
"Yoan, bangun!!!" Mama membangunkan putranya yang masih bergumul dalam selimut. Hari sudah siang dan Yoan masih betah tidur.
"Ma, aku masih ngantuk!" Yoan kembali menutup dirinya dengan selimut.
"Anak ini!!!" Mama pun membuka gorden jendela. Membiarkan cahaya matahari masuk.
"Yoan, cepat bangun. Kamu belum makan siang."
"Aku sudah sarapan, ma.."
"Ayo bangun!" Mama menarik selimut Yoan. "Ini sudah pukul 1, kamu harus temui Veronika. Kasihan dia sudah nunggu kamu."
"Aku nggak mau!"
"Bangun!!!" Mama pun menarik paksa Yoan agar bangkit dari tempat tidur empuknya. Dan dengan terpaksa pria itu bangkit dan melihat sang Mama dengan wajah kesal.
Tak lama, Mama di ruang tamu sedang menelepon.
"Sebentar lagi Yoan sampai. Dia sudah pergi ke tempat janjian kalian. Tunggu dia sebentar lagi ya..."
Setelah selesai menelepon, Mama kembali berjalan ke lantai 2. Menuju kamar putranya. Ini sudah pukul 3 dan Yoan belum keluar juga dari kamarnya.
"Yoan!!!" Mama mengetuk pintu kamar.
"Kamu ini ya. Kasihan anak orang nunggu dari jam 1." Begitu masuk Mama memarahi putranya.
"Nggak ada yang menyuruh dia menunggu, Ma." Jawab Yoan santai.
"Yoan!!!" Tanduk Mama seakan sudah keluar.
"Baiklah baiklah. Aku pergi!"
"Temui dia. Awas kalau kamu pergi ke tempat lain. Mama masukkan lagi kamu dalam perut!!!" Ancam wanita paruh baya itu.
Bukannya takut, Yoan malah tersenyum. Ada-ada saja ancaman Mamanya.
"Aku pergi, Ma." Pria itu pun menyalami Mamanya.
Setelah menempuh perjalanan selama sejam Yoan sampai di sebuah kafe.
'Ibu Yumi!!!' Yoan membatin, Mamanya meneleponnya lagi.
"Halo, Ma."
"Yoan, kamu di mana? Kenapa belum sampai? Jangan bilang kamu pergi ke tempat lain?!"
"Mama, aku baru sampai."
"Apa?" Pekik Mama kesal. "Kenapa lama sekali? 15 menit seharusnya kamu sudah sampai!" Mama mendengus kesal. Jarak rumah mereka dengan kafe tidak terlalu jauh.
"Macet, Ma." Alasan Yoan. Padahal ia mengendarai mobilnya dengan begitu lambat. Seperti kura-kura.
"Kamu macet di mana?" Mama menggelengkan kepala. Ke kafe itu tidak ada melewati lampu merah.
"Simpang, Ma. Banjir di sana, Ma."
Mama menghembuskan nafasnya kesal. Yoan banyak alasan. "Sudah cepat kamu masuk sana. Kasihan dari jam 1 dia nunggui kamu loh."
__ADS_1
Sekarang sudah pukul 4 sore. Berarti sudah 3 jam, Veronika menunggu di sana.
'Ibu Yumi bawel!' Yoan melihat ponselnya yang sudah gelap. Mamanya sudah mengakhiri panggilan mereka.
Dengan malas, Yoan turun dari mobilnya setelah memarkirkan di depan kafe tersebut.
Pria itu melihat-lihat sekitar dan wajahnya langsung tersenyum saat melihat seseorang yang berada di depan pintu kafe.
'Dara!'
Yoan mengucek matanya, mana tahu penglihatannya salah. Dan benar wanita itu memang Dara. Wanita yang akan dijodohkan tante Lydia dengan Malik. Wanita yang satu pesawat dengannya saat pulang
Pria itu pun berjalan akan menghampiri Dara. Tapi, langkahnya terhenti.
"Maaf, aku lama. Toiletnya ngantri."
"Iya, nggak apa."
Seorang pria keluar dari kafe itu dan berbicara dengan Dara. Pria itu, pria yang sama yang menjemput Dara di bandara. Pria yang akan menikah dengan Dara bulan depan.
'Yoan!!! Jangan merusak hubungan orang lain!!!' Pria itu meyakinkan dirinya. Dara akan menikah, tak baik menjadi orang ketiga.
Yoan pun kembali melangkahkan kaki untuk masuk ke kafe, menemui wanita yang dijodohkan Mamanya. Mata Yoan melihat Dara yang berjalan beriringan dengan pria itu, saat melewatinya.
Yoan memasuki kafe tersebut. Tiba-tiba langkah kakinya berubah haluan.
