
Bab 20
Pagi-pagi Daniel dan Sandra makan di restoran tempat hotel mereka menginap. Keduanya terlihat sangat menikmati makanan yang tersaji di meja. Saat mereka sedang asyik menyantap croissant ada seseorang yang membuat perhatian perempuan itu teralihkan.
"Paman Damian sedang apa dia di sini?" tanya Sandra bergumam, tetapi bisa didengar oleh suaminya.
Daniel pun melihat ke arah pandang sang istri, terlihat ada Damian yang duduk tidak jauh dari mereka. Sekarang dia yakin kalau laki-laki semalam itu memang Damian.
'Ternyata dia adalah musuh dalam selimut. Tapi, kenapa dia mengalami kecelakaan saat baru pulang dari luar negeri? Apakah hanya untuk kamuflase saja agar tidak dicurigai? Untuk apa, bukannya keluarga Li terlibat dalam kelompok Black Eyes. Atau hanya Damian saja yang terlibat ke dalam kelompok itu? Semakin banyak hal yang aku tahu tentang kelompok mereka, malah membuat kepala aku terasa sakit karena memikirkan ini semua,' batin Daniel.
"Sandra?"
Daniel dan Sandra menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara. Mata Daniel memicing, dia tahu laki-laki ini juga ada di pesta semalam. Ya, dia adalah orang yang bicara dengan Damian.
"Paman Arthur. Paman juga ada di sini? Kalau begitu kakek sama siapa di sana?" tanya Sandra.
Ini adalah pertama kalinya Daniel bertemu dengan Arthur anak kedua Jimmy Li. Selama ini dia melihat hanya lewat foto. Wajah laki-laki ini sangat berbeda dengan yang terlihat di foto. Bisa dibilang fotogenik karena lebih muda dan tampan di foto jika dibandingkan dengan aslinya.
"Kakek sekarang sudah dalam keadaan sadar dan ada dokter juga perawat yang menjaganya. Kebetulan paman sedang ada urusan bisnis penting di sini," jawab Arthur.
Ternyata Damian melihat mereka lalu datang menghampiri meja Daniel. Dia seperti biasa menatap remeh kepada Daniel.
"Sedang apa kamu di sini dengan si sopir?" tanya Damian mengejek.
Sandra sudah jengah mendengar kata sopir yang keluar dari mulut keluarganya. Dia juga menyesal dulu sering mengejek Daniel dengan sebutan sopir seakan merendahkan profesi laki-laki itu.
__ADS_1
"Paman, dia itu suamiku! Jangan menghinanya lagi," titah Sandra.
Senyum mengejek masih terukir di wajah Damian. Dia masih kesal karena Daniel mendapatkan amanat untuk memegang perusahaan oleh Jimmy Li. Sopir pribadi ayahnya ini punya kuasa yang sama dengan Leon, putra tertua Jimmy Li di perusahaan.
Daniel dan Arthur hanya saling melirik dalam diam. Tidak ada kata basa-basi di antara keduanya.
"Asal Paman tahu saja, ya. Sekarang ini dia bukan lagi seorang sopir, tetapi dia itu CEO dia perusahaan Qing!" lanjut Sandra dengan penuh kebanggaan dan ingin membuat pamannya mati kutu dan tidak menghina suaminya lagi.
Mata Damian terbelalak mendengar ucapan Sandra. Dia memang mendengar kalau perusahaan Qing yang sedang mulai naik ke permukaan itu menjadi salah satu yang menjadi incaran para investor karena memiliki CEO baru yang sangat kompeten.
'Mana mungkin dia orang yang sedang jadi bahan pembicaraan di kalangan pengusaha muda. Dia itu hanya seorang sopir selama ini, bagaimana bisa menjadi seorang pengusaha yang handal? Sungguh sangat mustahil,' batin Damian semakin kesal kepada Daniel karena dia merasa sopir ayahnya ini menyimpan banyak rahasia.
***
Daniel pun mencari tahu keterlibatan keluarga Li di kelompok Black Eyes ini. Ternyata Jimmy Li tidak pernah terlibat dengan kelompok mereka, kecuali setelah permintaan Peter akan pabrik itu. Begitu juga dengan Leon yang tidak pernah ikut terlibat sebelumnya dengan kelompok mereka.
Pekerjaan Nathan semakin banyak atas permintaan Daniel. Jika selama tiga hari ini Daniel bersenang-senang dengan Sandra, maka dia sibuk dengan mencari informasi tentang keterlibatan keluarga Li dengan dunia bawah.
"Kenapa?" tanya Daniel saat melihat Sandra terlihat lemas.
"Rasanya aku masih ingin tidur," jawab perempuan itu sambil bersandar di lengan Daniel.
"Kamu bisa tidur saat di pesawat nanti," ucap Daniel sambil mengusap kepala sang istri.
"Rasanya perut aku mual," kata Sandra dengan lirih.
__ADS_1
"Sebentar lagi pesawat akan berangkat. Bersabarlah," balas laki-laki itu dan membawa wanitanya ke dalam pelukan hangat.
***
Daniel langsung membawa Sandra ke rumah sakit karena terlihat lemas sekali. Bahkan dia harus menggotong saat turun dari pesawat. Dokter yang ada di pesawat mengatakan kalau istrinya Daniel ini seperti sedang mengalami gejala kehamilan.
"Selamat Tuan, saat ini Nyonya sedang hamil," kata dokter kandungan yang memeriksa Sandra.
"Jadi, beneran saat ini istri saya sedang hamil, Dok?" tanya Daniel untuk lebih meyakinkan dirinya.
"Iya, Tuan. Usia janin itu baru empat minggu, jadi harus dijaga baik-baik, ya," jawab dokter itu dengan senyum manisnya.
Sandra menangis bahagia sambil menyentuh perutnya. Akhirnya hadir juga generasi penerus untuk keluarga Li. Dia senang bisa punya anak dengan Daniel. Padahal dulu impian dia punya anak dengan Ronald, tetapi sekarang perasaan itu sudah tergantikan oleh suaminya ini. Entah sejak kapan perasaan cinta di hatinya hadir untuk Daniel. Apakah setelah kejadian penculikan itu atau sebelumnya, dia tidak ingat. Hal yang sedang dia rasakan saat ini adalah cinta untuk laki-laki yang sedang memegang sebelah tanganya ini benar-benar tulus.
Kabar kehamilan Sandra membuat Leon dan Sindy senang, karena dengan begini maka Daniel akan kehilangan hak atas harta keluarga Li. Meski benih laki-laki itu yang menjadi cucu mereka tidak jadi masalah. Bagi mereka menyelamatkan harta kekayaan keluarga lebih penting.
"Kamu jaga baik calon penerus keluarga Li," kata Leon kepada Daniel.
"Sebaiknya kalian kembali tinggal di rumah ini," ucap Sindy kepada pasangan Daniel dan Sandra.
Daniel menjadi bimbang karena saat ini dia disibukan dengan penyelidikan mengenai kelompok Black Eyes, sedangkan ada Damian tinggal di rumah ini. Selain itu, dia tidak akan bebas mengatur pekerjaan dia juga.
Sandra sendiri sudah sangat senang tinggal berdua saja dengan Daniel tanpa ada orang lain. Namun, dia tidak tahu bagaimana saat menghadapi dirinya yang sedang hamil muda nanti. Pastinya dia akan membutuhkan bantuan orang lain.
***
__ADS_1