
Dara masuk ke kamar. Wajahnya sudah merah padam, ia sangat malu dengan keluarga barunya. Yoan telah mengerjainya.
"Sayang..."
Dara menoleh ke arah pintu. Melihat Yoan, ia pun membuang wajahnya.
"Sayang, maafkan aku ya." Yoan merasa bersalah. Istrinya pasti sangat malu. Padahal seperti itu kan wajar bagi pasangan yang sudah menikah.
Dara diam saja, ia membuka sepatu olahraga dan meletakkan di pinggir tembok. Lalu masuk ke kamar mandi. Ia akan membersihkan diri saja.
"Sa...yang..." panggil Yoan mengetuk-ngetuk pintu pelan. Sebenarnya Yoan sedikit geli, istrinya tidak mengerti istilah seperti itu. Dara benar-benar sangat polos. Dan kepolosannya itu sangat imut dan menggemaskan.
Setelah beberapa saat, Dara keluar dari kamar mandi. Ia sudah berganti pakaian olahraga dengan baju tidur. Ia melihat Yoan di samping pintu kamar mandi dan kembali Dara membuang mukanya. Masih merasa sangat kesal dengan keisengan suaminya.
"Sayang, jangan marah dong!" Yoan menghampiri dan memeluk Dara dari belakang.
"Sayang, maafkan suamimu yang tampan ini ya." Pria itu kembali meminta maaf dengan tulus.
Dara jadi mendengus, bisanya Yoan meminta maaf sambil tetap pede membanggakan diri. Ia lalu berusaha melepas pelukan itu, tapi Yoan malah semakin mengeratkannya.
"Sayang, aku tadi siang hanya ingin becanda sama kamu. Aku sungguh tidak tahu ternyata kamu malah menanggapinya dengan serius." Yoan merasa bersalah, walaupun kadang merasa lucu juga.
"Dara sayang, maafkan Mas Yoanmu ini ya..." melas Yoan sambil membalikkan tubuh Dara ke hadapannya. Ia mengangkat wajah cemberut yang menunduk itu.
"Aku malu, Mas. Aku sangat malu tahu." Ucap Dara pelan. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Hal seperti itu sudah wajar dilakukan pasangan yang sudah menikah. Dan mereka sangat wajar dengan kita loh. Namanya juga pengantin baru, sudah biasa sering diledeki. Sama keluarga kamu, mereka juga diledeki kita." Bujuk Yoan kembali agar istrinya tidak malu lagi.
"Tapi, lain kali Mas Yoan jangan pakai isyarat begitu lagi ya." Ucap Dara akhirnya. Ia kurang loading kata-kata kiasan seperti itu.
"Jadi... aku harus bagaimana mengatakannya?" tanya Yoan menatap Dara lalu mengkedipkan sebelah matanya.
"Hah, itu..." Dara merasa telah salah bicara. Ia jadi bingung sendiri.
"Apa aku mengatakannya langsung saja, kalau aku ingin bercinta denganmu?" Yoan menganggukkan kepala meyakini, jika istrinya pasti akan langsung mengerti itu.
"Mas Yoan!!!" Dara jadi memukul dada suaminya dengan pukulan manja. Ucapan pria itu membuat panas dingin mulai menjalar di tubuhnya.
"Sayang, aku ingin bercinta denganmu sekarang!" ucap Yoan dengan mata yang mulai bergairah.
"Se-sekarang?" tanya Dara mendadak gugup. Suaminya langsung bicara seperti itu.
__ADS_1
Yoan mengangguk dan ia pun mengendong tubuh Dara.
"Mas..." Dara kaget dan dengan cepat mengalungkan tangannya di leher Yoan. Pria itu menggendongnya ala koala.
"Dara, aku sangat menginginkanmu." Ucap Yoan menatap Dara. Menatap dengan tatapan yang sangat mendalam. Sedalam samudera.
Dara perlahan mengelus wajah Yoan. Mengelus kedua mata tajam itu, lalu turun ke hidung mancungnya, lalu turun menyentuh bibir yang keseringan menggodanya.
"Cium..." Yoan memajukan bibirnya itu.
Dara menatap mata Yoan sejenak, lalu menatap bibir itu. Ia mulai mendekatkan wajahnya dan tak lama bibir mereka saling bertemu dan bertegur sapa.
Dara memejamkan mata, merasakan perasaannya yang sudah melayang-melayang.
Matanya terbuka saat merasakan tubuhnya berada di tempat tidur. Dan tubuh Yoan kembali mengukungnya.