\=\=\=\=\=\=
"Kamu suka menonton film apa, Dar?" Tanya Rehan dalam perjalanan.
"Apa saja." Jawab Dara.
"Nggak juga."
"Habis kamu kalau mengobrol singkat-singkat saja."
Dara jadi tersenyum tipis. Ia memang mengobrol singkat, padat dan jelas.
Tak lama Rehan membawa Dara ke bioskop. Pria itu tersenyum pada Dara. Ia sedang mengantri membeli tiket dan menyuruh Dara menunggu. Tak mau membuat Dara ikut berdesak-desakkan mengantri.
"Mbak, pesan 2 tiket." Ucap Rehan pada kasir.
"Silahkan dipilih tempat duduknya."
Rehan pun menekan layar untuk memilih tempat duduk yang nyaman. Dari belakang seorang pria memperhatikan.
'Yes!' Yoan bersorak gembira saat berada di dalam bioskop. Ia duduk bersebelahan dengan Dara.
Pria itu merogoh ponsel dalam saku yang terus berdering. Ia segera mengheningkan suara. Mamanya dari tadi terus meneleponnya.
'Cantik!' Puji Yoan memandangi wanita di sebelahnya.
Rehan yang berada di samping sisi yang lain, menyadari tatapan pria di samping Dara.
"Dar, mau bertukar tempat duduk?" Tanya Rehan melirik Yoan yang segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Pria di samping Dara itu, jelas sekali sedang memandangi calon istrinya.
"Tidak. Aku di sini saja." Jawab Dara.
__ADS_1
Tiba-tiba ruangan gelap. Film akan segera diputar. Dara membenarkan posisi duduknya, ia akan menikmati film.
Dara menikmati film, tapi tidak dengan dua pria di sisi wanita itu.
Yoan bukan melihat layar di depannya. Tapi malah memandangi wanita di sampingnya. Walau sedikit gelap dan remang, tapi dalam pandangan Yoan. Dara begitu bercahaya.
Dan Rehan, pria itu terus menerus menghembuskan nafasnya pelan. Pria di samping Dara. Terus memandang kagum calon istrinya.
Tangan Rehan perlahan terulur akan memegang tangan Dara. Perlahan mendekat dan semakin mendekat.
Walau gelap, mata Yoan melihat pergerakan yang seperti cicak. Diam-diam merayap.
"Maaf, Mbak. Tiket ini memang film ini ya?" Tanya Yoan pelan sambil menunjukkan tiketnya.
Rehan yang sedikit lagi akan memegang tangan Dara, jadi kesal. Tangan wanita itu malah mengambil tiket pria di sampingnya.
"Benar. Tiketnya untuk film ini." Dara mengangguk dan mengembalikan tiket tersebut setelah melihatnya.
"Terima kasih, aku kira salah masuk kamar-"
Dara melihat pria itu dengan wajah aneh.
"Mak-maksudku ruangan, aula, gedung atau apa ya namanya?" Yoan membenarkan perkataannya dengan gugup.
Dara merasa aneh dan tidak nyaman dengan pria di sampingnya. Ia pun sedikit menjaga jarak.
Setelah selesai menonton. Dara dan Rehan keluar dari bioskop. Mereka berjalan beriringan.
"Kamu mau ke mana lagi?" Tanya Rehan sambil mengarahkan pandangan ke sekitar. Matanya tertuju pada seorang pria yang tiba-tiba berhenti.
"Pulang saja ya." Jawab Dara. Sudah lumayan lama mereka keluar.
"Baiklah. Lewat sini saja." Ajak Rehan. Rehan merasa pria di bioskop tadi mengikuti mereka. Jadi sengaja berbelok arah, memastikan apa memang benar diikuti.
"Kamu haus? Kita beli minum ya."
"Tidak usah."
Rehan hanya tersenyum dan membawa Dara menuju booth penjual minuman.
"Tunggu sebentar ya." Ucap Rehan setelah memesan. Ia melihat pria itu berdiri tak jauh dari mereka, sambil memegang ponsel.
Tak lama, minuman pesanan pun selesai. Rehan memberikan pada Dara. Lalu mereka berjalan akan ke luar Mall, menuju parkiran.
Rehan kembali melihat ke belakang dan benar saja pria itu masih mengikuti mereka. Apa mau pria itu?
"Dar, aku mau ke toilet sebentar. Kamu tunggu di sana saja. Jangan ke mana-mana! Aku sebentar saja." Ucap Rehan sambil menunjuk bangku-bangku yang tersedia di Mall tersebut.
Dara pun mengangguk dan menuju bangku-bangku itu yang berada tak jauh darinya.
Rehan berbalik arah dan berjalan menghampiri pria yang mengikuti mereka.
"Apa anda penguntit?"
.
.
__ADS_1
.