
"Kenapa kamu kemari?" tanya Yoan tersenyum lebar. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Tadi Dara bertanya di mana ia bekerja, ternyata untuk menemuinya.
"I-itu-" Dara tampak bingung dan gugup. Genggaman tangan pria itu begitu erat, seolah tidak ingin berpisah darinya.
"Kamu tidak bekerja?" tanya Yoan menatap Dara.
Dara menggeleng. "A-aku sudah berhenti."
Yoan senang mendengarnya, Dara menurut juga padanya.. "Terima kasih, sayang!"
Tangan Yoan terulur mengelus kepala Dara.
Saat pintu lift terbuka, Yoan menggandeng Dara menuju ruangannya.
Dara terbengong saat sampai di ruangan Yoan. Pria itu ternyata bukan karyawan, pantas saja semua karyawan memberi hormat padanya. Termasuk Roni dan wanita menyebalkan itu.
Dara melihat sekeliling. Baru kali ini ia masuk ke ruangan orang nomor satu di perusahaan ini. Saat ia masih bekerja kala itu, jangankan masuk ke ruangan mewah ini. Mau ke lantai ini saja, sudah dicegat security.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Yoan membawa Dara duduk di sofa.
"Be-belum!" jawab Dara.
"Kamu mau makan apa? kita pesan saja ya?!" Yoan meraih ponselnya, sambil menscroll layar kotak tersebut.
Dara tersenyum tipis melihat Yoan. Pria itu terus menggenggam tangannya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Yoan melihat ke arah Dara.
Dengan cepat Dara mengalihkan pandangannya.
"Kamu mau pesan apa? pesanlah yang kamu mau." Yoan menyodorkan ponselnya pada Dara.
Dara menscroll ponsel Yoan. Melihat menu yang akan dipesan.
Tangan Yoan terulur mengelus kepala Dara. Lalu menepikan rambut yang menutupi kening Dara. Sepanjang melakukannya, senyum Yoan terus mengambang.
"I-ini sepertinya enak!" Dara menunjuk satu menu. Ia merasa canggung dengan perlakuan Yoan.
"Aku merindukanmu!" ucap Yoan dengan nada lembut, seraya menatap wajah yang mulai merona itu.
"Hah i-itu... ja-jadi dipesan tidak. A-aku lapar!" Dara jadi gugup, ia pun bangkit dan melihat-lihat sekitar ruangan ini.
'Gemes!!!' Yoan tersenyum puas. Daranya mulai salting.
"Kamu mau makan ini?"
"Iya itu." Jawab Dara tak melihat Yoan. Ia berjalan melihat bingkai foto yang tergantung.
Yoan mengangguk dan menekan-nekan ponselnya. Untuk memesan makanan itu. "Ok. Kita tunggu sebentar ya."
Dara mengangguk. "Bo-boleh aku coba duduk di kursi itu?" tanya Dara. Ia ingin mencoba duduk di kursi kebesaran itu.
"Silahkan!"
Dara mengulum senyum dan menuju ke kursi itu. Ia pun duduk di sana.
"Wow!!!" gumam Dara pada kursi yang sangat empuk.
"Wah... bisa berputar!" Dara berputar di kursi itu. Bukan sekali, wanita itu berputar sampai 3 kali.
Yoan menggeleng melihat tingkah Dara. Wanita itu seperti bocah.
__ADS_1
"Aduh... aku pusing!" Dara bangkit dari kursi itu dengan sempoyongan. Saat wanita itu mau terjatuh, Yoan dengan segera menahan tubuh Dara.
"Sayang... pusingkan jadinya?"
"Iya." Dara mengangguk malu. Ia memang kemaruk.
"A-apa yang anda lakukan?" Dara kaget tatkala Yoan mengendongnya, membuatnya repleks mengalungkan tangan di leher Yoan.
"Gendong kamu. Biar kamu jangan jatuh ke lantai. Cukup jatuhnya ke hatiku saja." Goda Yoan.
"Dasar tukang gombal!" gerutu Dara sambil membuang pandangannya. Pria itu sekarang cukup meresahkan, membuat perasaannya terasa aneh.
Yoan meletakkan Dara di sofa. Ia pun duduk di samping Dara. Lalu menyandarkan tubuh Dara padanya.
"A-aku-" Dara tidak mau menyandar di tubuh pria itu.
"Masih pusing?" tanya Yoan dengan tangan memijat lembut dahi Dara.
Deg
Hati Dara mulai berdesir kembali karena perlakuan pria itu. Yoan, pria yang sangat lembut dan perhatian. Membuatnya mulai merasa nyaman dan tidak mau menjauh.
"Su-sudah... aku tidak apa!" Dara membenarkan posisi duduknya. Ia sudah tidak pusing lagi.
"Sayang..." Yoan meraih tangan Dara dan menggenggamnya.
Yoan perlahan mulai mendekatkan wajahnya. Dekat dan semakin dekat dengan wajah Dara.