"Sayang, kamu mau di atas?" tanya Yoan di sela ciuman mereka.
"Mas Yoan!!!" Pekik Dara kaget. Yoan telah membalikkan tubuhnya. Membuat dirinya di atas tubuh tegap tersebut.
"Tenanglah, sayang. Aku akan mengajarimu." Yoan pun tersenyum me-sum.
\=\=\=\=\=\=
Dara kembali mengingat tadi malam mereka hanya melakukannya 2 kali. Tidak seperti sebelumnya. Berkali-kali, bahkan Dara tidak bisa menghitungnya lagi. Saat itu Yoan benar-benar menggempurnya habis-habisan.
'Sayangku!' Dara menkecup bibir Yoan, lalu berlari ke kamar mandi dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ia berlari seperti pencuri.
Setelah membersihkan diri, kini Dara sudah berada di dapur. Ia sedang membantu Mama dan tante Lydia untuk membuat sarapan.
Dara masih sangat malu, kedua paruh baya itu terus mengumbar senyuman lebar padanya. Seolah masih mengingat kepolosannya tadi malam.
"Oh iya, Dara. Bagaimana Yoan?" tanya Lydia mendekatkan dirinya pada Dara yang sedang memotong sayur.
"Ba-bagaimana apanya, Tan?" Dara mendadak jadi gugup. Pertanyaan tante Lydia seperti akan menjerumus kemana-mana.
"Ah, Dara malu-malu nih." Lydia tertawa melihat wajah Dara yang sudah memerah. "Yoan saat di tempat tidur, apa dia sangat hot?"
Dara tersedak mendengar pertanyaan itu. Lydia menaik turunkan alisnya.
"Lydia." Mama menggeleng. Adik iparnya itu sangat kepo, bertanya tentang hal seperti itu.
__ADS_1
"Kak, menantumu ini sangat pemalu sekali. Nggak apa loh Dara cerita saja, atau kamu mau Tante beritahu trik memuaskan suami biar tidak berpaling ke pelakor?" Lydia memainkan alisnya. Ia akan memberitahu triknya. Agar rumah tangga Dara dengan keponakannya itu baik-baik saja.
"Pe-pelakor?" tanya Dara dengan wajah bingung.
"Iya, pelakor. Zaman sekarang pelakor ada di mana-mana loh. Kamu mau si Yoan berpaling darimu? lalu kalian bercerai dan Yoan menikah dengan pelakor." Jelas Tante Lydia kembali.
Wanita paruh baya itu menggeleng. Ia tahu Dara usianya sudah dewasa. Tapi, istri keponakannya itu terlihat sangat polos sekali.
"Janganlah, Tan." Sanggah Dara cepat. Masa dia baru menikah sudah jadi janda saja.
"Makanya biar Tante kasih tahu." Lydia meminta Dara untuk mendekat.
"Jadi nanti kamu harus begini..." Lydia memberikan saran untuk membuat suami klepek-klepek dan hanya melihat ke arahnya saja. Tidak akan terpengaruh meski rumput tetangga lebih hijau.
Dara mengusap wajahnya. Saran dari tante Lydia, sedikit membuat bulu kuduknya merinding. Tubuhnya mulai merasakan panas dingin. Pengalaman tantenya itu begitu sangat hot, seperti ada yang meletakkan kompor di bawah tempat tidur.
"Lydia, sudah lah. Yang terpenting komitmen dan kepercayaan." Mama menimpali sambil tersenyum. Wajah menantunya sangat memerah mendengar saran Lydia itu.
"Yang dibilang Mamamu juga penting. Pokoknya semua pentinglah, nak" Lydia menegaskan kembali.
"I-iya." Dara mengangguk pelan mengiyakan.
"Dara... Dara... Dara..." Terdengar suara Yoan memanggil namanya.
Mendengar namanya dipanggil Dara segera berjongkok untuk bersembunyi. Mama dan Lydia jadi bingung melihat Dara seperti itu.
"Mama, Tante... lihat istriku?" tanya Yoan pada Mama dan tante Lydia yang sedang di dapur. Wajah Yoan kebingungan.
"Dara?" tanya Mama melirik Lydia.
"Tidak ada. Dara sepertinya belum ada turun." Lydia pun ikut menjawab.
"Dara tidak ada di kamar." Yoan mengedarkan pandangan ke sekitar. Istrinya mendadak menghilang.
"Mungkin masih mandi." Ucap Lydia kembali.
"Akan aku cari lagi..."
.
.
__ADS_1
.