan tidak menjemputnya. "Dara pergi, Bun."
Setelah pamitan Dara berjalan keluar rumah. Ia berjalan menuju ke simpang.
'Apa dia marah padaku? Lucu sekali dia marah karena itu? Apa lantaran aku tidak mau resign, ia terus mau membatalkan pernikahan?' Dara tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu. Tapi wajar saja sih, ia tidak terlalu mengenal pria itu.
"Dara... kok tumben jalan. Nggak dijemput calon suaminya?"
"Biasanya diantar jemput naik mobil!"
"Oh iya... dengar-dengar awal bulan ini mau menikah?"
"Apa kalian tidak bertengkar kan?"
Para tetangga mulai lagi rempongnya. Padahal hari juga masih pagi, bisanya merumpi sambil membeli sayur.
"Calon suamiku sedang tugas di luar kota." Jawab Dara memberi alasan.
"Ih... kok diizinkan. Kalau berselingkuh di sana bagaimana itu?"
"Iya benar. Banyak loh rintangannya kalau mau menikah!"
Dara mempercepat langkahnya. Pusinglah mendengar perkataan mereka.
'Dia memang tidak datang?'
Sampai di persimpangan, Dara melihat kanan kiri. Mencari-cari mobil Yoan. Tapi, tidak ada terlihat mobil pria itu.
Dara pun menyetop angkutan umum. Lalu ia pun segera naik. Ia harus cepat, agar tidak terlambat datang ke swalayan.
Sementara tak jauh dari tempat Dara menyetop angkutan umum. Yoan melihati Dara, hingga wanita itu naik ke angkutan umum.
'Dara, apa tidak ada sedikit pun perasaanmu padaku?!'
Yoan mengikuti angkutan umum itu. Hari ini ia sengaja naik mobil papanya, agar Dara tidak tahu kalau ia memantaunya.
'Aku hanya memintamu menurut untuk resign dari sana. Bukan memintamu harus begini begitu!' Batinnya.
Yoan menghela nafas panjang. Setelah memastikan Dara telah masuk ke swalayan, ia pun segera pergi.
__ADS_1
"Mana si abang, kak?" tanya Eli yang tak melihat Yoan. Biasanya pria itu selalu mengantar Dara.
Dara tidak menjawab dan sibuk dengan pekerjaannya.
'Apa aku harus berhenti kerja? nanti kalau dia meninggalkanku di hari pernikahan bagaimana?'
Rasa trauma itu masih menghantui Dara. Walau sudah yakin, tapi tetap saja ada keraguan menghinggapinya.
Selama ini, Dara selalu bersikap biasa saja pada Yoan. Ia sengaja bersikap seperti itu, jika pernikahan mereka nanti batal lagi, ia tidak akan terlihat menyedihkan.
Dara kembali mengingat saat itu. Bagaimana bahagia perasaannya saat akan menikah dengan Roni. Ia menunjukkan semua perasaan pada Roni, tapi ternyata itu tak berarti. Ia terpuruk dengan perasaannya sendiri.
Kini Dara hanya lebih mengantisipasi. Ia takut saat menunjukkan perhatian atau menurut pada Yoan, pria itu malah menyakitinya.
'Dara... mereka berbeda!" Dara menghempas pikirannya. Ia tidak boleh menyamakan keduanya.
Dara bingung harus bagaimana sekarang. Perasaannya dengan Yoan? Ia juga tidak mengerti. Tapi bersedia menikah dengan pria itu.
Dara meraih ponselnya dan menelepon bosnya. Ia mengatakan akan berhenti bekerja dan hari ini hari terakhirnya. Ia juga meminta maaf, karena mendadak memberitahu.
"Kak Dara, mau resign ya?" tanya Eli dengan wajah sedih. Ia sempat menguping pembicaraan Dara.
Dara mengangguk seraya menyimpan kembali ponsel dalam saku.
Dara mengangkat bahu, ia juga tidak tahu mau ke mana.
"Oh aku tahu, pasti si Babang yang nyuruh resign, kan. Ia tidak mengizinkan kak Dara bekerja lagi." Tebak Eli yang mendadak wajah sedih itu langsung tersenyum lebar.
