
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Untuk ketemu kamu, sayang." Jawab Yoan lalu mendudukkan diri di samping Dara. Ia menyanggahkan dagu, seraya memandangi wajah wanita yang sudah mencuri hatinya.
"Mas, kita nggak boleh ketemu dulu loh!" Dara mengingatkan. Mereka harus menuruti perkataan orang tua.
"Anggap saja kita nggak sengaja bertemu!" alasan Yoan. Ia tidak bisa menahan diri, untuk tidak menemui Dara. Mumpung Dara lagi di luar rumah. Jika di rumah ia juga tidak berani mendatanginya, walaupun alasannya rindu.
Eka senyum-senyum melihat interaksi keduanya. Yoan yang begitu bahagia melihat Dara dan Dara yang malu bertemu Yoan.
"Kalian berdua sangat cocok!" ucap Eka menyadarkan keduanya, jika masih ada dirinya di tempat itu.
Yoan tersenyum pada Eka. "Kamu temannya Dara?"
"Benar, Pak." Jawab Eka menganggukkan kepala. Ia bisa bicara dengan pria yang selalu digosipkan karyawan wanita di kantor.
"Pak?" Yoan merasa aneh dipanggil Pak oleh temannya Dara.
"Saya Eka karyawan anda, pak. Saya bekerja di divisi keuangan sebagai asisten kepala bagian." Eka berdiri dan memperkenalkan diri.
Yoan mengangguk mengerti. "Oh... sudah berapa lama kamu bekerja di sana?"
"Eka sudah lama, Mas." Dara yang menjawab. "Mungkin sudah hampir 7 tahunan ya, Ka?"
"Belum sampai 7 tahun. Saya baru bekerja 5 tahunan." Eka membenarkan. Dara menambah-nambah saja, ia belum selama itu.
"Lumayan lama juga ya." Yoan mengangguk. "Apa ada masalah selama kamu bekerja? mungkin gaji atau lainnya?"
Yoan sekalian ingin tahu juga. Selama ini aman-aman saja. Ia ingin mendengar langsung dari karyawannya.
Eka tampak berpikir, tak ada masalah dalam hal gaji. Bahkan gajian sesuai tanggal. Dan hanya masalah-masalah kecil dengan rekan kerja, itu hal yang biasa dan wajar.
"Ti-tidak ada, Pak. Aman terkendali." Jawab Eka sambil menganggukkan kepala.
Dara melihat Eka, lalu tersenyum penuh arti.
"Oh iya, Mas. Asisten Mas itu sudah menikah belum?" tanya Dara sambil melirik Eka.
"Kak Dara." Ucap Eka pelan sambil menggeleng. Bisanya Dara bertanya tentang El di hadaoan atasannya.
"El? dia belum menikah." Jawab Yoan. Itu yang dia tahu.
"Apa dia sudah punya pacar?" kembali Dara bertanya pada Yoan. Mungkin calon suaminya tahu sedikit banyak tentang El.
"Hmm." Yoan melihat Eka. Ia sepertinya mengerti arah pertanyaan Dara.
"Sebentar ya." Yoan meraih ponsel dan menelepon seseorang.
"El." Ucap Yoan saat panggilannya terhubung. "Apa kamu sudah punya pacar?"
Dara dan Eka sama-sama terbengong dan saling melihat. Yoan langsung bertanya pada orang yang bersangkutan.
"Oh. Baiklah." Yoan pun mengakhiri panggilan.
"El tidak punya pacar. Ia masih jomblo." Jelas Yoan memberitahu hasil percakapannya.
"Eka, saya punya nomor ponselnya El." Ucap Yoan kembali.
__ADS_1
"Ti-tidak usah, pak." Tolak Eka cepat. Ia mendadak jadi malu.
"Mas, masa cewek yang menelepon duluan." Menurut Dara, harus pria dulu yang memulai.
"Kan tidak masalah. Berkenalan saja. Atau aku suruh saja dia kemari? Jadi mereka bisa berkenalan." Yoan memberi saran.
Tapi, Mas..." Dara menggeleng.
"Kak Dara, sepertinya aku harus segera pulang. Anak kucingku belum dikasih makan. Pak, saya permisi." Eka merasa harus segera kabur. Ia malu, jika El benar-benar datang.
"Anak kucing?" tanya Dara bingung. Eka tidak punya peliharaan.
"Aku akan datang ke pesta pernikahan kakak. Sampai jumpa..."
Yoan dan Dara melihat Eka yang sudah pergi dengan terburu-buru. Sepertinya memang anak kucingnya belum makan dan sangat kelaparan.
"Sayang, kita mau ke mana?" tanya Yoan menatap Dara. Temannya Dara sudah pergi.
"Aku mau pulang. Mas pulang sana."
