KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 98 - PERIHAL JERI


__ADS_3

"Akhirnya kalian datang!" Mama menyambut Yoan dan Dara. Ia langsung memeluk Dara begitu turun dari mobil.


"Nak bagaimana? apa cucu Mama sudah ada?" bisik Mama dengan senyum mengembang.


"Belum, Ma." Jawab Dara lalu menyalami Mama.


Mama membawa Dara masuk dan meninggalkan Yoan yang sedang menurunkan koper.


'Astaga!!! Yang anak kandungnya siapa sih?!' Yoan jadi mendumel. Mama melupakannya begitu saja.


"Mama sudah masak banyak. Kamu mau makan?" Mama membawa Dara ke dapur. Dan meminta pekerja rumah menghidangkan makanan.


"Mama masak apa? Nanti Dara habiskan semua ya." Ucap Dara sambil tertawa.


"Habiskan saja. Nanti kalau kurang, Mama masakkan lagi." Wanita paruh baya itu mengelus kepala Dara.


Yoan tadi pagi sudah menceritakan tentang perbuatan Maudy itu. Yang membuat istrinya dihantui ketakutan. Jadi berniat menginap beberapa hari di rumah.


Mama kesal juga dengan sikap Maudy. Tapi karena itu, Yoan dan istrinya jadi kembali tinggal di rumah. Ia berharap Yoan dan Dara selamanya tinggal dengan mereka.


"Kamu nanti nggak perlu takut lagi. Ada Mama. Ada juga pekerja rumah yang lain." Mama menenangkan menantunya. Dara pasti sangat ketakutan saat itu sendirian di rumah.


"Ma, terima kasih. Maaf merepotkan." Dara merasa sedikit tidak enak hati.


"Tidak, sayang. Mama senang kalian tinggal di sini. Jadi Mama punya teman ngobrol."


Dara mengangguk. Ia senang mertuanya sangat welcome padanya.


"Ma, aku pergi sebentar." Ucap Yoan pamitan pada Mamanya. Ia memberi isyarat pada Mamanya.


"Hati-hati di jalan." Mama mengangguk mengerti.


"Sayang, aku pergi dulu ya." Ucap Yoan sambil menkecup kening Dara.


"Mas!" Dara merasa malu dan risih. Mama jadi senyum-senyum melihat mereka.


"Mas, mau ke mana?" tanya Dara kemudian.


"Aku mau ke kantor sebentar. Ada yang harus aku selesaikan. Kamu sama Mama ya." Yoan mengelus kepala Dara.


Dara melihati Yoan. Ia tidak yakin Yoan pergi ke kantor. Sepertinya Yoan akan pergi menemui Maudy dan sengaja tidak mengajaknya.


"Kamu tenang saja. Dara aman sama Mama. Sudah sana pergi!" Mama pun segera mengusir Yoan.


Yoan pun melangkah pergi. Dan Dara masih melihati suaminya yang berlalu pergi.


"Dara... Ayo dimakan." Ucap Mama menepuk pundak Dara pelan.


"Baik, Ma." Dara mengangguk. Ia akan percaya pada hati dan komitmen suaminya saja.


\=\=\=\=\=\=


"Jeri, ayo makan lagi!" Maudy sedang menyuapi putranya makan sambil menonton acara kartun.


"Gitu dong! pintar anak Mama ini!" Maudy senang melihat putranya yang sangat sehat dan menggemaskan.


Ting tong


Ting tong


"Ada yang datang. Bentar ya sayang, Mama buka pintu dulu!" Maudy meletakkan piring di meja dan bangkit untuk membuka pintu.


Saat membuka pintu, ia kaget melihat tamu yang datang. Tamu yang selalu bersinar.

__ADS_1


"Yoan!!!" Ucap Maudy riang. Yoan datang ke rumahnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Yoan tanpa basa basi.


"Ayo, masuk dulu. Sudah lama tidak datang kemari." Maudy akan memegang tangan Yoan. Tapi tidak jadi, mata pria itu sangat tidak bersahabat.


Yoan masuk ke rumah Maudy. Dan pandangannya langsung tertuju pada Jeri yang sedang menonton kartun.


