KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 105 - HANYA MASA LALU


__ADS_3

"Mas..." panggil Dara merasa mulai sesak dan pegap. Sudah terlalu lama ia berada di dalam dekapan suaminya.


Sejak pulang dari rumah Maudy. Yoan tidak banyak bicara. Ia lebih memilih tidur sambil memeluk Dara. Tempat ternyamannya.


"Sebentar lagi, sayang." Ternyata Yoan belum tidur dan makin mengeratkan pelukannya.


"Mas, aku nggak bisa nafas loh." Ucap Dara kembali.


Yoan perlahan melonggarkan pelukannya. Ia melihat wajah Dara yang memerah. Istrinya kepanasan.


"Maaf, sayang. Tolong maafkan aku." Yoan jadi merasa bersalah.


"Nggak apa kok, Mas. Oh iya, Mas Yoan mau makan apa? biar aku buatkan." Dara ingin menghibur suaminya. Ia sedikit mengerti, pembahasan di rumah Maudy tadi menorehkan kembali rasa sakit hati. Yoan sepertinya ingin mengubur masa lalunya dalam-dalam.


"Apa ya?" tanya Yoan tidak tahu. Semua makanan dia suka. Apalagi istri tercinta yang membuatkannya.


"Mau nasi goreng?" tanya Dara. Dan anggukan Yoan berikan sebagai jawaban.


Yoan duduk sambil melihat Dara yang sibuk memasak untuknya. Senyuman manis Dara yang sering melihat ke arahnya, membuat hatinya meleleh.


"Silahkan dimakan, Mas Yoanku sayang." Dara meletakkan sepiring nasi goreng paket lengkap. Ada irisan ayam, udang, bakso, sosis dan telur mata sapi.


"Terima kasih, aku habiskan ya." Yoan pun melahap nasi goreng tersebut. Rasanya sangat enak sekali.


Setelah selesai makan, Dara menyajikan teh hangat. Hati Yoan benar-benar menghangat, perutnya pun kenyang.


Yoan menatap wajah Dara. Wajah yang membuatnya tenang dan nyaman.


"Sayang..." Tangan Yoan menggapai tangan mungil istrinya.


"Aku harap, Maudy tidak mengganggu kita lagi. Maafkan aku yang tidak bisa menceritakan semua pada-"


Dara memeluk Yoan erat. Ia akan mengerti suaminya. Ia saja juga akan merasakan sakit jika mengingat masa lalu.


"Tidak usah cerita, Mas. Lebih baik kita cerita yang lain. Seperti merencanakan masa depan kita saja. Misalnya Mas Yoan mau punya anak berapa?" tanya Dara mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu maunya berapa?" tanya Yoan balik. Istrinya yang akan mengandung dan melahirkan, jadi biar Dara yang tentukan.


"Terserah sajalah, Mas. Yang penting Papanya Mas Yoan." Ucap Dara dengan wajah merona. Lalu memeluk Yoan, ia jadi malu sendiri telah mengatakan itu.


"12 mau? 12 anak pasti ramai." Ucap Yoan sambil senyum-senyum membayangkan.


Dara mencubit perut suaminya. "Kebanyakan, Mas. 2 saja jadi sepasang."


Yoan mengangguk.


"Oh iya sayang. Kita tidur ya?" Yoan merasa mulai mengantuk.


Dara mengangguk dan Yoan pun menggendong Dara menuju kamar mereka. Ia menggendong Dara ala koala.


\=\=\=\=\=\=


"Yoan sial-an!!! Dasar pria penipu!" maki Maudy sambil memakaikan baju putranya.


Tadi malam, ia disidang habis-habisan. Dan terpaksa ia mengatakan semuanya. Tanpa ada yang dirahasiakan lagi. Papanya terus-terusan membentak, jika ia mengatakan kebohongan.


