KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 42 - TUKANG OJEK


__ADS_3

"Dara... Kok seperti dikejar setan?"


Dara berjalan cepat menuju rumahnya. Ia tidak menjawab pertanyaan dari para tetangga.


"Dara pulang!" ucapnya lalu masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, berkali-kali Dara menghembuskan nafasnya. Pria itu membuatnya sangat gugup. Yoan seharian ini terus menerus melakukan kontak fisik dengannya.


Belum lagi, pria itu kembali mengajaknya menikah. Tah apa yang ada dipikirkan pria itu saat mengatakannya.


'Kenapa dia mau menikah denganku? Apa yang dilihatnya dariku?' Dara tidak mengerti dengan Yoan. Begitu banyak wanita yang cantik, seksi bahkan yang fresh dan lebih muda darinya. Tapi, pria itu malah mengejarnya.


'Apa aku tanya alasannya?!' Dara segera menggeleng. Malu dong dia bertanya seperti itu.


Dara berbaring di tempat tidur. Ia mulai mengingat, di mana awalnya ia bertemu dengan pria itu?


Yang Dara ingat, Yoan itu adalah pria aneh yang mengajaknya menikah di pinggir jalan. Tanpa aba-aba atau basa basi. Bahkan kenal pun tidak. Tapi pria itu mengenalnya, berarti mereka bertemu sebelumnya. Tapi di mana?


'Aku mau mandi!' Dara pun bangkit dan menuju kamar mandi. Ia akan membersihkan diri dari pada mengingat pria itu.


Malam itu Dara menatap layar ponselnya.


Si Aneh, memanggil...


Begitulah yang tertera di layar ponselnya. Dara bingung, mau mengangkatnya atau tidak.


"Halo." Jawab Dara memilih menjawab panggilan tersebut.


Sementara Yoan terdiam sesaat, Dara menjawab teleponnya. Ia melihat layar ponsel, memastikan bahwa panggilannya memang terhubung.


"Halo." Ucap Dara kembali saat tak ada sahutan.


"Ha-halo Dara. Selamat malam." Sapa Yoan dengan gugup. Pria itu berkali-kali menghembuskan nafasnya.


"Malam." Jawab Dara singkat.


"Lagi apa kamu?"


"Lagi menelepon."


Yoan memijat pelipisnya. Tak ada yang salah dengan jawaban Dara.


"Kenapa belum tidur?"


"Belum ngantuk." Jawab Dara singkat kembali.


Tik... Tik... Tik...


Detik demi detik berlalu. Tak ada lagi obrolan. Dara menunggu Yoan bicara, sementara Yoan bingung mau mengobrol apa.


"Be-besok kamu masuk apa?" tanya Yoan mencari topik.


"Anda bisa melihat jadwalku."


Yoan salah tanya lagi. Ia sudah memiliki jadwal Dara, kenapa malah bertanya.


"Ya sudah, istirahatlah."


"Iya."

__ADS_1


"Selamat malam, sayang!"


Bip


Dara segera mengakhiri panggilan. Pria itu lagi-lagi memanggilnya sayang.


'Kenapa dia gugup begitu?!' Dara jadi tersenyum tipis. Pria itu begitu gugup bicara ditelepon.


Pagi itu Dara akan bersiap pergi kerja. Saat berpamitan, suara pesan terdengar dari ponselnya.


Si Aneh: aku sudah sampai depan


'Dia jemput lagi?!' Dara melihat jam dinding yang masih pukul 06.30. Pria itu telah sampai saja, jam berapa Yoan bangun dan keluar dari rumah?


"Dara pergi ya, Bun."


"Hati-hati ya, Nak."


Dara berjalan menuju simpang gangnya. Ia akan menemui pria itu, dari pada nanti dicegat lagi.


'Dara!!! Aku harus bicara denganmu!' Seorang pria melajukan mobil mengikuti wanita yang berjalan tergesa-gesa.


Sementara Dara, saat keluar gang melihat mobil Yoan. Ia menghembuskan nafas berkali-kali.


"Dara..." Panggil Yoan saat melihat Dara. Ia tadi menunggu di luar mobil.


"Kenapa anda datang lagi?" tanya Dara.


"Ayo naik!" Yoan membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Dara masuk.


Dara pun naik ke mobil Yoan. Setelah naik pria itu menutupkan pintu. Lalu Yoan naik dari pintu lainnya.


'Apa mereka back street?' Roni bertanya-tanya. Yoan tidak menjemput Dara langsung dari rumah. Dan malah menunggu di tepi jalan.


