
"Panen... Panen!" gumam Dara pada layar ponselnya. Ia kini sedang asik bermain game peternakan sambil menyandar di senderan tempat tidur.
Ting
'Ganggu saja pun!' Dara mendumel saat notifikasi pesan masuk yang mengganggu fokusnya saja.
Dara segera membuka pesan tersebut. Ia melihat foto yang dikirim Eli.
"Kan benar. Itu orang datang! Untung aku tukar shift." Monolog Dara menatap foto mobil hitam milik pria itu yang dikirim Eli.
Ting
Satu pesan lagi masuk.
Eli: kak Dara... Dia nyariin loh
Dara: Biarin
Eli: kayaknya dia nunggu kakak
Dara: usir saja dari kampung itu
Eli: kak Dara... tak berperasaan.
Dara: Memang
Eli: kak Dara!!!
Dara menggeleng dan tak membalas pesan Eli. Ia memilih untuk melanjutkan bermain game peternakannya.
Ting
Dan lagi Eli mengirim sebuah foto. Pasti tentang pria itu lagi.
'Martabak!!!' Wajah Dara jadi manyun melihat foto martabak tersebut. Martabaknya tampak sangat spesial. Berlimpah toping. Pasti saat dimakan meleleh coklatnya. Ia jadi membayangkan sejenak.
Eli: Dia bawa martabak. Enak loh kak. coklatnya itu meleleh.
Eli: kak mau?
Eli: kemarilah. Biar disisakan.
Dara tertawa. Jika ia ke sana sama saja ia akan bertemu pria itu. Lagian ngapain juga dia kembali ke swalayan hanya untuk menerima martabak dari pria itu.
Dara: habiskan saja. Aku lagi di jalan nih. Bye.
Setelah membalas pesan, Dara kembali melanjutkan gamenya. Ia tidak ingin diganggu.
Tok
Tok
Tok
"Dara." Panggil Bunda mengetuk pintu kamarnya.
"Iya, Bun." Wanita itu bangkit dan meletakkan ponsel di tempat tidur. Ia melangkah akan membuka pintu.
"Dara... Ayah sama Bunda mau pergi kondangan. Kamu mau ikut?" tanya Bunda yang sudah berpakaian rapi.
__ADS_1
Dara menggeleng pelan.
"Ya sudah. Kami pergi sebentar. Kunci pintunya ya."
"Iya, Bunda." Dara pun berjalan menuju teras. Mengantar Ayah dan Bunda.
"Kamu hati-hati di rumah. Langsung kunci pintu. Kalau ada yang ketuk pintu, nggak usah dibuka." Ayah mewanti putrinya. Hari juga sudah malam.
"Iya, Ayah." Dara pun menyalami kedua orang tuanya. Lalu ia melambaikan tangannya.
Setelah sepeda motor itu sudah tidak terlihat lagi. Dara pun melangkah akan masuk.
"Dara..." Panggil seorang pria menepuk bahu Dara.
Dara kaget dan membalikkan tubuhnya. Alisnya menaut melihat pria di hadapannya.
"Dara... Aku ingin mengobrol sebentar denganmu."
Dara menatap datar Roni. Pria itu sudah tahu rumahnya. Dan berani-beraninya mendatanginya.
"Maaf, ini sudah malam. Pulanglah dan jangan pernah kemari lagi." Ucap Dara serius. Ia tidak mau kedua orang tuanya bertemu dengan pria ini. Pria yang sudah membuat malu mereka 7 tahun yang lalu.
"Ta-tapi, Dara. A-aku-" ucap Roni gugup.
"Maaf!" Dara membalikkan badan dan melangkah akan memasuki rumah.
"Dara! tolong maafkan aku!!!" Roni mengejar dan menahan Dara. Ia ingin berbaikan dengan sang mantan. Mantan yang pernah disakitinya.
"Tolong lepas tangan anda!" Ucap Dara melihat ke arah tangannya.
"Aku sangat menyesal saat itu. Tolong maafkan aku!!!"
"Apa anda tidak mengerti ucapanku?!" Wanita itu menaikkan intonasi suaranya sambil menepis tangan Roni. Tangan kekar dan besar yang sering bergenggaman dengannya kala itu.
Dara menghembuskan nafasnya kesal. Melihat Roni sekarang, menandakan pria itu mungkin sudah tahu tentangnya. Pria itu pasti sudah mencari tahu.
"Dara... Tolong maafkan aku. Aku tidak tenang jika kamu belum memaafkanku!" Ucap Roni dengan nada bergetar. Ia sangat tulus meminta maaf.
