
"Selamat datang di rumah baru kita!" ucap Yoan dengan senyum melebar.
"Kita tinggal di sini, Mas?" tanya Dara memastikan.
"Benar, sayang. Kita tinggal di sini. Aku, kamu dan anak-anak kita." Yoan sudah membayangkan membangun keluarga kecil bahagia bersama istri tercintanya.
Dara tersenyum. Perkataan Yoan membuatnya berdebar.
"Mas Yoan..." Ucap Dara manja dan memeluk pria itu. Ia merasa sangat senang dan bahagia. Ada dirinya dalam rencana suaminya itu.
Yoan memeluk Dara erat, lalu ia mengangkat tubuh Dara berputar-putar. Membuat Dara jadi seakan terbang.
"Mas, aku pusing nih." Dara memegangi kepalanya.
"Biar aku pijat." Yoan mengendong Dara dan membawanya ke kamar.
"Mas, turunkan aku."
"Kamu kan pusing. Biar aku pijat."
"Sejak kapan Mas jadi tukang pijat?"
"Sejak menikah denganmu. Sejak saat itu tanganku mahir pijat memijat." Yoan menunjukkan senyum genitnya.
"Mas Yoan!!!" Dara menepuk pundak suaminya. Yoan benar-benar pria me-sum.
"Mas, aku sudah tidak apa." Ucap Dara setelah Yoan meletakkan di tempat tidur.
"Sebentar ya." Yoan membenarkan bantal Dara. Ia lalu mendaratkan satu kecupan di kening istrinya.
Yoan lalu keluar dari kamar dan tak lama masuk kembali.
"Masih pusing?" tanyanya sambil melumuri kening Dara dengan minyak angin. Lalu mengelus-elus kepala Dara.
"Sudah, Mas. Terima kasih." Dara mendudukkan diri di tempat tidur.
"Cuma terima kasih?"
"Jadi?"
Dara mendengus, Yoan memajukan bibirnya. Pria itu sangat perhitungan.
"Pejamkan dulu mata, Mas." pinta Dara
"Nggak usah pakai pejam-pejam, langsung gas." Yoan sangat tidak sabaran.
Dara menunjukkan wajah cemberutnya, membuat Yoan jadi menurut.
"Baiklah." Mata Yoan pun terpejam.
Dara pelan-pelan turun dari tempat tidur. Ia pun mengendap-endap keluar kamar.
"Sayang, cepat dong. Kok lama? Aku sudah tidak sabar nih."
"Sayang..."
"Sayang..."
Yoan membuka matanya, karena Dara tidak menanggapinya.
"Sayang, kamu mengerjaiku ya." Yoan pun berlari keluar kamar. Dara sudah tidak ada di tempat tidur. Istrinya mendadak hilang.
__ADS_1
"Sayang..."
Dara yang sedang minum tersenyum geli. Yoan menghampirinya dengan wajah cemberut.
"Aku haus, Mas." Alasan Dara menjawab pertanyaan di wajah Yoan.
"Mas Yoan, mau minum apa? teh, kopi atau susu?" tanya Dara memberi pilihan.
"Hmm... Kopi susu dingin."
"Sebentar ya, aku buatkan." Dara mengangguk. Ia membuka lemari dan tersenyum. Lemari sudah penuh dengan bahan makanan. Pria itu sudah mengisinya.
"Sayang, susunya ditambah lagi ya." Ucap Yoan ingin yang spesial. Ia melirik ke arah gunung kembar tersebut.
"Mas, takaran dalam kemasan sudah pas. Nggak boleh ditambah lagi. Nanti-" Dara melihat arah mata Yoan.
"Tambah susu yang itu. Nggak apa banyak-banyak, karena murni dan tanpa pengawet." Yoan menunjuk dengan mulutnya ke area pegunungan.
"Mas Yoan!!!" Dara kembali mencubit perut Yoan. Pria itu bukannya kesakitan malah tersenyum nakal.
\=\=\=\=\=\=
"Sayang, segitiga kamu bagus ya..."
"Ada renda-rendanya."
"Yang ini tipis dan agak menerawang. Pasti wow..."
"Kaca mata gantungnya, ini talinya gimana mengikatnya?"
"Yang ini busanya tebal. Kamu jangan pakai ini keluar rumah, bisa bahaya. Sangat bulat dan besar."
"Wah, sayang... kamu punya pakaian berongga begini. Nanti malam pakai ya, aku mau lihat. Kalau kamu masuk angin, aku kerokinlah..."
"Aku mau membantu kamu." Ucap Yoan merasa tidak bersalah. Ia mengeluarkan isi dalam koper Dara. Dan isi koper Dara sangat aduhai sekali.
