KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 108 - HAMIL


__ADS_3

"Garis dua?" Yoan tampak berpikir. Garis dua itu seperti apa? Seperti pagar atau sama dengan?


"Mas Yoan!!!" Dara mewek. Air matanya masih berjatuhan.


Yoan duduk di samping Dara. Lalu Dara memeluknya.


"Mas, garis dua itu tandanya aku positif hamil." Dara memberitahu.


Yoan melonggarkan pelukannya. "Sayang, kamu hamil?" tanya Yoan dengan wajah bahagia.


"Iya, Mas. Menurut alatnya seperti itu." Dara berharap benda kecil itu tidak salah.


"Sayang." Yoan memeluk erat. Lalu ia menkecupi kepala Dara. Juga wajah Dara berkali-kali.


"Halo, anak papa." Yoan pun menkecup lama perut Dara. Ia sangat senang. Benihnya sudah tumbuh di rahim sang istri.


"Sayang papa, kamu baik-baik di sana ya." Yoan mengelus perut Dara yang masih rata.


"Iya, Papa Yoan tampan." Dara menjawab dengan menirukan suara bocah.


"Sayang, selamat ya. Kamu akan jadi seorang Mama." Kini Yoan menatap sang istri.


"Oh iya, lihat alatnya gimana?" Yoan kembali bertanya soal alat itu. Ia bingung Dara tahunya hamil itu dari mana.


"Ini, Mas. Kalau garis satu tandanya belum hamil. Kalau garis dua tandanya hamil." Dara menerangkan tentang benda kecil itu. Ia sedikit geli, sementang alat tes kehamilan langsung tertera tulisan hamil tidaknya di benda itu. Suaminya ada-ada saja pemikirannya.


"Oh..." Yoan mengangguk mengerti. Ia tadi sudah salah ternyata.


"Jadi kalau garis satu itu kamu sendirian. Garis dua berdua, kamu dan bayi. Garis tiga berarti kamu dan anak kembar. Kalau garisnya penuh anaknya kembar berapa ya, sayang?" tanya Yoan dengan wajah penasaran.


Dara terpelongo dengan asumsi suaminya. Yoan jalan pikirannya sangat luar biasa.


"Mas Yoan, Ih!!!" Dara jadi gemas dengan suaminya itu. Ia jadi tertawa.


"Ya sudah, karena kamu garis dua. Berarti anak kita hanya ada satu di dalam. Kira-kira anak laki-laki atau perempuan ya?" tanya Yoan kembali fokus pada perut Dara. Ia kembali mengelusnya.


"Menurut Mas Yoan?" tanya Dara sambil tersenyum.


"Perempuan." jawabnya.


"Perempuan?"


"Menurutku ya. Soalnya akhir-akhir ini kamu sangat manja. Perempuan kan begitu, bawaannya mau ngelendot saja." Jelas Yoan. Dara selalu tidak mau jauh darinya.


"Mas sih, Mas?" Dara merasa ia tidak semanja itu.


"Iya, kamu sangat manja. Tapi nggak apa. Kamu kan manjanya sama aku." Yoan kembali menkecupi wajah Dara.


Yoan merangkup wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Ia menciumi Dara dengan lembut, terasa seperti gula kapas.


"Sayang, terima kasih. Aku mencintaimu."


"Aku mencintaimu, Mas." Dara pun merentangkan tangannya.


Yoan pun memeluk Dara.


"Mas, bukan peluk." Dara menekan dada suaminya.


"Jadi?" Yoan tampak bingung.


"Gendong!" ucap Dara dengan nada manja.


Yoan tersenyum. Ia sangat yakin anak mereka memang perempuan.


Pria tinggi itu menggendong Dara ala koala. Lalu berjalan ke arah jendela.


"Dara-Dara..." Yoan menggelengkan kepala, melihat istrinya sudah tidur saja.


Dara membenamkan wajahnya di dada tegap itu. Terasa sangat nyaman dan ia jadi terlelap.


Gimana nanti kalau anak perempuan mereka lahir ya?


Yoan menggendong bocah perempuan, sambil bersenandung. Putri kecilnya selalu minta gendong baru bisa tidur.


Dara datang masuk kamar dan melihat putrinya sudah tidur.


"Mas, putri kita sudah tidur."

__ADS_1


Yoan pun meletakkan di tempat tidur dan memberikan kecupan sayang di kening sang putri.


Lalu...


"Mas..." Mewek Dara merentangkan tangan.


Yoan pun menggendong istrinya sambil bersenandung. Lalu tak lama Dara juga sudah tidur. Ia meletakkan di tempat tidur. Mencium keningnya dengan sayang.


Yoan senyum-senyum membayangkan drama itu. Drama keluarga versi 1.


Yoan sedang menggendong putrinya. Lalu Dara masuk.


"Mas, gantian dong masa putri kita saja yang digendong? Aku juga mau dong!" Dara mencemberutkan wajahnya. Ia cemburu Yoan hanya sayang pada putrinya.


"Anak papa, sayang. Gantian sama Mama ya." Yoan berucap pada putrinya dan menurunkannya.


Lalu ia menggendong sang istri.


"Mama sudah dong. Aku mau digendong Papa juga."


Yoan tersenyum dan menurunkan Dara yang berwajah cemberut. Lalu ia gantian menggendong putrinya.


Selang beberapa menit, Dara gantian minta digendong. Lalu putrinya juga begitu. Setelah beberapa menit, meminta gendong.


Yoan terus bergantian menggendong ibu dan anaknya.


"Mas Yoan jangan gendong putri kita saja."


