KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 78 - SEHARI BERSAMAMU


__ADS_3

Yoan memandangi wajah istrinya yang masih terlelap. Wajah Dara begitu sangat polos dan menggemaskan saat tidur.


'Terima kasih, sayangku.' Yoan mengelus pipi yang sering merona itu.


Lalu satu kecupan panjang Yoan daratkan di kening Dara. Ia menyalurkan segala perasaannya di dalam hati. Lalu menkecupi pipi kanan dan kiri Dara.


Yoan jadi menggeleng, istrinya masih saja terlelap dan tidak terganggu sama sekali. Ia pun mulai iseng, lalu menkecupi seluruh wajah Dara. Bukan hanya menkecup bahkan sengaja meniup wajah Dara.


Dara mulai terganggu. Ia mengusap wajahnya dengan mata masih terpejam.


"Sayang, ayo bangun! Kita sarapan." Yoan mentoel-toel pipi Dara.


"Mas, aku masih ngantuk." Dara menaikkan selimutnya, menutupi seluruh wajahnya.


Pria itu menggeleng lalu pandangannya tertuju pada bercak di seprei.


"Sayang, sepreinya ada darah." Ucap Yoan menahan senyumnya.


"A-apa?" Dara pun langsung bangkit mendengar kata darah. Matanya terbelalak melihat bercak darah di seprei itu.


Dara melepas seprei itu dari tempat tidur. Wajahnya sudah memerah menahan malu.


"Sayang, apa tadi malam sakit?" tanya Yoan menahan senyumannya. Ia tadi malam melihat istrinya sempat meneteskan air mata dan setelah itu mulai menikmatinya.


Dara mendengus sambil memegang gumulan seprei. Bisanya Yoan menanyakan hal seperti itu.


"Sayang, apa itu kamu lecet? sini biar aku lihat dan obati." Ucap Yoan kembali akan mendekati Dara.


"Mas Yoan!!! Jangan genit deh!" ucap Dara kesal sambil membawa seprei menuju kamar mandi.


Melihat Dara, Yoan bangkit dari tempat tidur. Ia pun berlari dan menghampiri istrinya.


"Mas Yoan!!! Turunkan aku!" pekik Dara.


"Ayo, kita mandi bersama!" ucap Yoan santai. Ia menggendong Dara dan membawa masuk ke kamar mandi.


"Mas, ta-tadi malam kan sudah!" ucap Dara mengingatkan. Mereka sudah melalui malam pertama.


"Tapi kan pagi ini belum. Kita harus melewati pagi pertama dengan bergairah." Yoan tertawa-tawa mengatakannya.


"Mas Yoan!!!" Dara merasa kesal.


"Siang pertama, sore pertama, senja pertama. Kita harus menikmatinya sayang." Goda Yoan kembali.


"Mas Yoan!!!"


\=\=\=\=\=\=


Dara sarapan di kamar hotel sambil membuang wajahnya. Merasa kesal melihat senyuman suaminya yang terasa sangat menyebalkan.


"Sayang, ayo makan lagi!" ucap Yoan meletakkan makanan di piring Dara.


"Sudah, Mas. Aku sudah kenyang." Piringnya sudah bersih dan suaminya malah mengisinya kembali. Perutnya bisa-bisa meledak.

__ADS_1


"Makan lagi yang banyak!" Yoan pun menyuapi Dara. Dan istrinya terpaksa menerima.


"Nah gitu dong. Kamu harus makan yang banyak. Biar punya tenaga untuk mende:sah." Yoan menaik turunkan alisnya, menggoda sang istri.


"Mas Yoan!" wajah Dara kembali memerah mendengar perkataan Yoan. Lagi-lagi Yoan senang sekali menggodanya.


"Aku selalu ingin mendengarkannya lagi, lagi dan lagi." Yoan sangat senang mendengar suara bergetar, serak dan seksi Dara dalam kungkungannya.


"Mas Yoan!!!"


"Haha..." Yoan malah tertawa. Dara membuat hatinya bahagia.


"Sayang, sudah cepat kamu habiskan!" Yoan menyodorkan piring yang masih berisi makanan pada istrinya.


"Mas, aku sudah kenyang. Lihat ini perutku." Dara menunjuk ke arah perutnya yang kekenyangan.


Yoan malah mengelus perut Dara. "Lagi apa anak Papa?"


"Apaan sih, Mas?" Dara menahan senyum mendengar pertanyaan yang sangat menggelikan dari suaminya itu.


"Kamu sehat-sehat di dalam ya, nak. Papa dan Mama menunggu kamu di sini." Yoan masih berbicara dengan perut Dara.