"Anda bangun pukul berapa?" tanya Dara.


"Kenapa?" tanya Yoan kembali.


"Kenapa jam segini anda sudah sampai di sekitar rumahku saja?" tanya Dara mendadak ingin tahu.


"Jam 5 pagi. Aku bangun jam 5. Lalu jam 6 lewat aku keluar dari rumah." Jawab Yoan apa adanya. Ia memang memaksa untuk bangun lebih awal, agar bisa mengantar Dara pergi bekerja.


Dara melihat pria itu dengan wajah sendu. Pria itu terlalu memaksakan diri.


"Lain kali tidak usah menjemputku lagi!" Dara akan menolak Yoan. Ia merasa sedikit kasihan. Pasti pria itu jadi berputar-putar arah untuk mengantarnya.


"Kamu khawatir padaku?" tanya Yoan menangkap ekspresi Dara.


"Si-siapa yang mengkhawatirkan anda?!" sanggah Dara tidak terima, dengan cepat merubah ekspresinya. "Anda tidak perlu menjemputku. Anda bukan tukang ojek!"


Yoan jadi tertawa. Ia mengelus kepala Dara sebentar.


"Apa anda sudah sarapan?" tanya Dara. Pria itu keluar pagi-pagi, mungkin belum sempat sarapan.


"Be-belum. Aku belum sarapan!" bohong Yoan. Padahal ia tadi masih sempat sarapan di rumah.


'Lah... cuma tanya saja?!' Yoan kecewa. Dara ternyata hanya bertanya. Tadinya ia berpikir Dara akan mengajaknya sarapan bersama.


Yoan memberhentikan mobil di depan swalayan. Mereka kini telah sampai.

__ADS_1


"Tolong jangan mendatangiku saat bekerja." Ucap Dara sambil membuka sabuk pengamannya. Ia merasa tidak nyaman dan terganggu dengan pria itu.


"Ma-maaf!!!" Yoan meminta maaf. Ia juga menyadari ketidaknyamanan Dara padanya.


"Ya sudah, aku masuk!" Dara membuka pintu mobil.


"Boleh aku menjemputmu nanti sore?" tanya Yoan. Ia akan bertanya terlebih dahulu, agar membuat Dara nyaman dengannya.


Kepala Dara mengangguk, tanda ia setuju dijemput Yoan kembali. Hal itu membuat pria tampan itu tersenyum.


"Kalau cium kamu boleh nggak?" tanya Yoan kembali.


Dara menunjukkan wajah sinis. Lalu...


Bugh...


Dara turun dan menutup pintu mobil, wanita itu berjalan cepat masuk ke swalayan.


Lagi dan lagi, nafas Dara berhembus kencang berkali-kali. Ia kesal mendengar pertanyaan pria itu yang memancing emosi.


Sementara di dalam mobil, Yoan tertawa bahagia. Menggoda Dara membuatnya sangat senang.


Sambil menunggu waktu, Yoan memainkan ponselnya. Hari masih pagi, ia tidak mau terlalu cepat ke kantor.


Tuk... Tuk... Tuk...


Yoan menoleh karena kaca mobilnya diketuk. Ia pun membuka kaca mobilnya.


"Ada a-"


"Ini!" potong Dara memberikan sebungkus roti dan sebotol minuman. Pria itu katanya belum sarapan.


"Te-terima kasih!" Yoan senang dengan perhatian Dara. Wanita itu ternyata sangat peka.


"Berapa?" tanya Yoan segera. Ia tidak mau Dara membayar makanan dan minuman itu.


"Tidak usah." Tolak Dara.


"Tidak bisa. Aku harus membayarnya." Yoan merasa tidak enak hati.


"Tidak apa. Anggap saja itu bayaran karena telah mengantarku." ucap Dara.


"Dara... Aku bukan tukang ojek!" Yoan tidak mau dianggap seperti itu.


"Makanya tidak usah mengantar atau menjemputku lagi!" Dara kembali menegaskan.


Yoan mendengus mendengar ucapan Dara. "Aku tidak mau dibayar dengan ini!" Menunjukkan makanan tersebut.


"Aku tidak punya uang!" menurut Dara tarif ojek lebih mahal dari naik kenderaan umum. Naik ojek sepeda motor saja lumayan, apalagi ojek mobil.


"Bayar aku dengan cara lain!" saran Yoan.


Dara menautkan alisnya. Sepertinya pria ini mulai kurang ajar.


"Misalnya... dengan memberikan hatimu padaku!" Yoan menaikkan alisnya, kembali menggoda Dara.


"Aku mau lanjut kerja!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2