"Iya iya. Aku maafkan." Ucap Dara sambil mengangguk malas.
"Te-terima kasih!" Roni tersenyum senang walau Dara mengatakannya dengan terpaksa.
"Tolong jangan datang ke rumahku lagi atau menemuiku. Aku juga ingin tenang!" Senyuman tipis Dara tunjukkan pada Roni.
"Tolong... pergilah!!!" Ucap Dara menatap datar Roni sejenak, lalu ia pun melangkah masuk rumah.
Roni masih berdiri diam menatap wanita itu. Meski Dara bersikap datar dan seperti acuh padanya. Tapi, ia yakin masih ada sedikit rasa di hati Dara untuknya.
'Baiklah, aku akan berusaha memperbaiki semuanya! Aku akan merebut hatimu lagi, Dara...!!!'
Roni tersenyum sesaat lalu berlalu meninggalkan rumah Dara.
Sementara Dara yang telah masuk segera mengunci pintu rumah. Dari balik gorden ia mengintip pria itu.
Dara bernafas lega. Roni telah pergi. Orang tuanya sangat membenci Roni. Jika melihat pria itu di sini, entah apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya.
Dara menuju dapur dan membuka lemari es. Ia ingin makan sesuatu. Tapi hanya ada roti dan buah di lemari esnya.
'Kok jadi pengen martabak!'
__ADS_1
Gara-gara kiriman foto martabak dari Eli. Ia jadi ingin makan itu. Mau beli ke simpang, rasanya sangat malas. Jika tiba-tiba bertemu lagi dengan Roni.
Dara kembali ke kamarnya. Ia akan menelepon Bundanya saja, untuk membelikannya martabak.
"... Jangan lupa ya, Bun." Ucap Dara pada ponselnya.
"Iya, nak. Sebentar lagi kami pulang ini."
"Iya. Ayah sama Bunda hati-hati."
"Sudah kunci pintukan?"
"Iya, Bunda." Dara tersenyum. Bundanya terlalu mengkhawatirkannya.
Setelah menelepon Bunda, Dara berbaring di tempat tidur. Ia memandang langit-langit kamarnya.
Bergelut dengan pikirannya. Setelah tujuh tahun berlalu, ia dipertemukan dengan Roni kembali. Rasa marah dan ingin memaki pria itu, yang masih coba untuk Dara tahan. Tapi, perasaannya ini. Bahkan hatinya tiada berdebar melihat Roni. Berbeda dengan kala itu, yang selalu berdebar setiap waktu.
Dara mengangguk meyakinkan. Rasa sedih, sakit hati, kecewa bahkan tertekan yang membuatnya perlahan menghilangkan rasa cinta itu.
Ya, Dara pernah mencintai pria itu setulus hatinya. Menjadikan Roni satu-satunya pria di hatinya. Tapi, mungkin hanya dia saja yang seperti itu. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Hingga Roni lebih memilih Ratu dari pada dirinya.
'Ngapain mikirin dia lagi?!'
Dara menguap panjang. Perlahan matanya mulai tertutup. Ia akan tidur sebentar sambil menunggu kedua orang tuanya pulang.
Ting
Wanita yang sudah terlelap itu tersentak kaget mendengar suara pesan masuk. Tangannya merayap mencari ponsel di dekatnya.
Eli mengirim sebuah video. Dara menonton video itu sejenak.
Eli: kak Dara. Dia masih menunggu kakak loh.
Eli: kami sudah tutup ini.
Dara diam membaca pesan yang juga dikirim Eli. Pria itu masih menunggunya di sana. Padahal sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat.
'Siapa yang menyuruhnya menunggu di sana? Lagian jadi laki-laki kok keras kepala!'
Dara bingung. Padahal ia sudah mengacuhkan pria itu, tapi tetap saja pria itu datang mencarinya.
Apa dia harus menghubungi pria itu sekarang? Tapi mau bilang apa? Apa menyuruhnya pulang dan jangan menemuinya lagi?
Wanita itu menatap ponselnya pada kontak Yoan yang diblokirnya.
"Biarkan saja! Mungkin setelah ini dia akan sadar, kalau aku memang mengacuhkannya. Dan dia tidak akan datang menemuiku lagi!" Dara bermonolog sendiri di kamar. Ia akan bersikap itu adalah hal biasa dan tidak perlu merasa bersalah.
Tok
Tok
Tok
Dara melempar ponselnya dan segera berlari untuk membuka pintu. Pasti Ayah dan Bundanya sudah pulang. Mereka pasti membelikan titipannya.
'Martabak... I am coming!!!'
.
__ADS_1
.
.