
Roni berbaring di tempat tidur, sambil memandangi langit-langit atap. Pikirannya kembali mengingat tentang Dara.
Tentang cinta pertamanya...
Tentang perhatian Dara selama 9 tahun...
Tentang kemanjaan wanita itu...
Tentang senyuman dan air mata...
'Dara... kenapa saat itu aku meninggalkanmu...??? Jika kita tetap bersama, saat ini kamu pasti sudah berada di sisiku...' batin Roni tersenyum sinis.
Pria itu mulai membayangkan, jika saat itu pernikahannya dengan Dara tetap berlangsung dan ia tidak memilih Ratu. Pasti sekarang, rumah mereka ramai dengan suara tangis dan tawa anak.
7 tahun lebih menjalani hidup berumah tangga, mereka pasti sudah dikarunia 3 atau 4 orang anak. Mungkin juga sudah 5 orang anak.
Mereka akan dipanggil Papa dan Mama oleh anak-anak mereka.
Roni mengusap wajahnya sambil tertawa kesal. Itu semua hanya akan menjadi khayalannya saja. Dara kini sudah menikah dengan pria lain. Statusnya istri orang.
Dan yang lebih menyakitkan hati Roni, Dara sudah tidak mencintainya lagi. Tidak ada lagi perasaan cinta dan kasih wanita itu padanya.
Roni meremas tangannya sendiri. Kembali mengingat wajah bahagia Dara saat pernikahan. Mantannya itu tersenyum bahagia. Ya, Dara sangat bahagia, tapi... bukan karenanya. Dara bahagia karena pria lain.
'Dara... apa aku masih bisa memilikimu lagi? Atau bisakah waktu terulang kembali?'
Roni memukul-mukuli kepalanya dengan tangan. Ia sangat menyesali kebodohannya, melepaskan Dara saat itu.
Roni juga mulai mengingat, saat menjalani rumah tangga dengan Ratu. Wanita yang dipilih dan diyakininya lebih baik dari Dara.
Rumah tangga mereka terasa hambar setelah sebulan pernikahan. Perhatian dan sifat manja Dara, tidak ada di dalam diri wanita itu. Ratu selalu bersikap sewajarnya, sementara Dara terlalu berlebihan dalam bersikap.
Berlebihan saat manja...
Berlebihan dengan cinta dan kasih sayang...
Berlebihan jika sedang mengambek...
Ratu yang mandiri dan dewasa, tidak pernah melibatkannya dalam hal apapun. Wanita itu melakukan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
Awalnya Roni merasa bangga dengan istrinya itu. Tapi, lambat laun ia merasa dirinya tidak berarti apa-apa. Pernikahan mereka hanya seperti status saja. Tak ada komitmen atau rencana masa depan bersama. Mereka menjalani rumah tangga, sesuai dengan jalan pikiran mereka masing-masing. Saling berseberangan, satu ke kanan satu ke kiri.
Mereka mulai sering cekcok dan berselisih paham. Roni jadi selalu membandingkan Ratu dengan Dara, saat mereka berdebat. Dan karena selalu dibanding-bandingkan, membuat Ratu merasa kesal dan sakit hati. Wanita itu pun mulai mencari kenyamanan di tempat lain.
__ADS_1
Hubungan pernikahan yang mereka jalani hampir 4 tahun, akhirnya kandas juga. Roni memergoki istrinya berselingkuh dengan pria lain di sebuah kamar hotel.
Roni saat itu marah dan sangat kecewa. Dan yang makin membuatnya murka, alasan wanita itu berselingkuh.
"... Aku tidak pernah bahagia menikah denganmu!"
Roni menghembuskan nafasnya berkali-kali. Kembali mengingat kisah hidupnya.
"Dara... apa kamu bahagia menikah dengannya? jika kamu tidak bahagia, kembalilah padaku! Aku akan selalu menunggumu!"
\=\=\=\=\=\=
"Papa, Mama... aku sudah pulang!" ucap seorang wanita memasuki rumah keluarganya.
"Maudy!!!" kompak kaget kedua paruh baya tersebut. Mereka kembali melihat putrinya setelah sekian lama menghilang.
"Dasar anak kurang ajar!" Mamanya yang kesal memukuli wanita muda tersebut. Maudy sudah kabur dari pernikahannya kala itu. Membuat mereka sangat malu dan tertekan pada mantan calon besannya.
"Aduh, Ma. Jangan memukuliku di depan anakku." Ucap Maudy melihat sang anak yang digandengnya terpelongo.
Kedua orang tua Maudy melihat ke arah bocah laki-laki itu. Bocah gembul yang sangat menggemaskan.