'Ba-bagaimana ini? apa aku harus menolak?' Dara lalu menatap mata Yoan yang begitu tulus. Ia terpaku sejenak, merasakan hembusan nafas yang menyapu wajahnya.
Dekat, dekat dan mulai mendekat. Wanita di hadapannya tidak mendorongnya. Membuat Yoan makin mengikis jarak di antara mereka. Dan...
Tok
Tok
Tok
Yoan menghembuskan nafasnya kesal. Ada saja yang mengganggunya.
"Masuk!" ucap Yoan datar.
"Selamat siang, Pak. Ini makanan pesanan anda." El membawakan pesanan pria itu.
El melihat tatapan Yoan yang tidak senang. Sepertinya ia masuk di waktu yang tidak tepat.
"Terima kasih!" Dara bangkit dan menerima bungkusan yang di bawakan pria muda itu.
"Loh, kamu bekerja di sini?" tanya Dara mengingat El. Pria baik hati yang bertukaran tempat duduk saat di pesawat.
"Iya, Nona!" jawab El mengangguk pelan.
"Terima kasih ya. Saat itu aku tidak sempat berterima kasih."
"Iya, Nona. Saya juga berterima kasih atas nomornya." Ucap El tersenyum tipis. Gara-gara nomor palsu itu, ia hampir dipecat Yoan.
Dara jadi tersenyum. "Maaf ya, saat itu!" Ia merasa tidak enak memberikan nomor ponsel palsu.
"Saya permisi!" El mengangguk pelan. Ia sudah melihat wajah Yoan yang mulai tidak senang padanya. Harus segera keluar, sebelum Yoan murka.
Setelah El pergi, Dara melihat pria di hadapannya memasang wajah kesal.
__ADS_1
"I-itu... aku ketemu dia di pesawat. Kami pernah satu pesawat saat aku pulang dari luar kota." Jelas Dara segera.
"Oh ya?"
"I-iya. Pria itu saat di pesawat memintaku untuk bertukar tempat duduk. Aku jadi duduk di kelas bisnis, padahal tiketku tadi ekonomi. Pria itu baik ya!" jelas Dara kembali mengingat kebaikan El.
"Jadi di kelas bisnis kamu duduk sama siapa?" tanya Yoan.
"Nggak tahu. Aku nggak terlalu ingat dan memperhatikan."
Yoan memperhatikan Dara. Memastikan wanita ini berkata jujur atau pura-pura lupa tentangnya.
"Yang duduk di samping kamu, saat di pesawat itu aku." Yoan mengatakannya.
Dara menaikkan alisnya, ia tidak percaya.
"Aku yang menyuruh dia bertukar tempat duduk denganmu. Karena aku ingin kamu duduk di sampingku!" jelas Yoan kembali.
Mendengar itu, Dara malah menutup mulutnya. Ia mulai mencoba mengingat, tapi wajah pria di sampingnya saat di pesawat itu samar-samar.
"Masa anda sih?" Dara tidak percaya.
Yoan yang geram menyentil kening Dara. Wanita itu tidak mengingatnya sedikit pun.
"Itu aku!!! Aku juga lihat saat di bandara, yang menjemputmu itu kedua orang tuamu dan seorang pria yang akan dijodohkan denganmu!" jelas Yoan kembali.
Dara kaget, Yoan tahu tentang itu.
"Ja-jadi sejak itu anda mengenalku?" tanya Dara memastikan.
"Sebelum itu lagi!"
"Apa saat aku kerja di minimarket?" tanya Dara. Mungkin Yoan selama ini sudah mengawasinya.
"Tidak. Saat itu kamu sudah tidak bekerja lagi, karena tidak memperpanjang kontrak."
Dara mengingat-ingat, siapa pria ini?
"Ja-jadi anda mengenalku sejak kapan?" tanya Dara ingin tahu.
Yoan berpikir sejenak. "Sayang, ayo kita makan. Nanti dingin nasinya!"
Pria itu tidak akan memberitahukannya sekarang. Nanti saja saat mereka telah menikah. Jadi ia akan mengalihkan topik saja.
"Katakan sekarang. Anda bertemu aku di mana?" tanya Dara menatap Yoan serius. Ia sangat penasaran sekali.
"Makan dulu ya."
"Tidak. Katakan sekarang!"
"Hmm... Kalau kamu mau aku cerita. Cium dulu." Yoan sengaja memajukan bibirnya.
Mata Dara menatap tajam pria itu. "Aku mau makan!" Ia memilih makan dari pada menuruti permintaan Yoan.
"Ya sudah kalau nggak mau tahu!" ledek Yoan menggoda Dara. "Kamu cium aku sekali, aku ceritakan semuanya! SEMUANYA!!!" Yoan meyakinkan.
Dara jadi kesal. Pria itu mencari kesempatan saja.
"Makan ini... nanti keburu dingin!!!"
.
__ADS_1
.
.