KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 70 - MANTAN DARA


__ADS_3

Pagi itu Yoan sudah berpakaian rapi. Ia akan berangkat ke kantor. Tapi sebelum ke kantor harus sarapan terlebih dahulu.


"Pagi semua." Sapa Yoan pada semua orang yang berada di ruang makan. Ia melirik tante Lydia yang ada di sana juga, wajah tantenya itu cemberut saja.


"Ini sarapan kamu." Ibu Yumi memberikan piring berisi makanan.


Yoan melahapnya, ia juga sempat melirik Om Leo yang menyenggol lengan istrinya. Seolah menyuruh tante Lydia untuk bicara.


"Hmm." Lydia berdehem. "Yoan."


"Iya, tan." Jawab Yoan cepat. Tah apa yang mau dikatakan tantenya itu.


"Kamu serius sama Dara?" tanya Lydia memastikan kembali.


"Aku sangat serius, Tan." Jawab Yoan dengan wajah serius dan yakin.


"Ya sudahlah, tante doakan kamu hidup bahagia bersama Dara. Ingat jangan sakiti Dara!" Lydia akhirnya mengalah. Yoan sudah selangkah lebih maju, tidak mungkin ia menjadi penghalang kebahagiaan ponakannya itu.


"Tentu, Tan. Aku tidak akan menyakiti Dara." Jawab Yoan sangat yakin.


Semua yang berada di ruangan itu, jadi tersenyum. Lydia tidak memaksakan kehendaknya.


"Kalau kamu sampai bercerai dari Dara. Ingat, Malik yang akan segera menikahi Dara." Jelas Tante Yoan kembali.


"Aku tidak mau!" Malik yang baru datang langsung menjawab. Ia tidak mau dengan wanita itu.


"Malik!" Lydia memelototi putranya.


\=\=\=\=\=\=


Yoan sampai di kantor. Saat berjalan menuju lift, ia melihat seorang pria.


'Kenapa dia masih di sini?!' batin Yoan. Melihat pria itu membuat moodnya kesal.


"El." Ucap Yoan saat mereka telah berada di lift.


"Ya, Pak." Jawab El segera.


"Suruh pria itu datang ke ruanganku!" pinta Yoan dengan suara datar.


El diam tak menjawab. Pria itu, siapa maksudnya? Ia tidak mengerti.


"Mantannya calon istriku!" jelas Yoan sambil mendengus. Ia menatap El tajam. Sekarang asistennya itu agak lemot. Tidak bisa langsung paham saja.


"Baik, Pak." El akhirnya mengerti. Ternyata urusan pribadi.


Tak lama, Yoan berada di ruangannya.


"Masuk." Ucapnya saat pintu ada yang mengetuk.


Mata Yoan menatap tajam pada pria yang datang. Pria itu masih bekerja di perusahaan ini.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Roni bersikap sopan.

__ADS_1


"Kenapa anda masih berada di sini?" tanya Yoan tidak senang.


Roni meremas tangannya geram. Ia sudah mengabdi terlalu lama di perusahaan ini, hanya karena masalah pribadi, ia harus melepaskan semuanya. Bisa jadi pengangguran dia nantinya.


"Saya masih karyawan di sini!" jawab Roni membalas tatapan tajam Yoan.


Yoan tersenyum sinis mendengar jawaban Roni.


"Apa anda akan memecat saya, hanya karena masalah pribadi? anda sangat kekanak-kanakkan sekali!" ucap Roni dengan nada mengejek.


Yoan jadi tersenyum sinis. Mantannya Dara sangat menyebalkan.


"Apa sekarang anda sudah menjadi pria sejati? Wah itu sangat bagus. Memang seharusnya seorang pria itu, tidak menyangkut pautkan masalah pribadinya dengan pekerjaan." Balas Yoan dengan nada mengejek.


"Hah, apa lagi tentang masa lalu. Seorang pria sepertinya tidak perlu menggali kembali masa lalu yang sudah terkubur." Yoan memiringkan senyumannya.


"Semoga pernikahan anda bahagia." Ucap Roni akhirnya.


"Tentu saja bahagia. Aku dan Dara sama-sama saling mencintai. Pernikahan akan terjadi karena keduanya sama-sama saling mencintai." Ucap Yoan kembali. Roni harus tahu itu, bahwa Dara mencintainya. Roni tidak boleh menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka.


Roni menghembuskan nafas kasar. Calon suami Dara, sangat menyebalkan.


