
Air mata Yoan jatuh berlinang membasahi pipi. Dara yang melihat suaminya itu meneteskan air mata jadi merasa geli.
"Mas Yoan..." Ucap Dara sambil mengusap air mata suaminya dengan jemari tangannya. Air mata Yoan bukannya berhenti, malah terus berlinang.
"Sudah... aku tidak apa, sayang." Yoan menggelengkan kepalanya, air matanya masih saja berjatuhan.
"Mas Yoan, biar aku saja ya!" Dara meraih pisau dan bawang dari tangan Yoan.
"Sayang, aku mau membantu kamu." Ucap Yoan, ia ingin membantu istrinya memasak. Tapi hanya mengupas bawang saja, ia sudah sesedih ini.
"Mas, nanti bantu mencicipinya saja. Mungkin kurang asin atau gurih." Dara membawa Yoan ke wastafel. Ia mencuci tangan Yoan lalu menyabuninya juga. Supaya tangan suaminya tidak panas.
Setelah itu, Yoan pun duduk di kursi meja makan. Ia menyanggahkan dagu sambil melihat pergerakan istrinya, yang sedang sibuk memasak.
"Mas Yoan, coba rasa. Sudah pas belum?" Dara menyodorkan sesendok masakannya. Ia meniup pelan, lidah Yoan bisa melepuh jika panas-panas disuapkan.
"Bagaimana?" tanya Dara setelah menyuapkannya ke mulut Yoan.
Yoan tersenyum sambil mengangkat kedua jempol tangannya. Masakan istrinya sangat enak.
"Mas, mau makan?" tanya Dara. Mungkin Yoan sudah lapar. Hari juga sudah menjelang siang.
"Nanti saja, sayang. Sekalian makan sama keluarga kita." Jawab Yoan. Jika ia makan sekarang, ia akan kekenyangan.
Dara mengangguk dan menyalin masakannya ke dalam piring. Lalu menyimpan ke dalam lemari makan.
"Mas, sudah jam berapa ini?" tanya Dara. Orang tua mereka akan datang saat jam makan siang.
"Jam 11."
"Kita harus bersiap, Mas."
"Ok. Ayo... kita mandi!" Yoan pun mengendong Dara.
"Mas, turunkan aku." Dara menggeliat. Suaminya ini sekarang main angkat-angkat saja.
"Kita mandi bareng saja. Jadi bisa menghemat waktu dan air pastinya." Yoan pun dengan wajah bahagia menggendong Dara masuk ke kamar.
"Astaga, Mas Yoan!!!"
\=\=\=\=\=\=
"Bagaimana rasanya masakan istriku?" tanya Yoan pada para orang tua mereka yang sedang menikmati hidangan yang tersaji.
Istrinya sudah turun tangan, memasak untuk kedua orang tua mereka.
"Ini sangat enak." Puji Papa sambil menganggukkan kepala.
"Benar, ini sangat enak. Dara belajar masak dari Bundanya ya?" tanya Mama sambil tersenyum ke arah Bunda.
__ADS_1
"Iya, Ma. Bunda sering mengajari Dara masak." Jawab Dara.
"Pantas rasanya sangat enak. Sama seperti saat kami datang melamar Dara. Masakan Bundanya Dara sangat lezat!" Ucap Mama tersenyum melihat Bunda.
"Ibu terlalu memuji." Bunda jadi tersenyum.
"Benar! Sangking enaknya saat itu, saya mau minta dibungkus. Tapi malu!" ucap Mama sambil tertawa.
Mereka jadi tertawa mendengar perkataan ibu Yumi. Suasana makan siang itu terasa hangat dan kekeluargaan.
\=\=\=\=\=\=
Dara sedang memotong-motong buah di dapur. Para lelaki sedang mengobrol di ruang tamu. Sedang Mama dan Bundanya melihat-lihat sekeliling rumah.
Mama tersenyum senang. Yoan memberikan kehidupan yang layak untuk istrinya itu. Setidaknya Mama jadi tidak malu pada kedua orang tua Dara.
Begitu juga Bunda. Wanita paruh baya itu bersyukur, Yoan memberikan kehidupan yang layak untuk putrinya. Ia juga lega saat melihat wajah bahagia Dara. Pasti Yoan memperlakukan putrinya dengan sangat baik.
"Bu, rumahnya sangat bagus." Puji Bunda. Rumah ini lebih besar dari rumah mereka.
"Iya. Semoga Dara suka dan betah ya Bu tinggal di sini." Harap Mama.