"Mas Yoan!!!" Dara jadi kesal sekaligus malu. Ia mempercat memasukkan pakaianmya ke dalam lemari. Besok-besok saja ia akan menyusunnya supaya rapi.
Lalu Dara memindahkan pakaian Yoan dari koper ke dalam lemari.
"Mas, besok kita mau masak apa?" tanya Dara.
"Beli saja." Yoan masih membuka tas Dara yang lain. Membongkar perlengkapan kecantikan.
"Masa beli sih, Mas. Kita masak saja ya." Ucap Dara. Besok orang tua Yoan dan Dara akan datang ke rumah mereka.
"Ya sudah, terserah kamu saja." Yoan masih sibuk. Ia sengaja membongkari barang-barang Dara. Mana tahu masih ada sisa-sisa mantan yang tertinggal.
"Sayang, ini apa? panjang 26cm?" Yoan membaca bungkusnya.
"Mas Yoan!!!" Dara meraih bungkusan pembalut itu. "Mas, jangan dibongkar lagi."
"Aku sedang membantu loh, sayang." Ucap Yoan santai.
Kini Yoan melihat dompet Dara. Ia tersenyum, isi domper istrinya hanya selembar uang hijau. Pria itu mulai mencari diselip-selipan. Mungkin Dara menyimpan foto mantan.
"Mas Yoan!!!" pekik Dara kesal. Pria itu sekarang menggeledah dompetnya.
"Apa begini wanita ya? banyak selipannya." Yoan jadi menggelengkan kepala, saat menemukan beberapa uang merah yang diselip-selip di dompet tersebut.
"Mas, cari apa sih?" Dara memicingkan matanya. Melihat perbuatan pria itu, sepertinya ada yang mau dicari tahunya.
__ADS_1
"Nggak ada!" jawab Yoan santai. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu atm lalu meletakkan di dompet Dara.
"Mas itu-"
"Itu tanggung jawabku padamu." Sela Yoan yang tidak mau berdebat dengan Dara.
"Kamu pakai untuk kebutuhan rumah sehari-hari. Terus untuk kebutuhan kamu juga." Yoan lalu mengembalikan dompet Dara.
"Kalau aku pakai buat beli tas boleh?" tanya Dara ingin tahu. Mungkin Yoan hanya memberikannya uang belanja bulanan.
Yoan mengangguk. "Tas, sepatu, baju, perhiasan... terserah kamu saja. Isi di kartu di atm itu bisa membayar apa saja yang kamu beli." Ucap Yoan kembali. Ia akan mencukupi apapun yang dibutuhkan dan diperlukan istrinya.
"Hmm." Dara tampak berpikir.
"Kalau aku beli... Mall beserta isinya. Atm ini masih bisa membayar tidak?" tanya Dara sambil menahan senyum. Apa yang mau dijawab suaminya?
"Kamu mau beli Mall?" tanya Yoan serius.
Dara mengangguk pelan.
"Benar, Mas. Kalau bisa Mallnya di depan rumah kita saja. Jadi aku bisa jalan kaki saja ke sana kalau bosan di rumah..." Ucap Dara sambil menahan senyum. Mengkhayal seperti itu seru juga ya.
"Baiklah." Yoan mengangguk dan mengambil ponsel.
Dara menyatukan alisnya, ia tidak mengerti dengan perkataan suaminya.
"Halo, El. Tolong kamu urus sesuatu. Beli beberapa rumah di depan rumah baru saya, lalu ratakan saja..."
...
"... saya mau membangun Mall di depan rumah untuk istri saya."
'Astaga!!!' Dara kaget mendengar pembicaraan suaminya. Yoan serius menanggapi ucapannya.
Dara segera meraih ponsel Yoan dan mengakhiri panggilan.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Aku sedang membicarakan rencana pembangunan mall."
"Mas. Aku hanya becanda." Tegas Dara menolak cepat.
"Sudah tidak apa. Aku akan mengabulkan keinginanmu." Yoan ingin Dara bahagia bersamanya.
"Mas, aku becanda loh. Aku hanya becanda!!!"
"Sayang, aku akan membuatkan itu. Aku tidak mau kamu kecewa. Aku akan melakukan semu-"
Dara menarik leher Yoan dan mendaratkan bibirnya. Ia mencium Yoan, dari pada Yoan terus membahas khayalannya itu.
Membangun Mall di depan rumah, itu terasa menggelikan. Khayalan yang sulit dicerna.
"Mas... aku menginginkanmu!" ucap Dara disela ciuman memabukkan itu.
Yoan mengendong Dara dan membawa istrinya kembali ke kamar, dengan bibir mereka yang seolah enggan berpisah.
"Aku sangat mencintaimu..."
"Mas Yoan..." Dara kembali melayang.
Mereka kembali memadu cinta dan kasih hingga ranjang bergoyang...
.
__ADS_1
.
.