
Roni sedang mempresentasekan hasil kinerja timnya saat rapat bulanan. Pria itu berusaha fokus, meski pikirannya terlintas tentang Dara.
Setelah sekian lama, ia akhirnya dipertemukan lagi dengan Dara. Banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tentang kabar Dara atau mungkin bertanya tentang status calon mantan pengantinnya. Sudah menikah atau...
'Dia bekerja di sana ternyata? Nanti aku harus menemuinya lagi!'Roni berniat akan mendatangi Dara lagi ketika pekerjaannya telah selesai.
Suasana di ruangan rapat itu terasa sangat dingin dan menegangkan. Pasalnya, sepasang mata dengan sorot tajam tanpa ekspresi sedang mendengarkan dengan fokus. Sorot mata yang sulit diartikan. Petanda baik atau malah sebaliknya.
El menarik nafas pelan, ia melirik ekspresi atasannya tersebut. Yoan masih marah dan kesal padanya perihal nomor palsu tersebut.
Padahal El sendiri juga tidak mengira, jika wanita di dalam pesawat itu ternyata memberikan nomor ponsel yang salah. Ia dibohongi oleh wanita tersebut.
'Lama sekali sih mencari informasi itu?!' El menatap layar ponselnya. Belum ada panggilan atau pesan masuk dari orang yang ditunggunya.
Tadi pagi Yoan sudah memerintahkannya menyewa orang untuk mencari informasi tentang Dara. Sudah tiga jam berlalu, tapi belum juga ada kabar berita dari mereka.
Tak lama rapat yang menegangkan itu akhirnya selesai juga. Yoan keluar dari ruangan itu diikuti El dari belakang. Wajah Yoan masih datar seperti jalan tol.
Begitu Yoan sudah keluar ruangan. Para karyawan yang berada di ruangan rapat itu langsung menghela nafas lega. Atasan baru mereka itu sangat menyeramkan. Selama rapat tidak menunjukkan wajah bersahabat. Datar saja.
"El..."Ucap Yoan setelah sampai di ruangannya. Ia duduk di kursi kebesarannya itu dengan mata yang tertuju pada asisten yang berdiri di hadapannya.
"Be-belum ada kabar, Pak." Ucap El yang seolah mengerti apa yang akan ditanyakan Yoan. Apalagi, selain informasi tentang wanita itu.
"Kenapa lama sekali mencari informasi seperti itu saja, El?!" Yoan menghembuskan nafasnya berkali-kali. Pergerakan mereka terlalu lelet. Seharusnya sat set sat set memberikannya informasi.
"Pasti kamu sewa yang amatiran, kan?! Saya sudah katakan untuk sewa yang profesional. Harus yang sangat-sangat profesional, El. Saya tidak peduli berapapun biayanya. Yang penting saya harus mendapatkan informasi yang jelas dan benar tentangnya!" Ucap Yoan yang sangat tidak sabaran. Asistennya itu sekarang sangat payah sekali. Untuk informasi seperti itu, masa ia harus menunggu sampai berhari-hari.
Yoan sudah meyakinkan dirinya. Dia akan mencari Dara. Dara tidak jadi menikah dengan pria yang menjemputnya di bandara. Itu pertanda bahwa wanita itu sedang sendiri.
Yoan akan mendekati Dara. Dan menjadikan wanita itu miliknya. Hanya miliknya seutuhnya.
"Saya akan menelepon mereka. Permisi, Pak." El pun memilih undur diri. Dari pada mendengar ucapan pria itu panjang kali lebar.
\=\=\=\=\=\=
El sedang berjalan di lobi kantor. Ia meraih ponsel dalam saku, ketika ada panggilan masuk.
"Halo..." Jawabnya setelah ponsel menempel di telinga.
...
"Oh benar-"
__ADS_1
Bruak
El yang sedang berbelok tak sengaja menabrak pundak seorang wanita yang berpapasan dengannya. Membuat wanita itu jatuh terduduk di lantai.
"Maaf, kamu tidak apa?" El mengulurkan tangan akan membantu wanita itu berdiri. Tangan yang satunya masih memegang ponsel di telinga.
"Oh... Kirimkan semuanya secara rinci. Segera!!!" Ucap Pria itu segera membenarkan posisi berdirinya. Tanpa mengatakan apapun ia segera pergi. Ia tak jadi membantu wanita itu untuk berdiri. El harus segera menuju ruangan Yoan, untuk memberitahukan hal penting yang sudah dinantikan atasannya tersebut.
