
Bab 102
Marco dan beberapa anak buah Red Hair pergi ke Pulau Coral. Mereka akan melakukan penyusupan saat malam hari, nanti.
Daniel sudah mendapatkan pesan itu melalui Sandra. Tadinya dia ingin ikut terlibat dalam misi ini, tetapi penyamarannya tidak boleh terbongkar dahulu. Bagaimanapun juga melalui Maria adalah salah satu cara untuk bisa mendapatkan banyak informasi penting dari kelompok Black Eyes.
Daniel sudah menandai beberapa tempat yang dianggap ruangan penting dan tidak penting. Laki-laki itu juga berhasil menyusup ke dalam ruang monitor dan menyabotase rekaman CCTV yang ada di villa itu. Dia bekerja sangat cepat di saat Ken dan Maria berbicara empat mata di kamar wanita itu.
Saat di ruang monitor, Daniel mencari tahu di mana letak kamera tersembunyi yang terpasang di semua area villa. Baik itu yang ada di dalam atau di luar bangunan.
Baru saja dia merusak sekitar sepuluh kamera tersembunyi itu, Ken sudah muncul di dekatnya. Daniel pun pura-pura sedang bersantai menikmati pemandangan di luar.
Ken menatap curiga kepada Daniel. Baru saja dia memberikan peringatan kepada Maria untuk berhati-hati kepada laki-laki yang kini sedang menguasai hatinya. Dia sampai sekarang masih menaruh curiga kalau laki-laki itu sedang mengawasi dan mencari sesuatu yang penting yang ada di sekitar mereka.
"Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Daniel kepada Ken.
__ADS_1
"Kamu itu sebenarnya siapa?" tanya Ken balik.
"Aku Danielo, seorang pengusaha garmen, dan memiliki beberapa butik. Walau begitu aku pun mempunyai beberapa usaha sampingan lainnya," jawab Daniel dengan santai, padahal detak jantungnya sedang berpacu dengan keras.
"Aku yakin kamu bukanlah orang sembarangan. Dan saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari kami," tukas Ken dengan tatapan penuh curiga.
Daniel hanya bisa tertawa renyah. Dia berusaha untuk tidak menampakkan emosinya saat ini. Bagaimanapun juga sebisa mungkin jangan membuat musuh curiga.
"Kamu menuduhku? Kamu kira aku orang yang seperti apa? Aku rasa kamu ingin aku menjauhi Maria. Karena kamu mencintainya dan merasa cemburu saat melihat aku bersama Maria. Iya, 'kan?" Daniel bicara dengan menaikan satu oktaf.
'Ken, apa kamu tidak bisa menahan diri sendiri!' batin Maria geram.
Untuk menjebak musuh maka diperlukan suatu taktik dan perencanaan yang matang. Hal ini yang sedang dilakukan oleh Maria dan Ken, untuk mencari tahu siapa saja orang-orang yang berada di balik layar, atas semua kejadian yang terjadi kepada mereka baru-baru ini. Maria tidak mau kelompok Mafia Black Eyes hancur di era kepemimpinan dirinya.
"Ken! Pergilah dan biarkan kami berdua dahulu," titah Maria kepada ajudannya.
__ADS_1
Maria pun duduk manis di dekat Daniel. Karena sedang tidak mood untuk melakukan sesuatu.
"Kita akan pulang sore ini 'kan? Jadi bersiap-siaplah untuk keberangkatan nanti," ucap Daniel.
"Aku ingin menghabiskan waktu yang yang tersisa ini hanya berdua saja denganmu, Dan." Maria mulai menggoda anak semata wayang pasangan Diana dan Osama.
Daniel tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Mengambil hati dan kepercayaan Maria agar dia bisa menjadi orang yang dipercaya oleh wanita itu.
"Kita jalan-jalan, yuk! Aku ingin melihat pemandangan dibagian pulau yang lainnya juga," balas Daniel dengan semangat.
Maria dan Daniel pergi ke sisi lain dari Pulau Coral itu. Ternyata banyak sekali orang yang datang ke sana hari ini. Pemandangan di bagian tempat ini memang terlihat sangat indah. Jauh dengan sisi pulau yang menjadi markas kelompok Black Eyes yang si penuhi oleh batu-batu karang.
Daniel bisa melihat ada Marco dan beberapa orang petinggi atau anggota elit kelompok Red Hair yang sedang menyamar di sana. Tentu saja ini membuat Daniel ingin ikut bergabung bersama mereka.
'Aku tidak ingin pulang dulu, ingin ikut bergabung bersama mereka,' batin Daniel.
__ADS_1
***