
"Apa tante kenal sama mas Yoan?" tanya Dara melihat ekspresi kedua paruh baya itu, yang tampak tegang.
"Kami-"
"Dara, kami pasti akan datang ke pernikahan kamu." Om Leo segera memotong perkataan istrinya. Ia tak mau istrinya nanti mengatakan hal yang lain. Dara saja sudah memanggil Yoan dengan sebutan mas. Hubungan mereka pasti sudah sangat dekat.
"Papa!" Lydia berbisik melihati suaminya yang menyela.
"Sudahlah!" Leo menganggukkan kepala. Membuat Lydia terpaksa menurut. Padahal ia ingin mengatakan pada Dara, untuk membatalkan pernikahan dengan Yoan. Dan menikah dengan putranya saja. Yakni si Malik.
Memang terkesan sangat egois. Tapi, Lydia tidak rela Dara menjadi istrinya Yoan dan menantu Abangnya itu. Padahal Dara menantu impiannya.
'Malik pun! Dulu Dara masih sendiri malah menolak, kini Malik sudah menurut, Daranya akan menikah dengan si Yoan tukang tikung itu! Kasihannya putraku!' Batin Lydia yang sedih jika nanti Malik kecewa. Malik sudah mau menurut, tapi kenyataannya begini.
Beberapa saat, setelah mengobrol. Dara pamitan. Hari sudah sore, ia sudah janjian akan bertemu Yoan sore ini.
Dara berpamitan pada mereka. Tante Lydia memeluk Dara.
Hati Lydia masih tidak terima. Dara akan menikah dengan ponakannya.
"Om sama Tante, harus datang ke pernikahan Dara. Dara tunggu loh!" Ucap Dara mengingatkan kembali.
"Kami pasti datang!" ucap Om Leo sambil tersenyum. Anak abang iparnya, yakni keponakannya juga yang akan menikahi Dara. Mana mungkin mereka tidak datang. Mereka saja datang keluar kota, untuk menghadiri pernikahan Yoan.
Ya, walau kecewa Dara akan menikah. Tapi Leo berbesar hati. Namanya juga bukan jodoh.
Tante Lydia tidak menjawab. Jika ia tidak datang ke pernikahannya Yoan, abangnya pasti akan marah. Belum lagi kakak iparnya itu, akan merepet panjang kali lebar.
Tapi untuk melihat Yoan bersanding dengan calon menantu impiannya. Rasanya Lydia sangat tidak rela.
"Om, Tante... Dara pamit dulu ya. Terima kasih buat ole-olenya. Sampai jumpa lagi."
"Iya... hati-hati ya, Dara." Om Leo yang menjawab. Ia melirik istrinya yang diam saja. Seperti mendumel dalam hati.
Dara mengangguk lalu ia beranjak pergi, membawa bungkusan ole-ole pemberian tante Lydia.
Dara berjalan menuju halte yang tidak jauh dari kafe tersebut. katanya Yoan sudah menunggu di sana. Karena parkiran kafe sangat padat sekali. Mobilnya tidak bisa masuk.
'Padat apanya?' batin Dara saat melewati parkiran. Hanya ada beberapa mobil yang terparkir di sana.
Dara berjalan di trotoar. Ia tersenyum tipis melihat mobil Yoan di dekat halte.
'Kenapa aku tersenyum?' Dara menetralkan wajahnya kembali. Ia tidak boleh tersenyum, walau itu hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Langkah kaki Dara terhenti, saat matanya terpaku melihat seorang pria yang berjalan ke arahnya.
Tampan, gagah, cool, berkharisma dan tampak begitu bersinar.
"Sayang!" panggil pria itu menggerakkan tangannya. Dara malah melamun di pinggir jalan.
"Hah i-iya!" Dara gugup, lagi-lagi ia terpaku pada pesona calon suaminya itu.
"Apa yang kamu bawa?" Yoan mengambil bungkusan Dara, lalu tangan lainnya menggenggam tangan Dara.
"I-itu... Ole-ole." Jawab Dara menenangkan kegugupannya.
Yoan membuka pintu mobil dan mempersilahkan Dara naik. Lalu bungkusannya di letak di kursi belakang.
"Kita mau ke mana?" tanya Yoan setelah duduk dan memasang sabuknya.
"A-aku lapar, Mas." Ucap Dara malu. Tadi saat bertemu tante Lydia, ia hanya memesan minuman.
