
Malam itu, Yoan melihat-lihat galerinya. Ada banyak foto dia dan Maudy.
'Kenapa kamu sekarang sangat agresif? Sabar ya, sayang. Semua ada waktunya. 2 bulan lagi!' batin Yoan memandangi wajah Maudy dalam layar ponselnya.
Ting
Satu notifikasi tertera di atas layar ponsel Yoan.
Maudy: aku akan ke apartemenmu
'Apartemen?' batin Yoan merasa aneh. Maudy menyuruhnya mendatangi apartemen yang akan mereka tempati?
Yoan menggeleng. Maudy memang sangat tidak sabaran sekali.
Yoan tidak membuka pesan yang dikirim Maudy. Biarkan saja wanita itu meneleponnya. Dan nanti Yoan akan mengingatkannya pelan-pelan. Jika tidak boleh seperti itu.
10 menit telah berlalu. Tak ada pesan atau panggilan masuk. Yoan pun membuka pesannya. Tapi ternyata pesan yang dikirim Maudy telah dihapus.
'Apa dia marah?' Yoan tersenyum geli. Maudy menghapus pesannya.
Yoan berinisiatif menelepon Maudy, tapi nomor wanita itu sedang tidak aktif. Pasti Maudy benar-benar marah padanya.
Yoan pun memilih menghubungi papanya Maudy.
"Halo, Om selamat malam... Maudynya ada?" tanya Yoan saat panggilan tersambung.
"Maudy baru pergi." Jawab Agus memberitahu.
'Pergi?' Yoan jadi menerka-nerka. Apa Maudy ke apartemen mereka?
"Pergi ke mana, Om?" tanya Yoan kembali.
"Katanya ke rumah temannya."
"Baiklah, Om. Maaf sudah menganggu waktunya."
"Tidak apa."
Yoan telah mengakhiri panggilan. Ia pun bangkit dan bersiap. Ia akan menyusul Maudy ke apartemen mereka. Dan membawanya pulang.
Selang 20 menit kemudian. Yoan sampai di apartemennya. Ia tidak melihat Maudy menunggu di depan pintu. Yoan pun memilih masuk dan akan menunggu di dalam saja.
Kembali Yoan menelepon Maudy lagi. Tapi ponselnya masih tidak aktif.
Yoan berdiam di apartemen itu, ia akan menunggu Maudy. Mungkin saja calon istrinya masih di jalan.
Waktu berlalu begitu cepat. Yoan melihat jam dinding sudah jam 12 malam. Sepertinya tidak mungkin Maudy akan datang.
Yoan kembali menelepon Maudy dan masih saja nomornya tidak aktif. Mau menelepon Om Agus, sudah tengah malam begini, sangat tidak sopan menganggu waktu istirahat orang tua.
Yoan akan keluar saja dari apartemennya, ia akan pulang. Besok saja ia akan menelepon Maudy kembali, pasti nomor Maudy sudah aktif.
Tapi Yoan mendudukkan diri kembali ke sofa sambil menyandar.
Entah mengapa perasaan Yoan tidak tenang. Ia tidak bisa menunggu sampai pagi. Ia menelepon seseorang.
"Saya minta lokasi nomor ponsel seseorang sekarang."
...
"Baiklah, akan saya kirimkan nomornya." Yoan memilih melacaknya saja. Memastikan jika lokasi Maudy sudah sampai rumah, maka ia akan tenang.
Setelah mengakhiri panggilan, Yoan mengotak atik ponselnya.
Sekitar 5 menit ponsel Yoan masuk pesan.
08xx: Apartemen flower? lantai 19 unit 19.
'Apa rumah temannya?'
Yoan bingung lokasi Maudy bukan di rumah, melainkan di sebuah apartemen. Pikiran Yoan sudah bercabang, ia pun memastikan kembali dengan kembali menghubungi seseorang.
"Siapa pemilik apartemen itu?" tanya Yoan begitu ponselnya terhubung. Ia penasaran siapa teman Maudy.
"Denis Alvaro."
"Denis Alvaro?" Yoan sangat kaget mendengar informasi itu.
Maudy berada di apartemen temannya itu? Ada apa?
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir, Yoan pun pergi. Ia akan memastikan sendiri. Maudy dan Denis, apa mereka memiliki hubungan seperti yang ada dipikirkannya?
5 menit berlalu, Yoan sampai di apartemen itu. Ia cepat sampai, karena jalanan sepi dan juga ia mengemudikan mobilnya dengan kencang.
Yoan dicegat security saat memaksa masuk.
"Maaf, Pak. Anda mau bertemu siapa?" tanya security yang berjaga.
"Saya mau bertemu teman." Ucap Yoan. Ia mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang.