"Mas, ngomong sama lemakku?" tanya Dara yang jadi tersenyum tipis.


"Sayang, benihku sudah menyebar di dalam. Pasti ada yang sedang berproses di sana." Yoan menaikkan alisnya.


"Mas..." Dara jadi malu. "Ini makan lagi!"


\=\=\=\=\=\=


"Aku capek, sayang."


"Malas."


"Panas loh di luar."


Yoan tak mau keluar dari kamar hotel. Ia ingin mendekam seharian bersama istrinya itu.


Dara berbaring di sofa. Sambil menonton tv. Yoan juga berbaring di belakang Dara.


Dara tertawa-tawa menonton kartun kesukaannya. Membuat Yoan menggeleng. Istrinya masih suka menonton tontonan bocah.


"Sayang..." Bisik Yoan di telinga Dara. Hasrat ingin menjelajahi tubuh istrinya mulai timbul.


"Mas..." Dara berusaha mengeluarkan tangan Yoan yang sudah merayap masuk ke kaosnya.


Bukannya malah mengeluarkan tangannya, Yoan malah meremas aset istrinya. Membuat tubuh Dara jadi meremang.


"Mas!!!" Pekik Dara, saat Yoan membalikkan tubuh dan mengungkungnya.


Yoan mengkedipkan sebelah matanya dengan senyuman genit dan tak lama pakaian pun berterbangan ke mana-mana.


Sofa mulai bergoyang, tapi bukan karena gempa.

__ADS_1


Siang, sore dan sepanjang malam. Yoan terus membuat istrinya mende:sah. Pria itu seperti tiada letih melakukannya. Dan Dara, wanita itu tepar di tempat tidur.


"Mas, besok lagi ya." Bujuk Dara. Tenaganya sudah habis melayani suaminya itu.


"Sayang, sekali lagi." Harap Yoan sambil menciumi tubuh istrinya. Gairah masih menguasainya.


"Mas..." Dara merengek meminta ampun. Suaminya tidak bisa dipercaya. Dari tadi sekali lagi, sekali lagi saja katanya. Tah, sudah berapa kali mereka melakukannya.


"Aku janji." Yoan pun mulai mencari lubang kenikmatan.


"Mas Yoan.. Ahh..." Dara kembali melayang terbang. Yoan membuatnya menggila.


\=\=\=\=\=\=


Yoan tersenyum menatap wajah istrinya. Hari sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tapi Dara masih terpejam. Istrinya sangat kelelahan karena perbuatannya.


'Aku mencintaimu.' Yoan menkecup kening Dara. Lalu bangkit dan menuju kamar mandi. Ia akan membersihkan diri.


Tak lama setelah membersihkan diri, Yoan keluar dari kamar mandi dengan terlilit handuk. Ia menggeleng melihat Dara masih dengan posisinya. Tidak bergeser sedikit pun.


Pria itu pun memakai pakaian dan akan membangunkan Dara. Mereka belum sarapan. Hari sudah menjelang siang.


"Sayang, ayo bangun." Yoan mentoel-toel pipi Dara.


"Sudah jam berapa sekarang, Mas?" tanya Dara dengan suara serak. Ia terpaku melihat suaminya. Yoan sangat tampan dan seksi dengan rambut setengah basah dan belum disisir. Pagi-pagi ia disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata.


"Jam 10-"


"Apa?" Dara pun tersadar dari rasa kagumnya. Ia bangun dan mendudukkan diri di tempat tidur.


"Ke-kenapa?" tanya Yoan bingung.


"Mas, hari ini keluargaku mau pulang. Kita harus menemui mereka." Ucap Dara mengingat. Saudara Ayah dan Bunda akan kembali ke rumah mereka di luar kota.


"Ya sudah. Nanti kita ke rumah Ayah dan Bunda." Ucap Yoan. Mereka harus berpamitan dan berterima kasih, karena sudah menyempatkan waktu menghadiri pernikahan mereka.


"A-aku mandi dulu." Dara akan bangkit dan kembali duduk. Ia merasakan perih di area intinya.


"Sa-sayang kenapa?" tanya Yoan khawatir. Sepertinya ia sudah menyakiti istrinya.


"Ti-tidak apa, Mas." Jawab Dara kembali bangkit. Ia pun berjalan pelan menuju kamar mandi.


Yoan melihat Dara yang sedikit sulit berjalan. Ia jadi merasa bersalah, pasti karena perbuatannya tadi malam.


'Sayang, maafkan aku. Tapi, mau bagaimana lagi...' Yoan menghela nafas berat.


'Aku sangat mencintaimu...'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2