"Sayang, kita jalan-jalan sebentar ya." Yoan menunjukkan wajah memelasnya.
"Baiklah." Dara mengangguk.
Yoan bangkit dan mengulurkan tangannya. Dara menyambut uluran tangan dengan wajah menahan senyum.
'So sweet banget sih calon suamiku!' Dara mulai baperan dengan pria itu.
Yoan menggenggam erat tangan Dara. Wajahnya begitu bahagia.
"Mas, sebentar ya."
"Aku belum bayar."
Yoan mengangguk dan menggandeng Dara menuju kasir.
"Berapa, mbak?" tanya Yoan.
"Nggak usah, Mas. Biar aku bayar saja." Tolak Dara.
"Sudah dibayar sama temannya, Mas, mbak." Ucap kasir memberitahu.
Dara mengangguk, Eka sudah membayarnya. "Baiklah, terima kasih ya."
Tak lama di dalam mobil.
"Sayang, kamu mau lihat-lihat rumah kita. Aku sudah bawa kuncinya." Ucap Yoan.
"Nggak usah, Mas."
"Sebentar saja ya. Kamu lihat apa yang kira-kira kurang. Nanti biar aku tambahkan." Ucap Yoan kembali.
"Baiklah." Dara mengangguk.
Yoan melajukan mobil membelah jalanan. Ia memutar musik agar suasana tidak terlalu canggung.
Tak lama mereka sampai di rumah yang akan mereka tempati setelah menikah.
Yoan membuka pintu dan membawa Dara berkeliling.
__ADS_1
Dara terpaku melihat isi dalam rumah tersebut. Perabotannya super mewah dengan model terbaru.
"Sayang, ini kamar kita." Ucap Yoan membuka pintu kamar.
Dara lagi-lagi terpaku dengan isi dalam kamar tersebut. Serba komplit dan kamarnya begitu luas. Ada kamar mandi yang lebih besar dari kamarnya.
"Bagaimana menurut kamu? Apa ada yang kurang?" tanya Yoan.
"Bagus, Mas. Tidak ada yang kurang." Dara mengangguk. Yoan sudah mempersiapkan dengan maksimal.
"Baguslah kalau kamu juga suka. Jadi kita bisa nyaman saat buat a...nak." Goda Yoan melirik Dara.
Mendengar itu Dara langsung berjalan keluar kamar. Perkataan Yoan sungguh meresahkan.
'Gemas!!! Jadi nggak sabar buat anak.' Yoan terkekeh sendiri. Ia pun menghampiri Dara yang sudah keluar kamar.
Dara melihat dapurnya. Sangat berbeda dengan dapur di rumahnya.
"Nanti kamu masak di sini. Apa yang kamu masak pasti akan aku makan." Ucap Yoan memeluk Dara dari belakang.
Dara sedikit merinding merasakan hembusan nafas Yoan yang mengenai lehernya.
"Mas, aku mau lihat yang lain." Ucap Dara. Posisi mereka sangat meresahkan.
Yoan membalikkan tubuh Dara jadi menghadapnya. Ia menatap Dara dengan tatapan lembut.
Dara terpaku dalam tatapan Yoan. Tatapan pria itu mengisyaratkan perasaannya.
'Apa dia benar-benar mencintaiku?' batin Dara dengan hati yang berdebar tak menentu.
Dara merasakan perbedaannya. Saat bersama Roni, perasaan Roni padanya tidak sekuat ini. Tapi ia tidak terlalu peduli, karena tertutupi oleh perasaan cintanya pada Roni saat itu.
Yoan mengarahkan tangan Dara melingkar di lehernya.
"Dara... boleh aku menciummu?" tanya Yoan meminta izin. Terakhir ia langsung menyosor saja. Kali ini, ia ingin melakukannya saat Dara mengizinkannya. Tapi jika tidak diizinkan, ia akan bersabar.
"Aku akan hitung sampai 3. Kamu bisa menolak!" Yoan melihat wajah Dara yang mulai merona.
"Satu..."
"Dua..."
"Ti-"
Pria itu tersenyum, saat melihat Dara menutup matanya. Petanda memberi lampu hijau.
Yoan mulai mendekat dan kembali merasakan rasa manis dan candu dari bibir mungil itu.
Lembut dan terasa lembut. Dara merasakan ciuman pria itu yang begitu sangat lembut. Bagaikan permen kapas.
Dara membalas pagutannya. Membuat Yoan mulai merasakan panas yang menjalar. Calon istrinya membangkitkan gairahnya. Ia yang semula sangat lembut mulai ngebut. Memperdalam ciumannya seraya memeluk Dara erat. Membuat kedua benda kenyal itu menempel di tubuhnya.
'Bahaya!!! Aku menginginkannya!!!'
.
.
.
__ADS_1