
Dara sedang berbaring di tempat tidurnya, sambil menelepon. Wajahnya tersenyum bahagia. Walau sudah beberapa hari tidak bertemu, mendengar suaranya saja sudah mengobati kerinduan di hati.
Ya, lama tidak bertemu. Membuat Dara mulai merindukan calon suaminya itu.
"Kamu sudah makan, sayang?"
"Sudah. Mas sudah makan?"
"Sudah tadi. Kamu makan pakai lauk apa?"
"Apaan sih?" Dara jadi tertawa pelan. Obrolan mereka seperti ABG saja.
"Dara, aku sangat merindukanmu." Akui Yoan kemudian. Menunggu hari H tiba saat lama sekali. Kerinduannya sudah tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
"Mas, lagi di kantor ini ya?" tanya Dara mengalihkan topik obrolan. Wajahnya sudah malu kena gombalan receh pria itu.
"Aku sudah ngambil cuti. Jadi aku sudah di rumah." Yoan juga sedang menelepon Dara di tempat tidur.
"Oh. Mas ngambil cuti berapa lama?" tanya Dara ingin tahu.
"Kenapa?" tanya Yoan sambil menyengir. Pasti calon istrinya ini ingin berlama-lama dengannya setelah menikah.
"Cu-cuma tanya saja!" Dara mulai gugup. Sepertinya dia salah tanya.
"Aku ambil cuti 2, sayang!"
"Oh... 2 minggu." Dara mengangguk mengerti.
"Bukan."
"Jadi? 2 hari?" tebak Dara kembali.
"Bukan juga."
"2 bulan?"
"2 tahun, Ra. Aku ambil cuti 2 tahun." Ucap Yoan menahan tawanya.
"Apa? 2 tahun itu bukan cuti. Resign iya!" Dara merasa Yoan asal berucap.
"Hehe... kamu mau aku cuti berapa lama?" tanya Yoan kembali.
"Ya-Ya-ya sesuai aturan di kantorlah, Mas." Dara mulai gugup.
"Oh gitu ya." Yoan mengangguk. "Kalau begitu aku cuti 2 hari saja."
"Kok cepat kali?"
"Kamu ingin lama menghabiskan waktu bersamaku, kan?!" goda Yoan bahagia.
"Ti-tidak!" sanggah Dara.
"Iya!"
"Mas!!! Aku tutup nih!" Dara makin malu. Pria itu menggodanya terus.
"Jangan-jangan. Aku cuma becanda. Aku akan ambil cuti 2 atau 3 minggu gitu. Aku kan harus tetap bekerja. Aku harus bertanggung jawab padamu, anak-anak kita nanti. Keluarga kecil kita harus bahagia." Jelas Yoan sambil membayangkan masa depannya bersama Dara.
Blush...
Wajah Dara pun merona. Wanita itu menghembuskan nafas pelan berkali-kali. Memanglah calon suaminya itu, sangat pandai memainkan hatinya.
__ADS_1
Dara kemudian mendengar ribut-ribut di luar, ia pun mengintip dari jendela.
"Kenapa berisik, Ra?" tanya Yoan.
"Itu Mas. Keluarga dari jauh sudah datang." Jelas Dara kembali. Kedua orang tuanya mengundang keluarga mereka yang di luar kota.
"Ramai?" tanya Yoan memastikan.
"Ramai, Mas. Satu mini bus penuh." Ucap Dara masih melihat saudara-saudara keluarga Ayah dan Bundanya.
"Sayang, mau aku bookingkan hotel saja untuk mereka?" tanya Yoan. Rumah Dara pasti tidak cukup untuk mereka.
"Ti-tidak usah, Mas." Tolak Dara. "Kebetulan rumah sebelah lagi kosong. Jadi, Ayah sewa beberapa hari untuk mereka tinggal."
Yoan mengangguk mengerti. Ia tadi mengira, semua akan mengumpul di rumah Dara. Pasti sesak dan pengap.
"Oh iya, Mas. Nanti kita sambung lagi ya teleponnya. Aku mau menemui mereka dulu." Ucap Dara kemudian. Keluarganya sudah jauh-jauh datang, masa ia tidak menyambut mereka.
"Oh, ya sudah. I love you, sayang."
Bip...
Dara mengakhiri obrolan mereka, ia menarik nafas pelan. Yoan selalu membuatnya berdebar-debar.
\=\=\=\=\=\=
Dara membantu Bunda membuat minuman untuk keluarga jauh mereka. Ia juga dibantu oleh tante-tantenya.
