Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 60. Pegunungan Mugen


__ADS_3

Bab 60


"Baca saja hasil pemeriksaan kesehatan Anda kemarin. Mungkin Anda akan tahu kenapa sampai insting menjadi melemah," ucap Marco sambil memperhatikan Daniel yang mengeluarkan kertas dari dalam amplop.


Laki-laki yang sebentar lagi menyandang gelar status sebagai ayah itu dengan teliti membaca hasil kesehatan dirinya selama di rumah sakit. Dia tahu kalau salah satu ginjalnya sudah digantikan dengan milik orang lain. Obat yang diberikan untuk dirinya juga merupakan obat jenis suplemen untuk membantu proses mempercepat kesembuhan. Terutama untuk luka. Jaringan sel itu akan cepat terbentuk dengan yang baru sehingga luka kulit terbuka itu cepat rapat kembali. 


Daniel juga dilarang meminum minuman beralkohol selama enam bulan ke depan. Makanan pedas dan berlemak tinggi. Laki-laki itu kini sadar kalau operasi besar kemarin telah melemahkan syaraf-syaraf yang ada pada tubuhnya. Bagaimanapun juga orang yang sudah mengganti organ tubuhnya akan mengalami perbedaan.


"Apa ketajaman insting bisa diasah kembali? Seingat aku dulu Alex pernah bilang kalau insting seseorang itu sudah ada dari bawaan lahir karena faktor keturunan." Daniel memasukan kembali kertas hasil tes fisik miliknya.


"Anda bisa tanyakan itu pada ahlinya," balas Marco yang kini memainkan kursinya yang sedang dia duduki.


Daniel masang wajah tidak tahu siapa yang di maksud oleh Marco itu. Dia tidak banyak tahu orang-orang yang berada di kelompok Red Hair yang mempunyai kemampuan seperti ini.


"Siapa?" tanya Daniel penasaran.


"Guru Fang," jawab Marco langsung.


Terlihat jelas Daniel sedang mengingat-ingat siap orang bernama Guru Fang ini. Dia merasa tidak memiliki kenalan bernama seperti itu.


"Dia seorang Master, Tuan Osama dan Alex juga dulu belajar kepada dia," lanjut Marco.


"Dia mana dia sekarang?" tanya Daniel.


Anak Osama ini tidak punya banyak waktu lagi. Dia hanya punya waktu 3 bulan untuk menjalankan apa yang sudah dia rencanakan. Sementara itu, Sandra akan melahirkan sekitar 2 bulan lagi. Belum lagi perusahaan yang sedang meningkatkan penjualan dan pendapatan. Sungguh Daniel tidak mau membuang waktu percuma. Satu menit bagi dia sangat berharga saat ini.


"Sayangnya dia tinggal sangat jauh dari sini, Tuan. Dia tinggal di pegunungan Mugen," jawab Marco.

__ADS_1


"Apa?" Daniel berteriak dengan mata terbelalak.


Gunung Mugen itu sangat jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Tempat itu adalah perbatasan antar dua benua. 


"Dengan segala fasilitas yang Anda punya, perjalanan dari sini ke sana tidak akan memakan waktu satu hari. Pelatihan mulai dari seminggu sampai sebulan itu paling cepat," balas Marco.


"Tidak bisa, itu terlalu lama," tukas Daniel.


"Ini sudah paling cepat, Tuan. Dulu Tuan Osama belajar kepada Guru Fang itu selama 5 tahun. Begitu juga dengan Alex membutuhkan waktu yang sama. Aku beruntung lebih cepat 6 bulan," jelas Marco.


Daniel berpikir keras harus menyusun ulang rencana dia yang sudah direncanakan dengan rapi. Dia teringat dengan ucapan Tuan Jimmy Li, kalau manusia itu hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan apakah rencana itu akan berhasil atau gagal.


"Lalu, kenapa kamu bisa bilang waktu tercepat bagi aku memakan waktu sekitar seminggu sampai sebulan?" tanya Daniel.