'Astaga!!! Dia pergi begitu saja?! Dasar pria tidak mempunyai perasaan!!!' Dumel Eka kesal. El meninggalkannya begitu saja.
Eka tadi sudah merencanakan drama romatis dengan pria itu. Berpura-pura terjatuh lalu ditolong El. Tapi... belum lagi drama khayalannya di mulai, pria itu sudah kabur. Seperti sudah tahu saja akan rencana terselubungnya.
El melangkahkan kaki lebar menuju ruangan atasannya. Ia akan menyampaikan informasi itu segera. Agar Yoan tidak terus menerus memasang wajah seperti itu. Wajah yang membuat karyawan ingin segera resign saja.
Tok
Tok
Tok
El mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk."
"Ada apa?" Tanya Yoan dengan nada datar. Tatapan matanya juga fokus menatap layar komputer. Tak melihat orang yang masuk.
"Saya sudah dapat informasinya-"
"Benarkah?!" Yoan memastikan. Raut wajah datar itu mendadak tersenyum tipis. Seperti mendapat angin segar.
"Benar, pak." El mengangguk mengiyakan. Ia pun meraih ponselnya. Akan membacakan informasi yang diterimanya.
"Namanya Da-"
Yoan menaikkan tangannya. "Saya akan bertanya, apa yang saya ingin tahu saja."
El mengangguk. Terserah pria itu sajalah.
"Ok. Nama panjangnya?" Tanya Yoan segera. Ia harus tahu nama wanita itu terlebih dahulu.
"Nama Dara Natasha."
Yoan mengangguk pelan. "Dara Natasha. Nama yang cantik secantik pemilik namanya." Gumamnya membayangkan wajah Dara.
__ADS_1
El menatap pria itu dengan tatapan aneh. Atasannya benar-benar kasmaran dengan wanita itu.
"Hmm... usianya?" Tanya Yoan kembali. Usia juga penting. Tapi, usia Dara pasti masih jauh dibawahnya.
"Usianya 32 tahun, Pak." Jawab El sedikit memelankan suaranya.
"32?" Yoan memastikan kembali sambil menaikkan alisnya. Ternyata Dara berusia 32 tahun. Ia tidak mengira wanita itu ternyata sudah berkepala tiga.
"Benar, pak. Usianya 32 tahun." El memperjelas lagi.
'Nggak masalah! Masih tuaan aku 2 tahun!' Yoan mengangguk-anggukkan kepala.
"Apa statusnya?" Tanya Yoan kembali. Status ini yang terpenting. Usia Dara sudah matang. Mungkin wanita itu adalah seorang janda. Jika pun Dara janda, Yoan juga tidak peduli. Karena Dara adalah janda menggemaskan.
Yoan lalu melihat El dengan serius. Rasa penasaran dan gugup bercampur menjadi satu menunggu jawaban El.
"Belum menikah. Ia hampir-"
"Yes!!!" Sela Yoan dengan sorak gembira. Dara belum menikah, ia makin bernafas lega.
"Ok. Sekarang kamu kirim nomor ponselnya, alamat rumahnya. Oh iya, apa dia bekerja? Jika iya, kirim juga lokasi di mana ia bekerja." Sambung Yoan kembali dengan semangat 45.
Yoan berencana akan bergerak cepat. Dara belum menikah, berarti kesempatannya masih terbuka lebar.
'Swalayan indah?!' Yoan mengangguk pelan. El sudah mengirimkan alamat Dara bekerja. Wanitanya bekerja di sebuah swalayan.
Yoan menatap arlojinya sebentar. Lalu mengangguk sambil tersenyum. Ia bangkit dan membereskan mejanya.
"Pekerjaan sudah selesai. Saya harus segera pulang." Ucap Yoan seraya membenarkan jasnya.
"Maaf, pak. 10 menit lagi ada rapat de-" El akan mengingatkan pria itu. Waktu juga masih menunjukkan pukul 2 lewat.
Yoan menaikkan tangannya. "Undur besok saja. Aku sekarang sangat sibuk, El."
Dengan hati senang dan gembira, Yoan melangkah dengan begitu semangat meninggalkan ruangannya. Ia akan menemui wanitanya. Wanita yang sudah mencuri hatinya.
'Dara, sayangku... Tunggu aku!!! Aku yakin kita akan bersama selamanya!!!'
.
.
.
__ADS_1