Walau sudah dijelaskan dengan sejujur-jujurnya, tetap saja ia dipukuli oleh mamanya. Rasanya tubuhnya kini terasa perih.


Maudy membawa anaknya untuk sarapan. Di sana ia melihat papa dan mamanya berwajah tidak bersahabat. Mereka pasti masih marah dan kecewa padanya.


Tapi, Maudy merasa di sini dia korbannya. Ya, korban penipuan ucapan janji manis Yoan. Yang katanya mau menerima dirinya dan anaknya Jeri. Nyatanya toh saat ia menagih janji itu, Yoan malah mengatakan itu dulu dan sudah tidak berlaku lagi. Menyebalkan sekali!


Apa bedanya sih dulu dengan sekarang? Janji tetaplah janji.

__ADS_1


Begitulah jalan pikiran Maudy.


"Papa sudah mencari Denis. Ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya-"


"Papa... Tidak usah cari dia." Maudy kesal mengingat Denis. Pria bajing&n itu.


Maudy mendengar Denis pergi keluar negeri dan ia pun memilih mengejar pria itu. Ia percaya Denis akan menerima anaknya, karena pria itu mencintainya.


Tapi ternyata itu hanya omong kosong. Denis tetap tidak mau mengakui Jeri. Bagaimana pun Maudy menangis memohon, Denis sama sekali tidak peduli.


Maudy merasa sudah salah memilih. Ia menyesal meninggalkan Yoan. Ingin kembali lagi, ia masih takut. Ia sudah menghancurkan semuanya.


"Maudy!!!" bentak Papa. "Kamu tidak mau mencari Denis, tapi kamu malah menuduh Yoan."


Agus tidak habis pikir. Tah bagaimana caranya ia meminta maaf pada keluarga itu. Ia sudah tidak punya muka lagi.


Agus semalam malah percaya-percaya saja, pada kebohongan putrinya. Dan meminta Yoan melakukan tes DNA.


"Pa, Yoan itu sudah berjanji akan menerima aku dan anakku. Aku hanya menangih janji itu." Maudy masih dengan pemikirannya.


"Maudy!!!" bentak Papa dan Mamanya kompak. Putrinya benar-benar tidak bisa berpikir logis.


"Lupakan Yoan!"


"Tidak!"


Papa akan melayangkan tangannya.


"Pa, ada Jeri!" Maudy mengingatkan. Putranya tidak boleh melihat kekerasan.


"Baiklah!!! Ma, jaga Jeri sebentar. Papa mau memberi anak satu ini pelajaran!!! Ayo!!!" Agus sudah sangat emosi. Ia pun menggeret putrinya itu menuju kamar.


"Pa, jangan!!!" tolak Maudy.


"Pa, ampun Pa!!!' Maudy memohon sambil menangis.


Papanya jika sudah marah akan membawanya ke kamar dan melibasnya dengan tali pinggang.


"Kamu harus Papa beri pelajaran!" Papa tetap menggeret Maudy.


Sebenarnya Agus tidak mau melakukan hal itu lagi. Terakhir kali ia melibas putrinya saat Maudy kelas 1 SMA. Saat itu Maudy ketahuan merokok. Ia melibas putrinya dan karena itu Maudy jadi jera dan tidak berani mengulangnya lagi.


Sekarang Maudy tidak bisa dibilangi. Mungkin dengan melibasnya putrinya akan mengerti bahwa apa yang akan dilakukannya salah.


"Pa, ampun!!! Maafkan aku Pa!" Maudy menangis dan memeluk papanya. Ia benar-benar takut dilibas kembali.


Agus menghembuskan nafas berkali-kali. Berusaha menetralkan emosinya sesaat.


"Aku janji tidak akan berurusan dengan Yoan lagi." Ucap Maudy. Ia akan menganggap Yoan memang penipu.


Agus diam. Maudy tidak bisa dipercaya.


"Pa, aku janji. Aku tidak akan mengganggu mereka." Maudy menangis terisak-isak.