"Karena Tuan Osama juga pernah merasakan hal yang sama. Dulu setelah kematian Nyonya dia mendatangi markas kelompok Gold Dragon. Meski kami menang melawan mereka, tetapi kondisi kami juga tidak baik-baik saja. Tuan Osama merasakan mati rasa pada tubuhnya. Selain itu syaraf-syaraf pada tubuhnya tidak berfungsi dengan baik," jawab asisten dari Osama.


***


Daniel pun pulang ke apartemen dan menceritakan kepada Lisa dan Dina. Sementara Sandra sedang mandi jadi tidak dilibatkan dahulu.


"Sebaiknya Tuan pergi terlebih dahulu ke Pegunungan Mugen. Bagaimanapun juga kemampuan itu harus segera dipulihkan dahulu. Bagaimana bisa bertarung melawan musuh jika insting Tuan tumpul seperti sekarang ini. Nanti yang ada malah mengantarkan nyawa dengan suka rela kepada musuh," ucap Lisa.


"Aku setuju dengan yang dikatakan oleh Lisa. Aku rasa Nona Sandra pun akan setuju dengan ini. Dia tidak mau kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Anda," lanjut Dina.


Hati Daniel sudah agak tenang, karena semua orang mengatakan hal yang sama. Kini tinggal mendapat persetujuan dari sang istri. Sebisa mungkin dia mengatakan apa yang perlu diberi tahu kepada Sandra dan mana yang tidak. Laki-laki itu tidak mau membebani sang istri dengan pikiran buruk.


Setelah makan malam bersama Daniel pun mengutarakan niatnya untuk pergi ke Pegunungan Mugen. Namun, reaksi Sandra diluar dugaan dirinya.

__ADS_1


"Pokoknya aku tidak mau kamu pergi ke sana. Bawa saja Guru Fang ke sini. Minta salah seorang anggota Red Hair untuk menjemputnya," ucap Sandra.


"Mana bisa seperti itu, Sandra. Guru Fang itu orang yang banyak dihormati oleh penduduk negeri ini. Selain itu apa kita bisa menjamin keselamatan beliau selama di sini?" Daniel tampak kesal karena Sandra tidak sejalan pemikirannya kali ini.


"Perjalan ke Pegunungan Mugen itu sangat berbahaya, Daniel. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepadamu!" pekik Sandra dengan muka memerah.


"Kecil resiko itu jika aku datang ke sana menggunakan helikopter," ujar Daniel tidak mau kalah.


"Itu sama saja. Apa kamu tidak tahu kalau di dekat kaki Pegunungan Mugen ada markas separatis? Mereka sering menembaki pesawat yang lewat sana. Bahkan untuk mengirim bahan makanan ke wilayah itu para tentara yang mengawal," jelas Sandra.


Mendengar ucapan sang istri Daniel malah tertawa terbahak-bahak. Wanita itu lupa kalau keluarga suaminya itu merupakan pimpinan kelompok mafia yang sangat diperhitungkan di negaranya. Menghadapi kelompok separatis seperti itu tidak ada apa-apanya jika berhadapan dengan kelompok mafia yang lain.


"Kenapa kamu tertawa?" Sandra memasang wajah galak.


"Karena kamu lucu. Apa kamu lupa suamimu ini terlahir dari keluarga mafia?" 


Sandra baru sadar dan langsung diam. Dia banyak mendengar berita tentang kelompok separatis yang sering berbuat kekacauan di sana. Tentu saja dia tidak mau kalau suaminya sampai menjadi korban.


"Jadi, kamu izinkan aku pergi, 'kan?" Daniel sedang membujuk sang istri.


"Kalau begitu aku juga ikut," kata Sandra.


"Apa?" Kali ini Daniel yang memekik.


***


Bagaimanakah Daniel melatih kemampuannya kembali di Pegunungan Mugen? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2