
Bab 77
Sandra dan Dina asyik berbincang-bincang sambil menikmati salad buah buatan Lisa. Kemudian datang Osama ke sana sambil mengambil sebuah koper.
"Papa, kenapa belum tidur?" tanya Sandra sambil menghampiri Osama lalu mendorong kursi rodanya agar dekat dengan tempat dia duduk tadi.
"Ini baru memasuki malam hari, belum ada jam sembilan malam. Nanti papa akan tidur sesuai jadwal," jawab Osama dengan terkekeh.
Sandar dan Dina pun ikut tertawa karena sekarang jam di dinding baru menunjukkan pukul delapan malam. Masih ada satu jam lagi ke waktu Osama pergi tidur.
"Papa ingin memberikan senjata ini untuk kalian berdua. Gunakan ini saat kalian merasa terdesak," kata Osama setelah membuka koper itu.
Mata Sandra dan Dina terbelalak saat melihat ada dua pistol yang berwarna rose gold dengan ukiran bunga mawar. Desain yang indah dan cantik, juga ada dua buah kotak yang diperkirakan sebagai tempat isi peluru cadangan.
"Ambilah pistol itu untuk jaga-jaga. Desainnya indah dan ukuran pistolnya juga kecil, jadi akan mudah dibawa ke mana-mana. Di dalam kotak itu berisi peluru cadangan masing-masing 25 buah," lanjut Osama.
Pistol itu dahulu dia buat khusus untuk Diana. Namun, tidak pernah bisa dia berikan. Karena istrinya keburu meninggal dunia sehingga dia simpan sampai sekarang.
"Ingat, kalian juga harus bisa melindungi diri sendiri. Jangan terlalu bergantung kepada orang lain," tambah Osama.
Sandra dan Dina merasa terharu. Kedua ibu hamil itu merasa sangat bahagia saat ini karena Osama sudah mengajak mereka liburan. Ya, keduanya mengira mereka ini sedang pergi bersenang-senang untuk menghilangkan kepenatan pikiran, setelah beberapa hari terus berada di dalam apartemen terus.
***
Sementara itu, di sekitar kawasan apartemen Nikolas dan beberapa anak buahnya sudah datang ke sana. Meski tadi mereka harus datang dengan cara berskala waktu sekitar 5-10 menit tiap mobilnya. Orang-orang itu juga berpencar tidak boleh terlihat bergerombol.
__ADS_1
Sebenarnya para petugas keamana di apartemen saat ini adalah anggota Red Hair. Tidak ada orang luar yang tahu. Begitu juga dengan orang-orang dari Black Eyes yang sedang berada di sekitar sana.
"Maaf, tunjukan kartu identitas Anda!" pinta seorang penjaga di pintu kepada Nikolas yang sedang menyamar.
"Saya ke sini mau menemui teman," jawab Nikolas.
"Siapa nama teman Anda. Berada di nomor unit berapa?" tanya laki-laki berseragam biru navy.
Nikolas yang sudah tidak punya waktu lagi akhirnya memukul laki-laki itu. Namun, dia salah perhitungan. Asisten Peter itu menduga kalau lawannya adalah orang lemah. Pukulan dia bisa ditahan olehnya. Maka terjadilah aksi baku hantam.
Melihat Nikolas sudah mulai beraksi, anggota Black Eyes yang lain mulai melancarkan serangan. Mereka mengarahkan pistol yang sudah terpasang dengan peredam suara itu kepada dua orang lelaki penjaga pintu gedung apartemen.
JEP! JEP! (Anggap saja suara pistol yang memakai peredam suara)
"Aaaaa!"
Dor! Dor!
Detik berikutnya mereka memberikan tembakan balasan kepada anggota Black Eyes tepat di kepala. Kedua orang itu langsung mati di tempat setelah menggelepar.
Suara tembakan barusan membuat anggota Black Eyes. Mereka harus secepat mungkin menerobos masuk ke gedung apartemen dan mencari keberadaan Sandra. Bisa saja suara barusan memancing para aparat keamanan negara yang sedang bertugas tidak jauh dari tempat itu.
Nikolas sadar kalau orang-orang yang menjaga pintu adalah anggota Red Hair. Maka, mereka tidak segan-segan melakukan baku tembak.
"Kalian cepat naik dan cari keberadaan target!" perintah Nikolas.
__ADS_1
Beberapa orang naik lewat lift dan tangga darurat menuju ke unit apartemen milik Daniel, salah satunya adalah Nikolas. Dia harus memimpin agar rencana mereka bisa berjalan dengan sukses.
Setiap lantai di jaga oleh anggota Red Hair. Baik itu di tangga darurat maupun dekat pintu lift, sehingga mau tidak mau mereka yang naik lewat tangga darurat harus baku tembak saat berpapasan.
Dor! Dor! Dor!
JEP! JEP! JEP!
Banyak sekali anggota Black Eyes yang mati saat penyerbuan itu. Kesalahan mereka adalah terlalu fokus dengan senjata apa yang harus mereka gunakan agar tidak memancing aparat keamanan yang sedang menjaga tempat perdana menteri. Sementara itu, anggota Red Hair sudah mempersiapkan diri akan adanya serangan dari pihak Black Eyes yang pastinya akan mengincar calon penerus pimpinan Red Hair.
Nikolas naik ke lantai atas dengan menggunakan lift. Dia bukan orang bodoh yang bisa lengah. Dia sudah sangat terlatih dalam segala hal. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke kiri dan kanan. Masing-masing memegang pistol. Begitu pintu lift terbuka pistol itu menembakan pelurunya.
JEP! JEP!
Peluru yang ditembakan begitu kotak besi itu terbuka dan mengenai tenggorokan kedua orang yang sedang bersiap memberikan serangan di dekat persembunyiannya. Kedua anggota Red Hair langsung mati di tempat.
Dor! Dor!
JEP! JEP!
Mereka kembali saling menyerang dengan senjata andalan masing-masing. Tidak hanya pistol yang menjadi senjata mereka. Ada banyak orang menggunakan pisau belati menjadi senjata cadangan. Atau ketapel dan bom asap.
"Jangan sampai mereka lolos! Habisi semuanya!" perintah salah seorang anggota elit dari kelompok Red Hair.
***
__ADS_1
Bagaimana reaksi Nikolas saat tahu apartemen itu dalam keadaan kosong? Ikuti terus kisah mereka, ya!