"Pasti Dara betah. Apalagi ada Yoan selalu." Timpal Bunda. Ia dapat merasakan perasaan cinta saat kedua sejoli itu saling menatap.
"Benar. Saya merasakan mereka saling mencintai. Yoan sangat bucin dengan Dara..."
Keduanya pun mengobrol sambil berjalan kembali ke dapur.
"Mama sama Bunda, mau buah?" tawar Dara melihat kedua paruh baya itu datang.
"Boleh. Kita bawa ke depan saja ya." Mama mengambil piring berisi buah yang telah Dara potong.
"Biar Dara saja yang bawa." Dara merasa segan.
Mama tetap membawa piring tersebut, lalu Bunda membawa gelas minum. Dara pun jadi membawa yang lainnya.
Mereka bergabung dengan para lelaki. Saling mengobrol penuh canda dan tawa.
Orang tua Yoan senang, orang tua Dara menerima putranya. Bahkan menganggap Yoan seperti putra mereka sendiri.
Begitupun orang tua Dara. Mereka juga senang, orang tua Yoan sangat welcome pada putri mereka.
"... Jadi kalau dalam berumah tangga, jika ada masalah itu harus diselesaikan dengan kepala dingin." Ucap Mama memberi wejangan.
Yoan dan Dara akan tinggal terpisah dari mereka. Jika pasangan itu ada masalah, maka Yoan dan Dara yang harus segera menyelesaikannya.
Mereka para orang tua akan tahu belakangan. Akan menasehati dan bermusyawarah di saat masalah itu tidak bisa diselesaikan kedua sejoli itu.
"Benar itu. Jangan sampai karena emosi, jadi main tangan!" timpal Ayah tegas dengan sorot tajam ke arah Yoan. Ayah sudah mewanti-wanti, agar Yoan tidak main tangan dengan putrinya. Ayah sudah tidak berada di sisi putrinya lagi.
__ADS_1
"Ti-tidak, Yah." Sanggah Yoan gugup. Ia tidak akan melakukan kdrt terhadap Dara. Karena ia mencintainya. Jika pun ia berani melakukan itu, harus berpikir dua kali. Ia pasti tidak akan selamat.
Papa mengulum senyum. Ayah Dara memang sangat menyeramkan. Sengaja menakuti putra mereka. Tapi, Papa memakluminya. Orang tua mana yang mau putri tersayangnya dipukul orang. Ia saja jika Yoan berani meng-kdrt Dara, ia juga akan menyalahkan Yoan. Meskipun Yoan anak kandungnya.
"Dalam berumah tangga harus saling percaya dan terbuka satu sama lain-"
"Tiap malam kami saling terbuka kok, Pa." Sela Yoan memotong ucapan Papanya.
"Buka pakai-" Yoan pun hampir ceplos.
Seketika gagak pun lewat...
\=\=\=\=\=\=
'Yoan!!!'
Maudy meremas tangannya saat melihat kartu undangan pernikahan Yoan, yang diberikan orang tuanya.
Orang tua Maudy juga diundang keluarga Yoan ke acara pernikahan itu.
Maudy merasa kesal dan tidak terima. Yoan bisa menikah dengan wanita lain. Padahal ia kembali untuk pria itu.
'Apa mereka dijodohkan?'
Maudy jadi bertanya-tanya tentang status pernikahan Yoan.
Saat di luar negeri, ia mendengar kabar jika Yoan pergi keluar kota. Setelah pernikahan mereka batal. Pria itu menenangkan diri di sana dan kabarnya selama di luar kota Yoan menjadi pria penggila kerja.
Itu yang dikatakan Papanya Maudy. Karena mendapat kabar dari relasinya yang berada di kota yang sama dengan Yoan berada.
'Yoan... aku tahu aku salah. Seharusnya saat itu aku tidak pergi dan tetap berada di sisimu!'
Maudy merasa menyesal meninggalkan pria sebaik Yoan. Pria lembut, perhatian dan dapat menerima diri pasangannya.
Maudy menatap sosok wanita di kartu undangan itu. Ia merasa kesal dengan wanita yang sudah merebut Yoan darinya.
'Dasar pelakor!' Maudy merobek kartu undangan tersebut. Hingga foto Yoan dan Dara terpisah.
Maudy mengambil mancis dan membakar foto Dara. Ia tersenyum sinis saat api membakar foto Dara tersebut.
'Yoan itu milikku!!! Aku akan mengambil milikku kembali!!!'
.
.
.
Apa Yoan akan berpaling?
__ADS_1