
Bab 109
Ken tertawa meremehkan Daniel. Dia tidak menyangka kalau orang yang harus diwaspadai justru berkeliaran di dekatnya. Kini yang laki-laki itu lihat adalah sosok putra Osama dengan rambut merah, bukan Danielo yang penuh optimis dan suka memberikan perhatian kepada Mari.
"Satu hal yang harus kamu tahu, meski aku sudah lama pergi dari Pegunungan Mugen, tetapi semua informasi yang terjadi di sana masih bisa aku ketahui. Termasuk kamu yang belajar selama seminggu lebih," ucap Ken dan Daniel hanya memicingkan mata.
"Hebat juga kamu sudah bisa mencapai level ini meski cuma belajar beberapa hari. Sementara orang lain memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun," lanjut laki-laki berbaju hitam-hitam.
Daniel ingat dengan ucapan Ryu dan Guru Fang juga beberapa teman berlatihnya di Pegunungan Mugen, dahulu. Kalau Ken mempunyai kekuatan besar dan kemampuan berkelahi yang berlevel tinggi dan tidak boleh diremehkan.
'Meski Ken lebih kuat dan jago dari pada aku yang masih berada di level bawah, bukan berarti aku tidak bisa mengalahkannya,' batin Daniel
Tanpa aba-aba Ken langsung menyerang Daniel dengan pukulan dilanjutkan dengan tendangan di beberapa second detik. Namun, serangannya itu bisa ditahan oleh Daniel dengan menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
Daniel pun langsung melakukan serangan balik di saat itu juga. Kini keduanya saling pukul dan tendang. Namun, di waktu yang bersamaan mereka juga menahan serangan lawan.
Pukulan, tendangan, kuncian, dan merengkas dilancarkan oleh keduanya dalam gerakan sangat cepat. Jika orang-orang di sana melihat Daniel dan Ken yang sedang bertarung, mereka pasti akan merasa ngeri sekaligus takjub. Seperti sedang menonton film action.
Baik Daniel maupun Ken berusaha sekuat tenaga berusaha untuk menjatuhkan dan mengalahkan lawannya. Keduanya kini menyerang menggunakan tenaga dalam dan merasakan aura lawan. Hal ini membutuhkan konsentrasi tinggi. Meski begitu, tetap saja mereka juga tidak boleh mengabaikan keadaan di sekitar. Karena musuh sesekali melancarkan tembakan ke arah mereka.
Dor! Dor!
'Sial!' umpat Ken yang merutuki keteledoran dirinya karena sempat melihat ke arah kumpulan anggota Black Eyes yang seharusnya melindungi Maria malah ikut terlibat pertarungan di villa.
Ken mengunpulkan tenaga dalam di tangannya. Dia melancarkan ke arah perut Daniel. Dia ingin merusak organ dalam milik suaminya Sandra ini.
Daniel yang bisa melihat aura dengan jelas langsung saja melakukan hal yang sama. Bedanya, dia memusatkan tenaga dalam untuk menahan serangan perut. Sesuai dugaan laki-laki itu langsung menyerang bagian perut. Namun, pergelangan tangannya berhasil ditahan oleh tangan kiri, lalu Ken dibanting ke lantai.
__ADS_1
Meski memekik kesakitan, Ken masih bisa menahan pukulan Daniel dengan kedua tangannya. Laki-laki itu tahu kalau menahan tangan yang dalam keadaan memiliki tenaga dalam maka hal ini berefek pada kedua tangan yang menahannya. Tulang-tulang jari milik Ken terasa linu dan sakit. Di detik itu juga perut Ken kena tendangan tumit Daniel. Saat kepalan tangannya terlepas, suami Sandra ini menonjok muka lawannya.
"Bagaimana rasa pukulan aku barusan?" tanya Daniel sambil tersenyum miring.
Ken masih meringis menahan sakit karena mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Daniel barusan. Selama ini belum ada yang bisa mengalahkan Ken. Karena dia sering menggunakan tekhnik ini saat menyerang lawannya. Tentu orang-orang di sini tidak tahu teknik ilmu bela dirinya.
"Lumayan untuk seukuran orang yang baru belajar bela diri," jawab Ken dengan tatapan meremehkan Daniel sambil menyeka darah yang keluar dari hidung dan mulutnya.
Kedua orang itu kembali adu kekuatan saling menyerang dan bertahan. Mereka tidak menghiraukan suara baku tembak yang ada di villa. Walau kadang mereka juga harus menghindari peluru yang nyasar atau memang diarahkan kepadanya.
"Serang! Habisi semua musuh," teriak Marco yang sudah sampai di dalam villa melalui ruang rahasia.
***
__ADS_1