"Bu-bukan. Aku akan bekerja di tempat lain!" sanggah Dara cepat.
"Iya aku tahu, kak Dara kerja malam sama Bang Yoan!" cengir Eli menggoda Dara. Sebentar lagi Dara akan menikah dengan pria itu.
Dara kembali tidak menjawab dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Eli mengatakan hal yang tidak-tidak.
Dara jadi memilih resign. Jika rencana pernikahan ini batal, banyak pihak yang kecewa. Ayah, bunda bahkan orang tua Yoan.
Dara akan mencoba menuruti pria itu. Jika Yoan sama seperti Roni...
'Terserahlah!!!'
\=\=\=\=\=\=
Malam itu, Dara menatap ponselnya. Ia melihat list obrolan mereka. Tidak ada pesan baru atau panggilan masuk. Pria itu benar-benar memberikannya ruang untuk berpikir.
__ADS_1
Biasanya jika ia masuk shift pagi, Yoan pasti akan datang datang ke rumah dan mengantarnya bekerja. Lalu selesai bekerja, pria itu akan mengantarnya pulang.
Setiap malam juga pasti ada pesan masuk atau panggilan darinya, tapi kini ponselnya sunyi.
'Apa aku harus meneleponnya?' batin Dara bingung.
Ia sudah menuruti pria itu dengan berhenti bekerja dan sekarang sudah menjadi pengangguran. Apa ia harus menelepon pria itu untuk memberitahu kalau dia sudah resign?
Jadi makin bingung, Dara memilih membaringkan tubuh lalu memejamkan mata. Ia akan tidur saja. Toh, pria itu mengatakan dalam 3 hari. Mungkin 3 hari mendatang, Yoan pasti menghubunginya.
Sementara di tempat lain. Sama seperti Dara, Yoan menatap layar ponselnya. Rasa ingin menghubungi Dara begitu besar, tapi ia harus menahan diri.
Pernikahan adalah ikatan suci. Jika hanya ada keterpaksaan, pasti tidak ada kebahagiaan nantinya.
Biarkan Dara memikirkannya saja terlebih dahulu. Apa wanita itu yakin menikah dengannya dan menurutinya untuk resign bekerja?
'Kalau dia tidak mau bagaimana?' Yoan merasa menyesal dengan perkataan dan pikirannya. Padahal Dara sudah mengatakan bersedia menikah dengannya.
Tapi, karena Dara tidak mau menurutinya. Ia jadi berpikiran wanita itu terpaksa menikah dengannya.
'Apa aku biarkan saja dia bekerja?' pria itu memijat pelipisnya dan tak lama menggelengkan kepala.
Yoan mengingat saat Dara bekerja. Bukan hanya diam berdiri di kasiran saja, menunggu saat konsumen membayar.
Tapi saat barang masuk, Dara menuruni barang dari mobil lalu mengeceknya. Setelah itu mendisplay barang-barang itu juga.
Belum lagi harus menjaga kebersihan swalayan tersebut. Bukan hanya lantai dan teras, tapi rak-rak pajangan. Harus selalu dibersihkan.
Pernah lagi saat mobil barang tiba, Dara baru menuruni barang. Lalu ada konsumen yang membayar. Dara pun berlari ke kasiran, lalu setelah konsumen selesai membayar, ia berlari lagi ke mobil barang. Kembali menuruni barang bersama teman seshiftnya.
Keringat Dara sampai bercucuran. Setelah mobil barang itu pergi. Dara dan teman seshiftnya membuka pintu chiller. Mereka berdiri di sana untuk mengademkan tubuh. Padahal AC swalayan sudah berfungsi.
Hal itulah yang membuat Yoan tidak mengizinkan Dara bekerja lagi. Kasir swalayan, pasti kerjaannya hanya berdiri menunggu konsumen membayar. Tapi kenyataannya semua dikerjakan.
Pria itu kembali menghembuskan nafas panjang. Berpikir sejenak apa yang harus dilakukannya agar Dara merasa nyaman dengannya.
'Apa kubeli saja swalayan itu?!'
.
.
.
__ADS_1