
“Mel, malam ini kita main keluar yuk?”
Natasha menelpon sore itu tepat saat Amel baru keluar dari kamar mandi. Sesorean ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan berusaha melupakan ‘nasehat’ papanya yang menyakitkan hatinya.
Papanya bahkan sama sekali tidak tidak berusaha mencari tahu apa yang terjadi hingga ia terpaksa memukul
Felisha, malah terus menerus menasehati tentang bagaimana menjadi seorang anak yang baik dan beretika. Padahal, apa selama ini dia kurang sopan? Apa dia kurang memiliki etika hanya karena berusaha membela dirinya sendiri?
“Hei, kok diem sih? Mau apa tidak?”
“Main kemana? Besok kita ada UTS.”
“Aduh.. bukannya kau sudah belajar terus selama ini? Apa masih kurang? Aku tahu hari ini kamu sedang
suntuk. Kau pasti dimarahi papamu kan? Keluar sebentar pasti akan menjernihkan pikiranmu. Bagaimana?”
Amel menggosokkan handuk ke rambut lembabnya sambil berfikir. Benar juga sih, lagipula selama ini ia jarang sekali keluar main. Mungkin ada baiknya jika ia melihat-lihat keluar sebentar dan membeli beberapa barang bagus di mall untuk menghibur dirinya sendiri dan mengobati perih hatinya hari ini.
“Memangnya kau ingin jalan kemana?” tanyanya.
“Tadi itu Yoga kirim wa. Katanya malam ini dia diajak makan-makan sama temen barunya.”
“Di ajak temennya? Aduh, ya malu dong. Masa nebeng makan. Tidak ah.”
“Tidak apa-apa. Sebenarnya tadi Yoga yang menyuruh aku mengajakmu kok. Sepertinya dia juga prihatin dengan apa yang terjadi pada kamu hari ini.”
“Benarkah?”
“Sungguh. Dia bilang si Felisha sama Angga yang bangs*t\, kepar*t\, baj*ngan sombong laknat itu benar-benar kurang ajar.”
“Wah,” mau tidak mau Amel tertawa.
“Serius. Pacarku itu anak baik tahu? Yuk ya… keluar ya…”
Natasha benar. Yoga memang tidaklah seberuntung Angga ataupun Bima dalam hal tampang. Namun urusan
kepribadian, dia dijamin unggul dua ratus persen dibanding keduanya.
Apa kepribadian baik hanya dimiliki oleh cowok-cowok biasa dengan wajah biasa? Batin Amel dengan sedikit
jengkel. Ia berharap semoga ia bisa seberuntung Natasha. Bertemu dengan cowok yang baik dan terlebih lagi yang mencintainya. Benar-benar mencintainya.
Urusan menikah jelas masih jauh dalam perjalanan hidupnya. Tapi ia sudah beberapa kali memikirkannya. Ia
berjanji dalam hati tidak akan pernah menikah dengan siapapun kecuali bertemu dengan lelaki yang dicintainya dan mencintainya. Meski tidak secantik Felisha, ia tahu dirinya berhak mendapatkan kehidupan yang penuh cinta dalam hidupnya. Ia tidak akan menerima kurang dari itu.
__ADS_1
“Apa yang kau pikirkan, Mel?” Natasha kembali menyela lamunannya. “Mau ya? Kita nggak mungkin akan berlama-lama. Mereka toh juga butuh belajar untuk besok kan?”
Amel menggaruk kepalanya ragu
“Ayolah, Mel. Kau kan jarang sekali keluar. Aku jamin deh, kamu bakalan lebih hepi. Bersikaplah egois. Kau harus berhenti berperan menjadi istri papamu dan menjadi diri sendiri. Lagipula buat apa kau berbuat sejauh itu jika papamu saja bersikap jahat padamu?”
“Hei. Kau menghina papaku?”
“Bukan. Aku hanya jengkel. Bisa-bisanya papamu memarahimu tanpa tahu masalahnya. Setelah semua yang kau korbankan selama ini.”
Amel merenung. Bahkan terkadang ia juga memikirkan itu. Kenapa ia melakukan semua itu. Mengurus pekerjaan rumah sendiri, menyusahkan diri sendiri, mengorbankan kehidupan remajanya untuk mengurus semua pekerjaan rumah yang dulu dilakukan ibunya.
“Aku jemput jam tujuh, oke?” sambar Natasha tanpa memberi kesempatan Amel untuk mengelak. Sudah sejak lama memprihatinkan keadaan sahabatnya itu. Amel benar-benar kurang perhatian dan merasa bertanggung jawab atas ketidak bahagiaan rumah tangga kedua orang tuanya.
Amel butuh keluar dan mencari udara yang lebih segar dan sehat. Udara yang lebih sesuai untuk jiwa remaja
Amel, dan ia akan mewujudkan itu malam ini, batin Natasha penuh tekad.
Dan begitulah, jam tujuh malam itu Amel sudah siap dengan celana jeans dan t-shirt pendek berwarna merah hati. Rambutnya yang panjang mengikal diikat menjadi ekor kuda dibelakang. Lebih rapi daripada biasanya. Ia juga mengusapkan sedikit make up yang sudah lama dillupakannya. Natasha datang tidak lama kemudian. Yoga ikut bersamanya dengan membawa mobil sedang yang katanya dipinjam dari ibunya.
“Wah… sudah lama tidak melihatmu secantik ini,” komentar Natasha begitu melihatnya.