Dan tak lama... Yoan pun masuk ke area apartemen. Ia pun menuju unitnya Denis.
Yoan menghembuskan nafasnya berkali-kali. Ia sekarang sudah berada di depan pintu. Ia harus tenang.
Bel pintu Yoan tekan. Dan seorang pria membukanya.
"Yoan!" ucap Denis membelalakkan matanya. Ia mengira kurir tenyata Yoan yang datang.
"Sayang, apa makanan kita sudah sampai?" tanya Maudy yang menyusul Denis.
"Yo-Yoan!" Maudy kaget bukan main. Yoan memergoki perselingkuhan ini.
"Kenapa kamu bersama Denis?" tanya Yoan sambil melangkah masuk. Ia ingin mendengar penjelasan wanita itu.
"I-ini bukan seperti yang kamu lihat Yoan." Jelas Maudy yang takut. Mata Yoan merah dan sangat menyeramkan.
"Benar, Yoan. Aku dan Maudy hanya berteman." Denis memberi alasan juga.
Yoan mendecih. Ia pun meninju wajah Denis. Hatinya sangat sakit, calon istrinya itu bermain dengan temannya.
"Katakan sejak kapan kalian bersama?" tanya Yoan yang menghajar Denis. Ia meluapkan kekesalannya.
"Yoan stop!!! Stop!!!" Maudy sangat ketakutan Denis dipukuli Yoan.
"Stop Yoan!!! Aku yang salah, jangan pukul dia lagi!!!" Maudy membela Denis.
Yoan kembali berdecih. Maudy sampai menangis melihat Denis babak belur.
"Kamu tidak apa-apa!" Maudy memegangi wajah Denis yang sudah benyok. Lalu ia bangkit dan melihat Yoan. Ia perlu mempertegas hubungan ini.
"Yoan, maaf selama ini aku tidak pernah mencintaimu. Aku mencintai Denis. Aku sangat mencintainya..."
\=\=\=\=\=\=
Yoan juga sudah mencari tahu, ternyata Maudy sudah bermain di belakangnya, sekitar 6 bulan yang lalu. Dan ia sama sekali tidak menyadarinya.
Yoan meremas tangannya sendiri. Ia juga kesal sudah berpikir Maudy mempergunakan uang di atmnya dengan benar. Ternyata Maudy memberikan pada Denis dalam bentuk tunai.
Pikiran Yoan sangat pusing dan bingung. Bagaimana cara menjelaskan semua pada kedua orang tuanya? Pernikahan mereka akan batal.
Dan Maudy. Dari pihak keluarganya tidak ada berbicara apapun. Mereka sibuk mengurus pernikahan. Apa Maudy juga tidak mengatakan hal apapun pada orang tuanya?
Sementara di apartemen Denis. Maudy memeluk Denis sambil menangis.
"Sudahlah, Maudy. Kita tidak bisa bersama lagi." Ucap Denis. Semenjak Yoan memergoki mereka. Maudy tidak pernah memberikannya uang. Atm yang dipegang Maudy, sudah diblokir yang punya.
"Jangan begitu!!! Aku sangat mencintaimu!" mohon Maudy.
"Maafkan aku Maudy. Kita tidak bisa bersama lagi. Aku merasa bersalah pada Yoan." Alasan Denis. Ia tidak membutuhkan Maudy lagi.
"Denis!!! Denis!!!" Maudy menangis memanggili pria itu yang sudah masuk ke kamar.
\=\=\=\=\=\=
Yoan menemui Maudy untuk membahas masalah mereka. Dari Yoan, ia mau Maudy yang membatalkannya. Tapi dari Maudy, ia meminta Yoan yang membatalkannya. Lantaran Maudy takut dengan papanya.
Pria itu menghembuskan nafas yang terasa sangat berat.
"A-apa kamu masih bersama Denis?" tanya Yoan menatap wanita yang masih sangat dicintainya itu.
Maudy menggeleng. "Hubungan aku dan Denis sudah berakhir." Matanya berkaca-kaca.
Kepala Yoan mengangguk. Lalu ia meraih Maudy dalam pelukannya. Hal itu membuat Maudy jadi kebingungan.
"Maudy, kembalilah padaku! Aku akan menganggap hal itu tidak pernah terjadi. Aku berjanji dan berusaha menjadi seperti yang kamu mau." Ucap Yoan dengan suara yang sedikit bergetar.
Maudy merasa bersalah pada Yoan. Yang masih mau bersamanya, padahal ia sudah berselingkuh.
Yoan dan Maudy kembali dekat lagi. Mereka sibuk mengatur persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan seminggu kemudian.
__ADS_1
"... Yoan, bagaimana ini? aku hamil!" ucap Maudy pelan. Ia sedang berada di dalam mobil.