"Saya permisi!" Roni segera undur diri, dari pada hatinya makin panas.


'Kok bisalah, Dara dulu mau dengannya?' Yoan menggelengkan kepala tak percaya, setelah Roni keluar dari ruangannya.


Yoan tidak mengerti kenapa bisanya Dara mencintai pria seperti itu. Pria yang tidak bisa berkomitmen.


\=\=\=\=\=\=


"Aku lagi di kafe sejahtera, Mas." Jawab Dara sambil mengaduk minumannya.


"Kak Dara!" panggil Eka, melambaikan tangan saat masuk ke kafe itu.


Dara yang sedang menelepon melambaikan tangan pada orang yang memanggilnya.


"Mas, temanku sudah datang. Nanti aku telepon lagi ya." Ucap Dara.


"Ya, sudah. Mau aku jemput? Biar meluncur ke sana?" tanya Yoan penuh harap.


"Jangan, kita kan nggak boleh ketemu dulu." Dara mengingatkan akan pingitan mereka.


"Nggak ada yang tahu. Nanti aku antar kamu nggak sampai rumah. Sampai simpang jalan saja." Bujuk Yoan kembali. Ia ingin bertemu dengan wanitanya. Menunggu sampai hari H terasa sangat lama.


"Mas, aku tutup ya. Dah!" Dara mengakhiri panggilan mereka. Dan tersenyum pada Eka yang sudah duduk di hadapannya.


"Eka, makin cantik ya." basa basi Dara.


"Iya dong. Tapi aku kalah lebih cantik dari orang yang mau nikah ini." Ledek Eka.


Dara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Ka, datang ya." Dara memberikan undangan pada temannya itu.

__ADS_1


"Wow! Kalian sangat serasi kak!" puji Eka pada foto pasangan di kartu undangan.


"Bi-biasa saja kok!" Dara yang gugup pun menyedot minumannya. Ia merasa sedikit malu.


"Kak Dara, kalian kenal di mana?" tanya Eka penasaran. Ia tahu Dara sempat merantau ke luar kota. Apa mereka berkenalan di sana?


"Di-" Dara juga bingung mengatakan ia kenal di mana. Yang dia ingat hanya di pinggir jalan itu, walaupun Yoan bilang mereka pernah bertemu sebelumnya. Tapi dalam ingatan Dara, wajah Yoan samar-samar.


"Di mana kak?" Eka makin penasaran.


"Ya, di- di- masih di bumi inilah." Jawab Dara yang tidak bisa memberitahu.


"Ish!" Eka mendengus, jawaban apa itu. Kalau bertemu di luar bumi, alien dong.


"Ya sudahlah. Aku ucapkan selamat. Semoga rencana pernikahannya berjalan lancar dan selamat menempuh hidup baru. Cepat dapat momongan juga." Doa Eka dengan tulus.


'Amin!' batin Dara dalam hati.


"Kak, diaminkan dong!" Eka kesal, Dara hanya diam saja.


"Kaulah yang mengaminkan."


"Aku yang doa, aku yang mengaminkan juga." Eka jadi menggeleng.


Dara dan Eka saling mengobrol panjang, diiringi senyum dan tawa.


"Jadi Ka, siapa pacarmu sekarang? Nanti kau bawalah dia."


"Nggak ada kak. Pernah aku dekat sama cowok cuma dimanfaatkan. Sudah setiap jalan, bensin, makan, nonton aku yang bayar. Terus mau ngutang pula dia itu, alasannya nggak ada bensin buat dia pergi kerja." Eka bercerita sambil menarik nafas panjang.


"Cari yang lain saja, ka. Bisa-bisa kalau kau sama dia, tumpur bandar!" Dara menggeleng. Biasanya cewek yang matre, ini malah cowoknya.


"Aku sekarang jomblo kak. Sudah akut pun!"


"Pasti nanti ada yang serius samamu." Dara menepuk pundak Eka.


"Iya, seperti kak Dara kan." Eka jadi tersenyum.


"Kak Dara beruntung. Pak Yoan sepertinya sangat mencintai kakak." Goda Eka dengan wajah makin senyum.


"Sok tahu Eka." Dara menyanggah ucapan Eka.


"Boleh gabung?" tanya seorang pria, berdiri di belakang Dara.


Dara menoleh ke arah suara dan terkejutnya dia melihat pria itu.


"Ke-kenapa di sini?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2