"Papa, jangan gendong Mama saja."


"Mas Yoan, masa gendong aku sebentar saja."


"Papa, jangan lama-lama gendong Mama."


Yoan menghembuskan nafasnya dan menatap keduanya.


"Kalian berdua sudah papa gendong. Sekarang gantian, papa minta digendong juga!!!"


"Mama, ayo kita lari!!!" bocah kecil itu meraih tangan mamanya.


Mereka pun berlari, Yoan mengejar mereka.


"Tangkap Mama saja, Pa!" Tunjuk bocah perempuan itu sambil tertawa.


"Pa, tangkap Mama saja. Terus kurung Mama di hati Papa." ucap sang putri.


Lho?


lho?


lho?


Putrinya kok sudah pandai menggombal?


Yoan tersadar kembali ke alam nyata. Ia tertawa geli karena sudah membayangkan drama keluarga kecilnya yang sangat bahagia...


Begitulah drama keluarga versi 2.


\=\=\=\=\=\=


"Ma, kami pergi dulu." Ucap Yoan berpamitan. Mereka akan ke dokter kandungan untuk mengecek kehamilan Dara.


"Dara, kamu sudah makan nak?" tanya Mama.


"Sudah, Ma." Jawab Dara masih merasa kenyang.


Yoan sudah mengatakan tentang testpack tersebut. Lalu Mama membuatkan makanan dan memaksanya untuk makan, karena sangat baik untuk kehamilan.


Dara makan banyak, hingga ia merasa masih sangat kekenyangan.


"Kamu mau makan apa? Biar nanti Mama buatkan. Jadi kamu pulang makan itu." Mama tampak bersemangat. Ini cucu pertamanya, jadi harus memberi perhatian extra.


"Ti-tidak usah, Ma." Tolak Dara merasa segan.


"Tidak apa, nak. Kalau kamu ngidam makan apa bilang saja sama Mama ya! Kalau ngidam harus dibilang." ucap Mama mengingatkan.


"Benar sayang. Kalau ngidam tidak dituruti, nanti anak kita ngompol." Timpal Yoan mengingatkan.

__ADS_1


Kedua wanita itu melihat Yoan dengan wajah aneh.


"Ngences Yoan!!!" Mama menggeleng. Yoan asal berucap saja.


Yoan menyengir. Ia salah terus.


"Ma, kami pergi ya." Dara pun menyalami paruh baya tersebut.


"Doai, Ma. Hasilnya sama." Ucap Dara kemudian.


"Pasti sama, nak. Kalian hati-hati di jalan."


Yoan pun merangkul Dara pergi.


Tak beberapa lama, Yoan dan Dara sudah berada di rumah sakit. Mereka menunggu panggilan.


Dara duduk sambil memeluk lengan suaminya. Ia melihat wanita-wanita hamil di sana.


Perut mereka sudah besar-besar. Sepertinya tak lama lagi akan melahirkan.


Dara menahan nafas melihat ibu hamil yang kesulitan berjalan, dengan perut sebesar itu. Ibu hamil itu yang beralan, ia yang merasa capek.


"Aku akan selalu di sisimu!" Yoan menepikan rambut Dara.


Hal itu membuat Dara menoleh ke arah suaminya. Ia tersenyum melihat Yoan.


"Mas, ka-kalau ternyata aku tidak hamil bagaimana?" tanya Dara. Ia takut alat itu rusak.


Yoan tampak berpikir. "Tidak apa-apa."


Dara menatap haru.


"Kalau kamu belum hamil, aku akan lebih semangat lagi tiap malam!" Bisik Yoan seraya menaikkan alisnya.


"Mas Yoan!!!" Dara mencubit lengan suaminya.


"Ibu Dara..."


Dara berjalan beriringan dengan Yoan. Memasuki ruangan dokter. Namanya sudah dipanggil.


Dara melakukan sejumlah tes. Setelah itu dokter pun mengatakan hasilnya.


"Selamat, Pak. Istri anda hamil." Kata dokter perempuan tersebut.


Dara menutup mulutnya, air matanya berlinang kembali. Ia sangat senang bercampur haru. Sekarang ada nyawa dalam perutnya.


"Sayang, selamat ya." Yoan mengusap-usap punggung Dara. Istrinya itu sudah mewek saja.


Yoan dan Dara berkonsultasi dengan dokter kandungan tersebut. Dokter juga mengingatkan, kehamilan masih sangat muda dan sangat rawan mengalami keguguran. Jadi tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan yang berat.


Konsultasi telah selesai. Mereka akan datang beberapa minggu lagi. Untuk melakukan USG, agar tahu jenis kelamin sang anak.


Yoan memegangi Dara setelah keluar dari ruangan dokter. Ia harus menjaga Dara dengan hati-hati.


"Mas, aku bisa jalan loh." Dara menggeleng. Ia masih bisa berjalan normal. Perutnya belum besar.


"Ingat, pesan dokter!"


Dara mengangguk terpaksa. Terserah suaminya sajalah.


'Dara...'


Seorang pria melihat pasangan itu keluar dari ruangan dokter kandungan.


Melihat sikap Yoan, ia mengerti... sepertinya Dara sudah berbadan dua.


Dara sudah hamil.


Pria itu melihat wajah bahagia Dara dan Yoan. Saling melempar senyuman yang begitu tulus penuh cinta.


'Selamat atas kehamilanmu, Dara!'


Roni tersenyum tipis melihat kebahagian yang terpancar dari wajah Dara. Lalu ia pun pergi tanpa menyapa mereka.


'Kamu harus bahagia, Dara...'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2