"Yoan, aku buatkan minum sebentar!" Maudy harus menyambut tamu.


"Tidak perlu. Aku bertanya, apa yang kamu lakukan semalam di rumahku?" tanya Yoan dengan penuh penekanan.


"Se-semalam? Aku tidak ke mana-mana. Aku di rumah saja." Bohong Maudy memberi alasan.


"Ini apa?" tanya Yoan menunjukkan ponsel berisi rekaman wanita itu saat datang ke rumahnya dan lalu tak lama melempar kaca jendelanya. Semua terekam jelas.


'Astaga!!! Kenapa aku lupa, ada cctv di mana-mana?!' Maudy meruntuki kecerobohannya.


"Yoan!" ucap seorang pria paruh baya yang datang.


"Om, apa kabar?" tanya Yoan dan menyalami pria itu.


"Kabar Om baik." Jawab Papanya Maudy. Pria paruh baya itu tersenyum tipis. Walaupun Maudy sudah menyakiti Yoan, tapi pria muda itu masih sopan dengan mereka. Yoan memang pria berlapang dada.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Papa penasaran. Apa mungkin perihal Jeri?


"Begini Om. Maudy datang ke rumah saya dan membuat keonaran." Ucap Yoan sambil mengambil kembali ponselnya dari Maudy.


"Itu-itu tidak benar Yoan. Ada kesalah pahaman di sini!" Maudy masih berusaha membela diri.


Yoan memberikan ponsel pada pria paruh baya itu. Dan tak lama wajah Papa marah menatap sang putri.


"Maudy, apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Papa dengan nada tinggi. Ia tidak pernah mengajarkan putrinya untuk melakukan tindakan kriminal seperti itu.


"I-itu... Perempuan itu yang sangat sok dan sombong, Pa. Aku cuma memberinya pelajaran!" jawab Maudy akhirnya. Ia kesal dengan Dara dan meluapkan begitu saja.


Maudy tampak berpikir. Ia jadi bingung menjawab apa. Masa mau mengatakan kalau ia ingin merebut Yoan kembali dan membuat istrinya itu dicerai.


"A-aku cuma menyapa istrinya Yoan, Pa." Kembali Maudy beralasan.


Yoan menatap Maudy dengan tajam. Menyapa bagaimana? Jelas-jelas Maudy mengatakan niatnya pada Dara. Dan itu yang membuat mereka jadi berdebat.


"Om, tadinya saya mau menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum. Tapi, karena saya masih menghargai Om. Saya sangat berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Tapi, jika Maudy berbuat onar lagi. Saya tidak segan-segan menceblosannya ke dalam penjara dan-" Yoan menjeda ucapannya. Ia melihat wajah pria paruh baya itu dengan serius.


"... dan saya juga tidak akan segan dengan anda lagi! Jadi demi kelangsungan perusahaan anda. Nasehati Maudy agar tidak mengganggu rumah tangga saya lagi!" Jelas Yoan dengan tegas. Ia harus mengancam pria paruh baya ini. Agar bisa menasehati putrinya.


Papanya Maudy sedikit ciut. Meski Pak Dana terkenal baik hati, tapi putranya tidak. Yoan terkenal cukup menyeramkan.


"Yoan... aku cuma ingin kembali padamu. Aku masih sangat mencintaimu!" ucap Maudy akhirnya. Ia mengatakan niatnya itu.


"Tutup mulutmu!!!" tegas Papanya. "Kalau kamu masih mencintai Yoan, kenapa kamu meninggalkannya di hari pernikahan kalian? Katakan alasanmu, Maudy?"


Maudy mengerutu. Ia jadi salah bicara hingga memancing cerita masa lalu.


Yoan diam saja. Ia juga sedang menunggu apa alasan wanita itu. Apa Maudy berani mengatakan tentang anak itu?


"Sa-saat itu aku tidak yakin dengan Yoan. Tapi sekarang aku sadar, kalau aku mencintainya Pa." Jelas Maudy mulai menjatuhkan air matanya.


Papa menggeleng. Maudy sekarang terlalu banyak akting. Putrinya hanya pandai mencari alasan.