Sebenarnya keluarga besar mereka ingin sekali datang semua ke pernikahannya Dara. Tapi karena di luar kota, jadi hanya keluarga inti saja yang mewakilkan.
"Dara, makin cantik sekarang ya."
Dara hanya tersenyum dipuji seperti itu oleh tante-tantenya.
"Aku mau lihatlah."
"Diundangannya kan ada. Calon suaminya Dara itu pria tajir. Nggak kayak yang dulu."
"Memang setajir apa calon yang sekarang?"
"Calon Dara yang sekarang itu, anak tunggal pemilik sebuah perusahaan. Kalau yang dulu itu cuma staff biasa."
"Wah... Dara beruntung banget ya."
"Kalian tahu dari mana?" tanya yang lain. Orang tua Dara saja tidak mengatakan tentang calon suami Dara.
"Kau itu kudetlah. Anakku cari di internet nama calonnya Dara yang ada di undangan. Calon suami Dara itu anak tunggal pemilik perusahaan besar loh." Jelas yang lain memberitahu.
"Kalah telaklah sama calon Dara yang dulu. Jangan-jangan mantan Dara dulu karyawannya."
"Bisa jadi."
Dara melihat ke arah Bundanya. Tante-tantenya malah membandingkan keduanya. Bunda menggeleng pada Dara, seakan mengerti saja. Perempuan kalau sudah berkumpul payah bilanglah. Kalau nggak gosip nggak afdol.
"Dara, semoga pernikahan kamu ini lancar ya nak."
"Iya benar. Kita doakan, pernikahan Dara tak ada masalah. Jangan seperti dulu lagi."
"Benar-benar. Kita semua sudah datang jauh-jauh kemari loh."
Dara diam saja. Ia juga berharap seperti itu. Pernikahannya tidak batal lagi.
__ADS_1
"Teringatnya kenapa di gedung sih kak? Seharusnya resepsinya di rumah saja."
"Iya, benar. Biar kita-kita ini yang masak."
"Kalau di rumah kan kita bisa bebas."
"Tapi di rumah capek loh. Kalau di gedung gitu, kan kita tinggal datang saja."
"Nggak perlu masak-masak sudah ada catheringnya."
"Enak juga gitu. Kita sudah tinggal terima bersih."
"Mahallah itu ya?"
"Resepsinya di gedung karena tamu-tamu penting pasti yang datang."
"Iya... Besok aku harus tampil cantik. Mana tahu ada pengusaha yang lagi cari janda di sana."
"Ngarep!!!"
Bunda jadi menggeleng. Saudara-saudaranya ini, sudahlah mereka bertanya dan mereka juga yang menjawab. Terserah mereka sajalah, mau mengobrol apa. Yang penting, perkataannya tidak menyinggung putrinya.
"Dara, antar minum ke depan dulu ya." Ucap Dara membawa nampan berisi minuman.
Mereka menggangguk mengiyakan. Lalu kembali ngerumpi sambil tertawa.
Dara membawa nampan ke ruang tamu dan menyajikannya. Di ruang tamu ada Ayah dan Om-Omnya.
"Silahkan di minum." Ucap Dara mempersilahkan.
"Makin cantik anakmu ya?"
"Kami nggak yakin, dia anakmulah."
Para omnya meledek Ayahnya Dara. Dara sangat cantik, masa Ayahnya berwajah sangar. Ayah senyum saja menakutkan. Apalagi diam saja.
"Bibitku itu sangat bagus." Jawab Ayah membalas ledekkan mereka.
Yang berada di ruang tamu jadi tertawa. Dara pun memilih undur diri. Ia akan di belakang saja dengan Bunda.
"Dara, di kantor suamimu. Ada lowongan kerja? Bantu masukin anak tante dong!"
"Benar. Anak tante juga ya. Tahun ini ia selesai kuliah."
"Anak tante juga dong Dara. Tapi baru tamat sekolah. Biar dia ada pengalaman juga."
Dara malah terbengong. Tante-tantenya malah membuatnya menjadi koneksi ke perusahaan itu.
"Tolong ya, Dara. Nanti anak tante tinggal di sini sementara, setelah itu dia cari kost atau sewa rumah."
"Benar juga. Kalau nggak nanti mereka sewa rumah sama saja."
"Iya-iya... anakku juga ikut ya."
"Anakku juga!"
Dara jadi tersenyum terpaksa menanggapinya. Ia tidak tahu mau berkomentar apa.
.
.
__ADS_1
.