"Baiklah!" Yoan mengangguk. Ia pun melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah restauran mewah. Dara sudah menolak, tapi Yoan tetap memaksanya juga.
"Ini untuk kamu!" Yoan memberikan piring berisi steik yang telah di potongnya.
"Sayang, apa kamu terlalu terpesona padaku?" ledek Yoan yang melihat Dara terus menatapnya.
Dara segera melahap makanannya. Ia menghindari kepedean Yoan itu. Ia jelas-jelas sedang berpikir, bukan terpesona padanya.
"Jadi tadi bagaimana ketemu dengan pelanggan setia kamu?" tanya Yoan disela makannya. Ia ingin tahu ceritanya.
"Ya, ngobrol-ngobrol sebentar Mas." Jawab Dara sekenanya.
"Terus?" tanya Yoan masih penasaran. Mungkin tante Lydia sudah mengatakan maksudnya menemui Dara. Mungkin saja, tantenya itu meminta Dara membatalkan pernikahan. Atau begini begitu dan bla bla bla...
"Ya, cerita-cerita gitu. Mereka akan berada di sini sampai awal bulan depan. Karena anak saudaranya akan menikah di awal bulan." Jelas Dara sesuai apa yang dikatakan tante Lydia.
"Oh." Yoan mengangguk. Memang papanya menyuruh tantenya itu ke rumah, karena pernikahannya.
"Mereka sangat baik padaku, saat aku masih di luar kota." Ucap Dara mengingat kebaikan tante Lydia dan om Leo padanya.
"Mereka bahkan sempat mau menjodohkan aku dengan putra mereka, Mas." Dara memberitahu.
"Oh ya?" Yoan menatap Dara. Dara mengingat Malik. Apa juga wanita ini mengingat dirinya?
__ADS_1
"Iya, tante Lydia selalu mau menjodohkan aku dengan putranya. Aku sempat bertemu putranya, sebelum pulang kemari. Dia itu sangat menyebalkan sekali!" Oceh Dara yang kesal dengan putranya tante Lydia.
Yoan terbengong sesaat. Dara mengoceh panjang padanya. Sebuah kemajuan yang baik.
"Ma-maaf!" sadar Dara yang jadi malu.
"Lalu? Lanjutkan ceritanya, aku ingin dengar." Yoan mengelus kepala Dara.
"Itu... putranya tante Lydia mengatakan kalau aku pakai-pakai pelet. Saat itu aku malu banget, dia bicara sembarangan seperti itu. Mana dia datang bawa kawan lagi." Dara cukup kesal dan malu saat itu.
Yoan masih mendengarkan cerita Dara.
"Tapi baguslah aku nggak ketemu putranya tante Lydia lagi, padahal tadi aku ngira dia datang juga." Dara cukup lega, putranya tante Lydia tidak ikut.
"Terus kamu pernah ketemu temannya itu lagi?" tanya Yoan penasaran.
Dara menggeleng cepat. "Janganlah ketemu dia lagi. Aku malu!"
Yoan menghembuskan nafas pelan. Wanitanya benar-benar tidak mengingat dirinya.
"Oh iya, Mas. Aku mengundang mereka di pernikahan kita. Nggak apa kan?" tanya Dara meminta izin. Tadi ia menceritakan jika pelanggan setianya dulu akan menjodohkannya, mungkin Yoan akan keberatan.
"Iya, tidak apa-apa!" Yoan mengangguk. Tidak diundang pun, tante Lydia dan om Leo juga akan datang. Nanti baik Dara maupun tantenya pasti sama-sama akan terkejut saat bertemu di hari H pernikahan.
"Hampir lupa, ini undangannya." Dara mengeluarkan seikat undangan dari tas untuk keluarga Yoan.
Pria itu tersenyum saat melihat foto mereka di kertas undangan. Mereka begitu sangat cocok dan serasi. Seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta.
Tapi tunggu dulu, Yoan tampak berpikir. Sepertinya masih ada yang mengganjal di pikirannya.
"Sayang, tadi kamu memberikan surat undangan ini pada tante Lydia?" tanya Yoan memastikan.
Dara mengangguk pelan. "Benar, Mas. Aku mengundang mereka ya harus memberi undanganlah."
"Apa???"
Dara merasa aneh melihat ekpresi wajah Yoan yang sangat panik.
.
.
.
__ADS_1