
Bab 14
Di ruang kerja saat ini hanya ada Leon, Daniel, dan kepala pelayan. Mereka bertiga sedang membahasa keterlibatan kelompok mafia Black Eyes. Sudah banyak bukti yang didapatkan dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Daniel lewat orang suruhannya.
"Aku tidak tahu kenapa Peter menginginkan lahan itu. Pastinya ada sesuatu yang hanya dia ketahui dan itu sangat berarti baginya," kata Daniel.
Leon dan kepala pelayan itu menatap ke arah Daniel dengan tatapan heran bercampur terkejut. Mereka tidak menyangka kalau laki-laki itu sampai sudah tahu siapa pemimpin kelompok Black Eyes. Tidak banyak orang yang tahu nama pemimpin apalagi rupanya seperti apa, karena sudah lama orang itu mendekam di penjara atas tuduhan pembunuhan Dania Hao, istri yang disembunyikan oleh Osama.
"Wah, kamu sangat hebat sampai tahu Peter," kata Leon dengan tatapan merendahkan bukan mengagumi.
Daniel tentu saja tahu karena orang itu adalah musuh ayahnya. Laki-laki itu juga yang sudah membunuh ibunya. Pemuda itu tentunya tidak akan lupa dengan nama dan wajah orang itu. Apalagi dengan kebebasan dia yang ternyata bisa keluar 10 tahun lebih cepat dari vonis yang jatuhkan kepadanya.
"Bukannya kita harus bekerja semaksimal mungkin. Tentunya aku juga mencari tahu sampai kepemimpinannya, Tuan Besar Jimmy selalu menuntut aku untuk bekerja dengan totalitas," balas Daniel dengan tenang.
Waktu masih pagi dan mereka akan sarapan bersama. Meski hubungan Sandra dan Daniel sudah dekat, tetap saja laki-laki itu dilarang makan bersama di meja makan. Jadinya, dia masih kumpul bersama teman-teman sesama pelayan.
***
Hari ini kegiatan kuliah Sandra berjalan lancar tidak ada teror yang terjadi kepada dirinya. Mereka pulang ke rumah dengan perasaan ceria karena gadis itu banyak bercerita.
Keduanya pun memasuki rumah dengan dengan Sandra yang bernyanyi riang. Melihat hal ini Sindy merasa heran dan menyangka kalau putrinya sedang dalam suasana hati gembira.
Damian yang sudah pulang dari rumah sakit sudah terlihat bisa beraktivitas. Laki-laki itu menatap sinis kepada Daniel yang berjalan di belakang Sandra.
"Oh, Paman, kamu mau ke mana? Bukannya harus banyak beristirahat agar cepat pulih kondisinya," tanya Sandra saat mereka berdiri berhadapan.
"Aku sudah sembuh dan akan pergi ke perusahaan karena banyak hal yang harus aku kerjakan di sana," jawab Damian dengan senyum lebar dan alis naik.
Daniel hanya diam memandang ke arah depan. Matanya memindai Damian dan menelisik dengan seksama dalam diam. Setiap gerakan yang dilakukan oleh laki-laki itu tidak luput dari perhatiannya, meski itu gerakan kecil.
"Baiklah, aku akan pergi," ucap Damian lalu pergi.
__ADS_1
Sandra pun masuk ke kamar sedangkan Daniel mendatangi ruang kerja. Laki-laki itu mendatangi Leon untuk membicarakan pembahasan yang tadi pagi sempat terputus.
"Aku sudah mendapatkan apa yang tadi kamu tanyakan," kata Leon begitu Daniel berdiri di depan meja kerjanya.
Daniel tadi meminta gambar bangunan gubuk atau foto-foto keadaan lahan sebelum pabrik dibangun. Di atas meja kerja terlihat ada beberapa foto yang sudah usang.
Lalu Daniel pun memeriksa dengan teliti satu persatu foto itu. Di sana terpotret sebuah bangunan gubuk yang cukup luas dan sudah terlihat sangat tua. Bangunan itu merupakan tempat penyimpanan sementara untuk hasil panen jeruk, karena ada lahan perkebunan jeruk di sana.
'Ini keadaan lahan sebelum dibangun pabrik,' batin Daniel ketika melihat bangunan dan lahan kebun dari jarak jauh.
Foto yang ada di tangannya memperlihatkan ada tiga pohon yang tumbuh sangat besar dibandingkan dengan pohon-pohon yang lainnya. Bentuk bangun juga berbentuk leter U dengan sebuah sumur ditengahnya.