"Yoan, Om sangat menyesal dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi semalam. Tolong sampaikan maaf Om, atas sikap Maudy pada istrimu. Kedepannya Om akan menasehatinya." Pria paruh baya itu mengalah. Ia tidak mau mencari masalah dengan Yoan. Perusahaannya akan bangkrut total. Ia tidak mau itu terjadi.


"Baik, Om." Yoan mengangguk.

__ADS_1


"Oh iya, Yoan. Apa Jeri anak kamu?" tanya Papa memastikan. Meski ia sedikit takut dengan kekuasaan keluarga Yoan, tapi ia harus mencari keadilan atas cucunya.


Walau tidak mungkin Maudy akan bersama Yoan. Setidaknya Jeri harus diakui keluarga itu.


"Jeri?" Yoan terlihat bingung. Ia tidak tahu Jeri siapa.


"Papa!" Maudy menggelengkan kepala. Ia tidak mau papanya menanyai Yoan perihal putranya.


"Jeri anaknya Maudy. Ia berumur setahun lebih. Kalian pernah punya hubungan sebelumnya, apa saat itu kalian sudah...?" tanya Papa pelan. Yoan pasti mengerti maksud perkataannya tanpa mengatakan secara detil.


Maudy diam. Ia meremas tangannya sendiri. Rasa takut menguasainya.


"Maudy, apa kamu belum mengatakan pada mereka perihal anak itu?" tanya Yoan dengan sorot mata tajam. Maudy mau menjadikannya alasan.


Papa jadi bingung, Yoan malah bertanya seperti itu. Seolah ia tahu tentang Jeri, bahwa Jeri bukan anaknya.


"Maudy, apa yang kamu rahasiakan?" tanya Papa kembali memelototi putrinya.


Maudy memilih bungkam. Ia bingung harus menjawab apa.


"Om dapat bertanya langsung pada Maudy. Dia yang lebih tahu itu anak siapa-"


"Jeri anakmu Yoan! Jeri anakmu!" Maudy memotong ucapan pria itu.


Yoan mendengus, ia menggeleng melihat Maudy. Mengatakan Jeri itu anaknya. Anak dari mana?


"Yoan..." Papa pun melihat ke arah Yoan. Putrinya mengatakan seperti itu. Siapa yang berbohong di sini?


"Maudy, jangan berbohong! Om, Jeri bukan anakku-"


"Tidak, Pa. Jeri anak Yoan. Kami saat itu telah melakukannya." Sela Maudy tidak mau kalah.


"Maudy!!!" bentak Yoan tidak terima. "Kita memang pernah bersama, tapi kamu tahu dengan jelas. Aku tidak pernah menyentuhmu!" tegas Yoan kembali.


"Yoan jangan berbohong!"


"Kamu yang seharusnya jangan berbohong!"


"Yoan, akuilah Jeri anak kamu!"


"Astaga!!!" Yoan mengusap wajahnya kasar. "Om... aku berani bersumpah, Jeri itu bukan anakku. Aku tidak pernah menyentuh Maudy!" tegas Yoan kembali. Ia tidak melakukan se-k sebelum menikah.


"Yoan bohong, Pa!!!" Maudy mengucapkannya dengan air mata yang mengalir.


"Maudy, seharusnya kamu bilang kalau-" Yoan merasa tidak bisa mengatakannya. Mengatakan hal yang sebenarnya. Seharusnya Maudylah yang jujur dengan orang tuanya.


"Maudy... kalau kamu tidak mau mengatakan pada kedua orang tuamu, itu terserahmu. Tapi, jangan pernah bawa-bawa aku!" jelas Yoan kembali mengingatkan.


"Aku tidak mau membuka aibmu." Yoan menatap tajam ke arah Maudy.


"Om, saya harap anda mengerti! saya permisi." Yoan pun melangkah pergi meninggalkan rumah itu.


"Yoan!!! Yoan!!!" Maudy memanggilinya. Ia tidak terima Yoan pergi begitu saja.


Plak


Satu tamparan melayang ke pipi Maudy. Papa sangat kesal sekali.


"Maudy, jangan berbohong lagi! Katakan sejujurnya, Jeri anak siapa?"


"I-itu Yoan, Pa..."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2