"Sudah jangan menangis lagi. Papa akan pegang janji kamu." Agus pun memeluk putrinya.


"Kita akan cari Denis."


Maudy menggeleng. Ia tidak mau bertemu Denis lagi.


"Akan papa cebloskan dia ke dalam penjara!" Agus merasa sangat kesal. Seharusnya ia melakukannya dua tahun yang lalu.


Tapi saat itu ia sangat marah dan kecewa dengan sikap Maudy. Dan memutuskan untuk tidak mencari putrinya. Membiarkan Maudy pergi keluar negeri karena itu pilihan putrinya. Saat itu ia benar-benar sudah muak dan tidak mau peduli pada putrinya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


"Dara, Yoan mana?" tanya Mama tidak melihat Yoan ikut sarapan.


"Mas Yoan masih tidur, Ma. Mas Yoan akan sarapan nanti." Jawab Dara.


Mama mengangguk, lalu ia melihat Dara.


"Nak, kalian tadi malam ke mana?" tanya Mama penasaran. Mama mendengar dari pekerja rumah, bahwa Yoan dan Dara pulang saat tengah malam. Wajah putranya tampak emosi saat sampai rumah.


"Kalian tidak bertengkarkan?" tanya Mama khawatir. Mungkin Yoan jujur mengatakan pada Dara akan melakukan tes DNA anaknya Maudy. Dara marah dan kecewa mendengar itu lalu mereka bertengkar hebat.


Papa dan Mama menatap menantunya itu.


"Ka-kami ke rumah Maudy-"


"Apa??? Ngapain ke sana???" tanya Mama kaget. Yoan membawa Dara ke rumah mantannya.


"Dara, ada apa?" tanya Papa lembut. Ibu Yumi selalu berteriak, membuat Dara jadi ketakutan.


"Mas Yoan ti-tidak mau melakukan tes DNA. Mas Yoan juga sudah mengatakan pada orang tua Maudy, tentang siapa Ayahnya Jeri." Dara jadi bercerita.


"Siapa?" tanya Papa dan Mama kompak.


Dara bingung, apa harus menyebutkan nama?


"Ayahnya Jeri bukan Mas Yoan." Jelas Dara. Sepertinya mengatakan itu lebih aman.


"Terus siapa?"


Ternyata masih harus sebut nama juga.


"Denis." Yoan yang menjawab. Ia pun bergabung di meja makan.


Dara bangkit dan mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Terima kasih, sayangku." Yoan tersenyum bahagia. Istrinya memang sangat pengertian.


"Denis itu teman kuliahku, Maudy berselingkuh dengannya." Jelas Yoan intinya saja. Ia tidak mau menjelaskan secara detil. Seperti itu saja, ia yakin papa dan mamanya akan mengerti.


"Yoan..." Ucap Mama lembut. Ia merasa kasihan dengan putranya. Pantas saja setelah hari itu Yoan memutuskan bersemedi keluar kota.


"Pa, Ma... aku sudah tidak apa. Sekarang aku sudah bahagia. Ada istriku di sisiku. Dara, wanita paling aku cintai, paling pengertian dan perhatian. Aku beruntung memilikinya!" ucap Yoan merasa bersyukur. Dara sudah mengobati lukanya.


"Mas..." bisik Dara malu. Suaminya terlalu menggombal.


Papa dan Mama jadi senyum. Mereka ikut bahagia. Yoan sudah bahagia sekarang, jadi tidak perlu mengingat masa lalu.


Hoeek


Dara menutup mulutnya, ia merasa sedikit mual.


"Maaf." Dara merasa tidak enak hati. Ia malah mau muntah saat sedang makan seperti ini. Benar-benar sangat tidak sopan.


Mendengar suara mual, 3 pasang mata melihat ke arahnya. Dara merasa takut, mereka sepertinya marah padanya.


"Dara, kamu hamil?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2