
Bab 98
Daniel diam-diam memeriksa kembali beberapa ruangan yang ada di villa itu. Dia sudah menanyakan tentang tulisan milik ibunya yang tersimpan di sebuah buku di tempat Peter. Ternyata itu adalah buku milik Diana yang tidak tahu bagaimana ceritanya bisa sampai ke sana. Justru yang pernah mendatangi villa itu adalah Osama.
Ada sebuah pintu rahasia yang berada di sebuah ruangan kosong. Tempat itu berada di lantai satu dan hanya ada sebuah lukisan besar keluarga Peter. Daniel memperhatikan wajah-wajah yang terlukis di sana.
"Terlihat sangat jelas wajah-wajah para penjahat," gumam Daniel sambil memperhatikan satu persatu wajah mereka.
Lalu, digesernya sebuah lampu hias yang menempel di dinding. Terlihat tembok yang dihiasi oleh lukisan yang berukuran besar itu bergerak dan memperlihatkan ada sebuah lorong yang anak tangganya turun ke bawah.
Langkah Daniel terhenti saat mendengar ada suara yang menuju ke arah ruangan itu. Kemudian dia pun buru-buru masuk ke lorong gelap itu dan tidak lupa dia menarik sebuah tuas yang menempel di dinding dalam lorong.
Hanya dengan mengandalkan lampu dari handphone, Daniel berjalan dan masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas dan dipenuhi oleh buku-buku artikel, berkas-berkas, dan beberapa senjata api atau senjata penghancur.
"Apa villa ini sering didatangi oleh kelompok Black Eyes?" gumam Daniel.
__ADS_1
Saat Daniel sedang melihat-lihat senjata yang terpajang di lemari kaca, tiba-tiba saja terdengar bunyi sesuatu yang jatuh. Laki-laki itu melihat ada cahaya yang samar-samar dari cela pintu.
'Aku harus segera bersembunyi,' batin Daniel sambil berlari ke bawah kolong meja kerja.
Terdengar suara pintu dibuka dan langkah kaki yang berat mendekat ke arah meja kerja. Daniel bisa melihat bayangan cahaya yang bergerak-gerak. Lalu, lampu ruangan itu menyala dan membuat ruangan menjadi terang benderang.
Suara langkah kaki masih bergema di ruangan itu, diikuti suara berderincing dari rantai yang menghiasi celananya. Begitu juga dengan sepatu boot yang berat itu.
"Halo, Tuan Nikolas. Pesanan senjata dan obat-obatan terlarang sudah siap diantarkan," ucap lagi-lagi berbadan tinggi besar itu.
"Baiklah, Tuan. Kapal akan berangkat di malam ini. Semoga saja cuaca mendukung selama melakukan perjalanan ini," ucap laki-laki itu.
Daniel menjadi penasaran bagaimana cara kerja anggota Black Eyes bisa menyelundupkan semua barang yang mereka jual dan beli. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
"Emas batangan? Masih ada bersisa sekitar 75 batang. Bukannya ini untuk jaga-jaga, jika nanti perusahaan mengalami goncangan dari krisis ekonomi global?" Lagi-lagi pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Daniel terkejut.
__ADS_1
'Jadi, mereka masih punya emas batangan meski tinggal 75 batang. Itu masih lumayan. Aku harus bisa menemukan harta karun itu,' batin Daniel.
Langkah kaki laki-laki itu mendekat ke samping meja. Daniel semakin menempelkan dirinya ke pojok seberang.
Jantung Daniel berasa akan copot saat laki-laki itu menarik kursi di meja kerja. Apalagi orang itu berdiri di sana untuk beberapa saat, lalu dia pun duduk di kursi kerja itu.
'Oh, Tuhan! Semoga dia tidak bisa merasakan hawa keberadaan aku di sini,' batin Daniel.
Laki-laki itu masih berkutat di meja kerja. Kaki besarnya terjulur hampir mengenai tubuh Daniel. Bahkan ujung sepatu boot itu beberapa kali mengenai dirinya.
Kembali terdengar suara ketukan di pintu masuk. Kali ini Daniel tidak tahu siapa yang masuk ke sana karena lemari kaca terhalang. Jadi, tidak bisa melihat wujud orang itu. Dia hanya bisa meningkatkan kewaspadaan terhadap kedua orang itu. Berharap mereka tidak sadar akan kehadiran dirinya di sana.
***
Apakah Kedua orang musuh itu tahu ada Daniel di sana? Masih ada sisa sedikit harta karun emas batangan, apakah Daniel bisa mendapatkannya? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1