"Bolehkah aku meminjam dulu foto ini?" tanya Daniel kepada Leon.
Awalnya Leon tidak mau berikan foto itu, tetapi setelah Daniel meyakinkan akhirnya diberikan juga. Pembicaraan mereka pun berakhir.
***
Banyaknya kejadian yang menimpa keluarga Li membuat dia harus ekstra bekerja keras. Sampai dia sendiri kurang beristirahat dan jadwal makan sedikit kacau. Pemuda itu memegang kepala yang terasa sakit, tetapi masih bisa dia tahan.
Ketika dia baru saja membaringkan badan terdengar suara benturan yang sangat keras di depan rumah. Tentu saja ini membangunkan semua penghuni rumah. Tidak lama kemudian terdengar suara mesin mobil yang di susul oleh suara tembakan.
Daniel siaga dengan mengambil dua pistol miliknya dan berlari ke kamar Sandra. Sayangnya saat ini posisi dia berada jauh dari kamar sang istri, karena tempat istirahat dia berada di bagian belakang bersama kamar pelayan lainnya.
'Si_al! Kenapa di saat aku jauh darinya keadaan malah genting,' batin Daniel yang sedang berlari sekuat ke lantai atas menuju kamar Sandra.
Dor! Dor! Dor!
DOR! DOR! DOR!
"Aaaaa!"
__ADS_1
Terdengar suara baku tembak dan teriakan di ruang depan dekat pintu masuk rumah. Daniel tahu kalau beberapa penjaga yang sedang berjalan malam ini melakukan perlawanan.
Sandra yang terbangun oleh suara keras tadi menjadi semakin panik setelah mendengar suara beberapa kali tembakan di lantai bawah. Dia pun segera mengambil handphone untuk menghubungi Daniel.
"Sandra, ayo kita pergi selamatkan diri!"
Sindy sudah berdiri di depan pintu kamar gadis itu. Dia datang untuk menjemput putrinya dan kabur bersama untuk menyelamatkan diri. Ada Leon dan kepala pelayan yang berjaga sambil memegang pistol. Meski keadaan sedang genting dan dalam keadaan takut, kedua orang itu berusaha tenang tidak panik.
Daniel ikut melawan orang-orang yang tiba menyerbu masuk ke rumah. Dia terlibat baku tembak di sana. Posisi laki-laki itu sekarang berada di dekat tangga lantai dua. Terlihat ada beberapa orang musuh di lantai satu.
"Aku tidak boleh menyia-nyiakan peluru yang aku punya saat ini," gumam Daniel.
Dor! Dor! Dor!
DOR! DOR! DOR!
Daniel menembak beberapa orang yang memakai baju serba hitam. Dia sengaja menembak sasaran di bagian vital agar musuh mati atau setidaknya sekarat.
Bau mesiu memenuhi lantai satu bahkan tercium sampai ke lantai dua. Bau anyir juga begitu menyengat dari darah orang yang terkena tembakan. Sudah ada beberapa orang berjatuhan di bawah. Entah itu dari pihak musuh atau penjaga keamanan rumah.
Dirasa kalah jumlah dan senjata, maka Daniel memutuskan untuk segera menyelamatkan Sandra ke tempat yang aman. Dia pun berlari menuju lantai paling atas di mana kamar nona muda itu berada.
Ternyata pihak musuh naik ke lantai atas melalui lift sehingga sampai bersamaan dengan Daniel yang muncul dari anak tangga. Langsung saja dia mengarahkan tembakan kepada mereka. Leon pun memberikan tembakan balasan kepada musuh sambil melindungi anak dan istrinya. Kepala pelayan memberikan perlawanan dengan menembak para musuh yang datang lewat anak tangga di belakang Daniel.
"Tuan, segera selamat diri Kalian. Biar kami berdua mengatasi musuh yang ada di sini!" teriak kepala pelayan kepada Leon.
Leon dan keluarganya pun berlari ke arah lorong yang di mana ada ruang rahasia di sana. Mereka bisa melarikan diri keluar dari rumah dan menyelamatkan diri.
Akan tetapi musuh datang semakin banyak sedangkan peluru di kedua pistol milik Daniel sudah habis. Begitu juga dengan peluru di pistol milik kepala pelayan.
'Si_al di saat genting begini malah habis peluru. Sebenarnya musuh yang datang berapa orang? Kenapa mereka datang dalam jumlah yang banyak? Apa sebenarnya tujuan mereka datang ke kediaman warga sipil dengan cara seperti ini?' Daniel bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1