
Bab 56
Sandra melihat dari kejauhan Daniel sedang bersama Nathalie. Marco berdiri di sampingnya untuk menjaga menantu dan calon cucu dari Osama. Cemburu itu yang dirasakan oleh sang wanita saat ini. Melihat suaminya sedang bersama perempuan lain. Padahal selama ini dia selalu percaya kalau Daniel tidak akan pernah berpaling darinya. Namun, tiba-tiba saja perasaan itu muncul dalam hatinya.
"Wanita itu Nathalie, teman semasa kuliah tuan Daniel. Berbeda dengan Nathan kembarannya yang berteman sejak duduk di bangku SMA," ucap Marco.
Sandra pun mengangguk. Dia tidak apa-apa tentang kehidupan Daniel saat masih remaja atau anak-anak, kecuali sedikit saja. Itu juga Dilan yang memulai bercerita.
"Apa mereka pernah menjalin hubungan?" tanya Sandra penasaran.
Marco terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Dia lebih baik menjawab dengan cara seperti itu.
Sandra pun menduga kalau mereka berdua pernah menjalani kasih. Namun, dia tidak mempermasalahkan masa lalu itu, karena dirinya juga mempunyai kisah masa lalu dengan Ronald.
"Sebaiknya kita kembali Nona. Tuan Osama tidak ingin Anda kelelahan atau terjadi sesuatu yang buruk kepada Anda," ucap Marco dengan sopan.
Mau tidak mau Sandra pun mengikuti kemauan asisten mertuanya. Dia juga ingin memberikan waktu kepada Daniel. Wanita itu yakin sebentar lagi sang suami akan mencari dirinya.
***
Daniel sudah merencanakan apa yang akan dia lakukan nanti. Sekarang ada hal penting yang harus diurus terlebih dahulu, yaitu perusahaannya. Dia membutuhkan Tony untuk membantu dan mengawasi semua anak perusahaan juga perusahaan pusat.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Daniel kepada Nathan saat dia menjenguk sahabatnya.
"Jauh lebih baik," jawab Nathan sambil tersenyum jahil.
Laki-laki itu masih berbaring di ranjang pasien meski keadaan dia sudah jauh lebih baik. Namun, saat ini dia sedang ingin bermalas-malasan.
"Bagus. Berarti kamu sudah siap bekerja di perusahaan lagi," ujar Daniel.
Suami Sandra ini senang melihat dan mendengar kalau temannya sudah dalam keadaan baik. Dia tidak mau kehilangan banyak orang-orang berharga yang selalu berada di dekatnya.
"Apa? Dasar kau gila! Orang masih berbaring di rumah sakit sudah disuruh bekerja." Nathan melotot, lalu mengaduh sambil memegang kepalanya.
Sementara itu Daniel malah menyeringai. Dia tahu kalau temannya ini sedang berpura-pura. Terlihat jelas kebohongan dari pancaran matanya.
Hari sudah malam saat Daniel kembali ke rumah sakit tadi. Dia juga masih butuh perawatan dokter. Namun, laki-laki itu memilih untuk melakukan rawat jalan saja, karena dia harus mengurus perusahaan saat ini.
"Kenapa kamu pergi begitu lama?" tanya Sandra saat Daniel membuka pintu kamar inap.
Sang istri berjalan mendekati lelaki yang sudah dia nikahi satu tahun yang lalu. Dia pun menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Terlihat jelas ada ketakutan dan kesedihan yang sedang dia rasakan saat ini.
"Ada beberapa hal yang harus aku urus tadi," ucap Daniel lalu berjalan ke arah brankar.
__ADS_1
Sandra berjalan mendekati suaminya yang kini sudah berbaring di atas kasur. Lalu, dia pun ikut tidur di sampingnya. Keduanya saling beradu pandang dalam diam.
"Aku harap semua bisa berjalan dengan baik dan lancar," bisik Sandra lalu menelusupkan wajahnya di dada sang suami.
"Aku juga berharap kalau kamu selalu aman dari ancaman musuh. Sudah cukup mereka mengincar dirimu," balas Daniel.
"Asalkan bersama dengan dirimu, maka aku akan aman," balas Sandra sambil mendongakkan wajahnya melihat ke arah Daniel.
"Justru karena kamu bersama dengan aku, makanya keselamatan kamu sering terancam," tukas pria itu sambil mencolek hidung istrinya.
Sandra memajukan sedikit wajahnya lalu memberikan ciuman selamat malam untuk suaminya. Dia tidak suka jika Daniel sudah membicarakan hal ini. Wanita itu pun kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Danile memeluk istrinya dan menghirup wangi shampoo dari rambut Sandra yang panjang. Dia suka sekali mencium wangi sang pujaan hati. Kini keduanya pun tertidur lelap.
Dua anak buah Marco menjaga di depan pintu ruang rawat inap Daniel, tanpa diketahui olehnya. Sebenarnya ada beberapa orang yang menjaga anak Osama itu. Mereka berpencar di segala penjuru rumah sakit agar tidak ada musuh yang menyusup ke sana.
Nathan sendiri sedang memainkan laptopnya. Dia sebenarnya sudah bisa pulang dari dua hari yang lalu. Namun, dia memilih tetap di rumah sakit.
"Lihat saja, akan aku balas dirimu berkali-kali lipat!"
***
__ADS_1
Apakah rencana Daniel akan berjalan lancar? Ikuti terus kisah mereka, ya!