"Apa?"
"A-aku hamil anaknya Denis." Jelas Maudy kembali. Air matanya berlinang. Selama berhubungan, Denis selalu pakai pengaman. Tapi, mengapa seperti ini.
"Yoan, aku harus minta pertanggung jawaban Denis." Maudy tidak bisa melepaskan Denis begitu saja.
Yoan pun menemani Maudy menemui Denis.
Maudy mengatakan tentang kehamilannya. Dan Denis tidak terima, malah menuduh jika Yoan yang menghamili Maudy.
Yoan yang marah pun menghajar pria itu habis-habisan. Tapi tetap saja, Denis tidak mengakuinya. Dan malah menyuruh Maudy untuk melakukan aborsi. Sesimpel itu pikiran Denis.
"Yoan, bagaimana ini?" Maudy menangis menyesali dirinya. "Aku hamil. Kita harus membatalkan pernikahan kita."
Maudy merasa tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan Yoan. Karena adanya anak ini. Banyak yang menjadi pertimbangannya, salah satunya keluarga Yoan.
"Tenanglah. Kita tetap akan menikah." Yoan menggenggam tangan Maudy menenangkan.
"Aku akan tetap menikahi kamu dan menerima anak ini!" Yoan akan menerima Maudy, apapun keadaan wanita itu.
"Tidak, Yoan. Tidak bisa seperti itu!" Maudy menggeleng tidak terima. Yoan terlalu baik. Pria itu tidak pernah menyentuhnya, tapi malah mau bertanggung jawab atas perbuatan pria lain.
"Bisa! Maudy, karena aku mencintaimu. Percaya padaku! Kita akan tetap menikah!" tegas Yoan kembali. Rasa cintanya pada Maudy, membuatnya menerima apapun keadaan wanita itu.
"Tidak bisa! Bagaimana nanti tanggapan orang tuamu?"
"Mereka tidak akan tahu. Aku akan merahasiakan!" Yakin Yoan. Perut Maudy masih rata dan pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi. Tak ada yang akan curiga.
Yoan terus meyakinkan Maudy, bahwa ia akan menerima dan menyayangi anak Maudy seperti anaknya sendiri. Mengubur dan melupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu.
Maudy dapat merasakan ketulusan perasaan cinta Yoan padanya. Ia saja yang selama ini, tidak pernah menyadarinya.
Saat hari itu tiba, hari pernikahan. Yoan tampak berwajah tegang dan gugup. Perasaannya mulai tidak tenang. Sudah pukul 9 pagi, dan keluarga pihak perempuan belum datang ke aula pernikahan.
Yoan mencoba menelepon, nomor ponsel Maudy sudah tidak aktif. Menelepon orang tua Maudy juga tidak diangkat.
"Sabar, sayang. Mereka mungkin kena macet." Ibu Yumi menenangkan putranya. Wajah Yoan sangat tegang sekali.
"Om, Tante..." Yoan melihat orang tua Maudy yang memasuki aula.
"Mana Maudy?" tanya Yoan menghampiri. Pikirannya sangat tidak tenang. Calon istrinya tidak terlihat bersama mereka.
Di mana Maudy?
Ada apa ini?
Apa terjadi sesuatu pada Maudy?
"Ma-maaf, Yoan. Maudy pergi dan meninggalkan pesan ini. Kami sudah mencarinya ke mana-mana." Agus juga frustasi dengan kelakuan putrinya. Malah kabur di hari penting seperti ini.
Yoan, maafkan aku.
Aku tidak pantas untukmu...
Maafkan aku...
Yoan mengusap wajahnya, ia pun menelepon Maudy. Panggilannya tersambung.
"Halo, maudy kamu di mana?"
Yoan memohon dan membujuk Maudy untuk kembali. Ia tidak akan mempermasalahkan anak itu dan masa lalu Maudy. Mereka akan kembali membuka lembaran baru.
Tapi, Maudy tetap merasa tidak layak untuk Yoan. Ia tidak bisa membiarkan Yoan menerima dirinya dengan kondisi seperti sekarang ini.
Maudy tetap tidak mau meneruskan pernikahan. Dan Yoan tetap menunggunya. Berharap Maudy kembali padanya.
Hingga tengah malam tiba, Yoan masih di aula pernikahan itu. Menunggu Maudy datang, tapi wanita itu tidak datang.
Yoan mendapat kabar jika Maudy terbang keluar negeri hari itu juga. Ia lebih memilih mengejar Denis.
Ya, Maudy lebih memilih bersama Denis dan mengabaikan semua perasaannya.
'Aku benar-benar bodoh!!!'
.
.
__ADS_1
.
Poor YoanðŸ˜