"Namanya Jeri. Dia anakku Pa, Ma..." Maudy memberitahu putranya. "Jeri, ini Opa sama Oma."
Tak lama Maudy keluar dari kamar setelah menidurkan Jeri. Ia menemui kedua orang tuanya di ruang keluarga.
"Papa sama Mama apa kabar?" Maudy berbasa basi setelah mendudukkan diri di sofa.
Papanya hanya bisa menghembuskan nafas kasar. "Masih bisa kamu basa basi bertanya seperti itu?"
Maudy pun jadi diam. Sepertinya ia salah bicara.
"Apa yang kamu kejar keluar sana?" tanya Mama menatap tajam. Maudy pergi begitu saja meninggalkan Yoan di hari pernikahan mereka. Apa yang membuat Maudy pergi dan meninggalkan pria seperti Yoan?
"Itu... ada sedikit masalah." Jawabnya sambil menundukkan kepala.
"Kamu tahu, saat itu Papa sangat malu sekali dengan pak Dana." Pria paruh baya itu memarahi putrinya.
"Ma-maafkan aku."
"Untung pak Dana itu sangat baik. Ia tidak membatalkan kontrak kerja sama yang sudah berjalan. Jika dia melakukan itu, habis kita nak. Habis!!! Kami sudah pasti jadi gelandangan!" pria yang sudah mulai tua itu sangat kesal dengan tingkah putrinya saat itu.
Maudy menggaruk tengkuknya. Ia benar-benar merasa bersalah. Tapi ia melakukan hal itu, demi masa depan yang diyakininya saat itu.
__ADS_1
"Maudy, Jeri itu anak siapa?" tanya Mama menelisik.
"Anakku, Ma." Jawab Maudy cepat.
"Siapa Ayahnya?" bentak Mama kesal. Kabur 2 tahun lebih keluar negeri, Maudy tiba-tiba pulang sudah membawa anak saja.
Maudy diam. Ia tidak mau menjawab. Menjawab pun kedua orang tuanya akan tetap memarahinya.
"Apa itu anaknya Yoan?" tebak Papa dengan sorot mata tajam. Jika itu darah daging Yoan. Mereka harus meminta pertanggung jawaban pada pria itu.
"Jawab Maudy!!! Jeri anak siapa?!!" ucap Mama dengan nada tinggi. Putrinya itu membuatnya emosi.
"Anakku. Jeri itu anakku!" Hanya itu jawaban Maudy. Ia tidak mau mengatakan itu anaknya siapa.
"Aku akan merawat Jeri. Papa sama Mama tenang saja." Ucap Maudy santai.
"Maudy, katakan Jeri anak siapa? Jika itu anak Yoan, kita akan meminta pertanggung jawabannya." Saran Papa. Walau Yoan telah menikah, Yoan harus tetap bertanggung jawab pada perbuatannya. Meski tidak mungkin Maudy menikah atau menjadi istri kedua dari pria itu, tapi yang papa tahu keluarga Yoan pasti akan bertanggung jawab. Jika Jeri cucu mereka, maka masa depan Jeri akan cerah.
"Jeri anakku!" tetap itu jawaban Maudy.
"Aku akan bertemu dan meminta maaf pada Yoan. Aku ingin kembali padanya." Sambung Maudy kembali. Ia kembali ke negeri ini, untuk bertemu dengan pria yang pernah disakitinya.
"Maudy, apa kamu sudah tidak waras?" tanya Mama geram. Putrinya suka seenaknya saja. Keluarga Yoan tidak mungkin mau menerima wanita yang sudah membuat malu keluarga mereka. Apalagi Yoan yang kini sudah menikah.
"Ma... Yoan pasti akan memaafkanku." Timpal Maudy kembali. Yoan sangat mencintainya. Mereka pernah menjalin kasih selama 5 tahun. Pria itu tidak mungkin melupakannya begitu saja.
Papa dan Mamanya mencerna ucapan Maudy yang terlihat santai. Mereka jadi menebak, apa Jeri memang anaknya Yoan.
"Maudy, apa kamu tidak tahu?" tanya Mama menggelengkan kepala. Maudy harus tahu kabar tentang Yoan.
"Tahu apa, Ma?" Maudy malah balik bertanya. Apa menyangkut tentang Yoan?
"Yoan sudah menikah." Jawab Papa memberitahu.
"Yo-Yoan... su-sudah menikah?" Maudy mengulang ucapan itu dengan gugup. Ia sangat tidak menyangka. Pria itu sudah menikah.
"Iya, Yoan sudah menikah minggu lalu." Jelas Mama menimpali.
"Apa???"
.
.
__ADS_1
.