Amel hanya nyengir. Natasha menggandeng tangan sahabatnya itu masuk ke mobil Yoga. Sebagai tetangga kelas, Amel sudah mengetahui tentang Yoga sejak kelas 10 namun jarang bertegur sapa. Saat inipun sebenarnya Amel agak enggan bertemu dengan Yoga mengingat Yoga berada satu kelas dengan Angga yang pastinya juga melihat kejadian tadi pagi di sekolah.
Hufft, hanya memikirkan Angga saja sudah membuat tensi darahnya kembali naik. Bisa-bisanya cowok keparat itu menciumnya dan kemudian dengan entengnya mengatakan kalau ia hanya sekedar memanfaatkannya. Sumpah, ia tidak akan sudi bicara lagi dengan cowok itu untuk alasan apapun.
Apa benar Bima sudah melupakannya?
Bisa jadi juga sih. Ia toh bukan cewek tercantik yang mudah diingat oleh siapa saja. Berbeda dengan Felisha.
Amel memukul kepalanya sendiri. Kenapa ia selalu kembali mengarahkan pikirannya pada orang-orang menyebalkan itu? Kenapa ia pintar sekali menyakiti diri sendiri? Batinnya kesal.
“Tempat apa ini?”
Pertanyaan Natasha membuyarkan lamunan Amel. Ia ikut melongok keluar. Mereka berada ditempat parkir sebuah bangunan yang tampak seperti sebuah restoran.
Amel melihat keatas dan menemukan sebuah lampu berbentu tulisan. Andalusia Resto n Disco.
“Ini… diskotik?” pertanyaan Natasha menyuarakan pikiran Amel.
“Iya. Tapi didalam juga ada restorannya,” kata Yoga menjelaskan. “Ayo masuk. Ayo Mel. Jangan khawatir.
Hanya karena masuk kesana, bukan berarti kita akan pulang dalam keadaan teler kan? Kita beberapa kali telah datang kesini kok dan masih cukup waras untuk tidak menyentuh hal-hal yang tidak boleh kita lakukan.”
“Tapi...” Amel masih tampak ragu. “Bukankah gawat kalau ketahuan sekolah?”
__ADS_1
“Kita tidak akan ke diskotiknya. Hanya makan direstorannya,” sahut Yoga meyakinkan. “Lagipula akan dikeluarkan jika sampai ketahuan. Tapi kalau tidak ketahuan tidak akan apa-apa.”
“Hei, kenapa bilang begitu,”
Natasha mencubit lengan pacarnya dengan main-main. Yoga hanya terkekeh.
“Kita hanya makan saja, Mel. Kita belum gila mau ke diskotiknya. Lagian kita sedang ada UTS.”
“Iya juga sih,” Natasha menyetujui perkataan kekasihnya. “Ayo Mel. Sudah. Jangan mikirin sekolah
melulu. Kau harus bersenang-senang sesekali. Oke?”
Natasha menarik tangan sahabatnya itu mengikuti langkah-langkah Yoga. Begitu masuk mereka disambut oleh hiruk pikuk musik dan diselingi oleh tawa para remaja yang sedang menikmati waktu mereka.
“Hei! Yoga! Sebelah sini!” terdengar seseorang berseru dari salah satu sisi ruangan. Disana tampak sekitar
sepuluh hingga lima belas remaja yang dikenal Amel sebagai murid-murid dari sekolahnya dari berbagai kelas.
Belum-belum Amel sudah menyesal karena telah terbujuk oleh ajakan Natasha. Pastinya anak-anak itu belum
melupakan apa yang terjadi tadi pagi.
“Wah… lihat nih siapa yang datang. Cewek barunya Angga,” kata seseorang.
“Siapa itu yang sembarangan bicara?” tukas seseorang dari arah belakang. Amel menoleh dan mendapati Felisha ada disana dengan diapit Angga dan Bima.
Alis Angga terangkat saat menatap Amel. Apa hanya perasaannya saja gadis itu menjadi cantik? Rambutnya tetap dikuncir ke belakang namun tampak lebih rapi. Anak-anak rambutnya dibiarkan membingkai wajahnya yang tampak bersinar. Gadis itu bermake up!
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Angga, terdengar heran.
“Hei, jangan begitu Ngga,” kata Yoga menengahi. “Aku yang menyuruh Natasha untuk mengajaknya. Lagian Bima tidak apa-apa kok. Amel kan satu kelas juga dengannya. Iya, kan Bim?”
Apa?
“Apa?” bisik Amel pada Yoga. “Maksudmu, temenmu yang mengadakan acara ini adalah… dia?”
“Iya. Memang kenapa?”
Amel bertemu pandang dengan Bima seperti tadi. Namun tetap saja cowok itu tidak menampakkan ekspresi apapun.
“Ehm…” Amel menggaruk pipinya yang tidak gatal. Apa yang harus ia katakan untuk bisa keluar dari tempat ini? “Aku… maafkan aku. Aku baru ingat ada janji dengan papaku.”
“Amel, tunggu dulu,” Natasha berusaha mencegah dan meraih tangan Amel.
“Aku akan menelponmu nanti.” Gadis itu buru-buru menghindar dan berjalan dengan pasti melewati kedua cowok itu.
__ADS_1
“Tunggu dulu,” kata Bima dan Angga berbarengan.
Dan entah sengaja atau tidak, keduanya masing-masing menyambar satu pergelangan tangan Amel dan menariknya.