KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 49 - BERTEMU CALON MERTUA


__ADS_3

"Apa AC-nya kurang dingin ya?" Yoan yang sedang menyetir menaikkan volume AC mobilnya.


"Ti-dak, sudah cukup kok!" tolak Dara yang merasa suhu sudah cukup dingin.


"Kamu kepanasan ya?"


"Tidak!"


"Terus kenapa muka kamu merah padam gitu?" tanya Yoan. Setelah tadi Dara menolak ciumannya, wanita itu wajahnya terus merah. Apa mungkin Dara masih malu?


"Me-merah? Tidak, wajahku biasa saja!" Dara memegangi wajahnya.


"Kalau kamu kepanasan, kamu bisa buka jendela atau-" Yoan menjeda sambil melirik Dara yang melihatnya.


"Atau buka baju kamu juga boleh!" sambung Yoan dengan cepat.


"Turunkan aku di depan!!!" pinta Dara yang mendadak kesal. Pria itu mulai genit.


"Hahaha... Dara, Dara aku becanda loh, sayang!" Yoan jadi tertawa melihat reaksi Dara. "Aku tidak akan melakukan itu, sebelum kamu sah menjadi istriku. Setelah menjadi istriku, kamu tetap menolak. Akan kupaksa kamu."


Dara memeluk tubuhnya sendiri. Tatapan Yoan seolah menerawang tubuhnya.


"Dara-Dara...!" Yoan menggelengkan kepala, sambil mengelus kepala wanitanya.


Tak lama, mobil Yoan berhenti di depan rumah Dara.


"Terima kasih telah mengantarku!"


"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu mau aku antar!" Yoan memperjelas ucapannya.


Dara membuka pintu mobil, ia pun mendengar Yoan juga membuka pintu sebelah.


"An-anda mau apa?" tanya Dara melihat Yoan akan turun.


"Aku mau singgah sebentar, sekalian pamitan sama orang tua kamu!" jelas Yoan. Ia merasa tidak sopan, jika tidak berpamitan.


"Ti-tidak usah! Orang tuaku sudah tidur." Ucap Dara. Hari juga sudah malam. Sudah hampir pukul 11 malam.


Yoan mengangguk mengerti dan tidak jadi keluar dari mobilnya, ia kembali menutup pintu.


"Ya sudah, titip salam saja sama mereka. Besok pagi aku jemput lagi."


Dara menatap Yoan, pria itu sudah hafal jadwalnya.


"Aku pulang. Anda hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut!" Dara mengingatkan.


"Kalau aku ngebut-ngebutnya di hati kamu saja, boleh nggak?" tanya Yoan menatap wajah yang masih seperti kepiting rebus itu.


"Jadi biar cepat aku memiliki hatimu!" Yoan menaikkan alisnya.


"A-a-aku pulang!" Dara mendadak gugup dan memilih keluar dari mobil itu. Pria itu sedang menggombalinya.


Seperti biasa, Dara berjalan kencang dan masuk ke rumahnya, tanpa menoleh ke belakang lagi.


'Dasar tukang gombal!!!' gerutu Dara sambil terus masuk ke kamarnya.


\=\=\=\=\=\=


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Dara membuka pintu dan terkejut melihat pria yang pagi-pagi sudah datang ke rumahnya.


"Pagi sayangku..." Sapa Yoan hangat. Pagi-pagi melihat wajah wanitanya.


"Siapa yang datang, Dara?" tanya Bunda.


"Saya Yoan, Tan. Saya mau mengantar Dara!" Yoan menjawab ucapan Bundanya.


"Oh Nak Yoan! Dara, ajak Yoan sarapan!" tawar Bunda.


"Baik-"


"Dia sudah sarapan, Bun." Jawab Dara menyela cepat. Ia tidak mau pria itu sarapan di rumahnya.


"Bundamu menawarkan loh." Yoan merasa tidak enak menolak.


"Ya sudah, sarapan saja sana. Aku akan berangkat sekarang!"


"Baiklah. Dasar pemarah!" Yoan yang gemas mengacak-ngacak rambut calon istrinya.


Setelah pamitan, mereka pun pergi. Yoan mengendarai mobil membelah jalanan pagi.


"Nanti sore aku akan menjemputmu dan kita langsung ke rumahku." ucap Yoan.


"A-aku belum mandi!"


"Nanti kamu mandi saja di rumahku, atau kita mandi bersama sa... ja!" Goda Yoan yang melirik tatapan laser wanita itu.


Bugh


Saat Yoan memberhentikan mobil di depan swalayan. Dara pun segera turun dan pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun. Melihat itu membuat Yoan jadi tertawa-tawa.


'Dasar pemarah!'


\=\=\=\=\=\=


Sepanjang jalan Yoan terus melirik wanita yang duduk di sampingnya.


Hari ini Dara begitu sangat cantik. Rambut digerai dengan sapuan sedikit make up di wajahnya.


Yoan tadi menjemput ke swalayan lalu mengantar Dara pulang. Karena wanita itu bersikeras akan mandi terlebih dahulu. Karena tak mungkin bolak balik, Yoan pun jadi menumpang mandi di rumah Dara.


Mobil berhenti memasuki halaman sebuah rumah mewah. Mata Dara terbelalak melihat rumah tersebut.


'Apa dia orang kaya?' batin Dara mendadak ragu. Pria itu ternyata orang berada, bagaimana tanggapan kedua orang tua Yoan, tentangnya yang orang seadanya saja?


"Ayo turun, sayang!" ucap Yoan seraya membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Ia pun membukakan pintu untuk Dara.


"Te-terima kasih." Ucap Dara sedikit gugup. Ia pun turun dari mobil.


"Ayo, Papa sama Mama sudah menunggu kita!" ucap Yoan meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat.


"I-itu... bawaan!"


Yoan mengangguk. Ia pun mengambil buah tangan yang tadi mereka beli di jalan. Padahal kedua orang tuanya tidak masalah, jika Dara tidak membawa apapun. Tapi wanita itu malah bersikeras untuk membawanya.


Yoan menggandeng Dara dan tangan lainnya membawa bungkusan buah tangan.


"Ma-maaf!" Dara mau menarik tangannya. Tapi Yoan malah makin mengeratkan tangannya.


'Tangannya hangat!' Batin Dara melihat pria itu. Sepertinya sudah lama ia tidak pernah bergandengan tangan dengan seorang pria lagi.


"Yoan!!!" ucap Mama yang berjalan menyambut mereka. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat Dara. Tipenya Yoan ternyata cantik, imut dan menggemaskan.

__ADS_1


"Ma, kenali ini Dara. Kekasihku dan calon istriku!" Yoan memperkenalkan Dara.


"Se-selamat malam Tante. Saya Dara, saya temannya Yoan." Dara memperkenalkan diri sambil menyalami Ibu Yumi.


"Teman hidup maksud Dara." Sahut Yoan membenarkan. Ia sudah memperkenalkan seperti itu. Lah Dara malah mengatakan ia adalah temannya.


Mama tersenyum melihat Dara yang sangat sopan menyalaminya.


"Ayo kita masuk!" Ajak Mama lembut. Melihat Yoan memperkenalkan wanita, berarti putranya sudah move on dari masa lalu.


"I-iya, Tante."


"Kamu jangan gugup gitu sama Mama dan jangan panggil tante panggil Mama."


Dara mengangguk pelan. Ia jadi canggung dan malu.


Sementara Yoan dari belakang mengikuti. Mamanya begitu bersemangat membawa Dara masuk. Mamanya memang sangat welcome.


Di ruang tamu, Mama memperkenalkan Dara pada suaminya.


Papa menganggukkan kepala melihat wanita yang dibawa pulang putranya. Wanita muda itu menyalami dirinya.


Dara duduk di samping Yoan dan kedua orang tua Yoan di hadapan mereka.


"Dara... Hari minggu ini kami akan datang ke rumah kamu. Minggu depannya kalian langsung menikah saja ya!" saran Mama yang begitu bersemangat. Niat baik tidak boleh ditunda-tunda.


Dara melihat ke arah Yoan. Mengatakan dengan tatapan jika itu terlalu cepat.


"Ma, minggu depannya lagi terlalu lama. Hari minggu ini kita datang ke rumah Dara, seninnya kami langsung menikah!" saran Yoan yang tidak sabaran.


Dara menghela nafas melihat Yoan. Pria itu sama saja seperti Mamanua.


"Minggu depannya saja. Bagaimana Dara?"


"Senin saja ya, sayang!"


"Minggu depan, Yoan!"


"Senin ini, Mama."


"Minggu depan!"


"Senin ini, Ma!"


Dara terbengong melihat perdebatan ibu dan anak tersebut. Ia juga melihat Papanya Yoan yang menggeleng melihat mereka, seolah sudah terbiasa.


"Maklumi saja ya mereka!" ucap Pak Dana pada Dara.


Dara mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


"Pa, minggu depan kan?"


"Senin ini kan, Pa?"


Kini mereka berdua bertanya pada ketua genk di rumah itu.


"Bulan depan saja."


"Papa kelamaan!!!" kompak Ibu dan anak itu berucap.


"Kita harus bicarakan dengan keluarga Dara juga..."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2