
Bab 73
Daniel mencoba membuka netranya sedikit apa benar ada hewan di dekatnya. Melalui ekor mata, dia melihat ada serangga yang sedang berjalan di dekat kakinya. Dia merasa senang meski baru sampai batas ini.
'Oke, lanjutkan lagi!'
Daniel semakin semangat melatih dirinya. Belajar dengan cara bermeditasi seperti ini banyak melatih kesabaran dan ketenangan jiwanya. Dia juga merasakan tubuhnya merasa jauh lebih ringan dan energi di sekujur badannya juga terasa meningkatkan.
Laki-laki itu tadi sekilas diajarkan oleh Guru Fang tentang tenaga dalam. Meski saat ini yang harus dia latih adalah kepekaan panca inderanya agar insting dia kembali kuat.
'Ada orang yang datang, 'kah?' batin Daniel merasakan ada sebuah hawa keberadaan seseorang.
"Tuan Daniel, sudah waktunya istirahat. Guru Fang meminta Anda untuk menemuinya," ucap seseorang.
'Benarkan, ada orang?' batin Daniel senang karena perasaan dia tepat kali ini. Padahal orang itu datang tidak menimbulkan suara sama sekali.
Daniel pun membuka mata dan terlihat ada seorang laki-laki muda yang kini berdiri sekitar satu meter darinya. Meski dia sudah bisa merasakan kehadiran seseorang dalam jarak yang relatif dekat, itu sudah kemajuan besar baginya.
Ruang pertemuan Daniel dengan Guru Fang ada di lantai lima. Laki-laki itu sangat senang karena bisa bertemu secara langsung kembali dengan laki-laki tua yang terlihat sangat kuat meski diusianya yang sudah senja.
"Guru Fang, aku datang." Daniel mengetuk pintu kayu yang tinggi dengan cukup keras.
Pintu pun terbuka dari dalam, ternyata Ryu yang membukanya. Laki-laki muda itu menyuruh Daniel masuk karena sudah di tunggu.
"Bagaimana dengan latihan kamu tadi?" tanya Guru Fang.
"Sudah ada kemajuan. Seperti kata Anda, kalau jiwa kita harus menyatu dengan alam, maka akan terasa perbedaanya," jawab Daniel.
__ADS_1
Guru Fang senang mendengar pengakuan Daniel. Laki-laki tua itu mengakui kalau anak dari Osama memang hebat. Hanya dengan memberi penjelasan dan sekali contoh langsung paham.
Ryu membuka pintu kembali, lalu masuk seorang perempuan memakai baju seperti tabib pengobatan zaman dahulu. Wanita itu berdiri di belakang Daniel.
"Kenalkan dia adalah Meimei. Seorang dokter ahli saraf dan juga akupuntur," kata Guru Fang.
Daniel membalikan badan lalu memberi hormat kepada Meimei. Wanita itu pun melakukan hal yang sama.
"Dia akan memeriksa beberapa titik saraf milik Anda," ujar Ryu.
"Kami mendengar kalau dalam beberapa bulan belakangan ini kamu banyak mengalami luka dan keluar masuk rumah sakit untuk menjalani pengobatan," lanjut Guru Fang dan Daniel membenarkan hal itu.
"Selain kamu melatih diri untuk mempertajam kembali insting, sebaiknya seluruh saraf yang ada pada tubuhmu pun di pulihkan kembali. Salah satu penyebab gangguan panca indera itu ada hubungannya dengan saraf," tambah Guru Fang.
Maka Daniel pun ikut Meimei ke bangunan yang disebut rumah sakit. Biasanya orang yang terluka atau sakit akan dirawat di sana. Daniel mengira alat medis di sana model kuno, ternyata banyak juga alat medis modern.
"Kesebelas sini, Tuan!" titah Meimei kepada Daniel yang malah berjalan lurus.
Daniel menjalani pemeriksaan dan banyak sekali saraf yang mengalami gangguan. Selain Meimei ada seorang asisten laki-laki muda yang membantu.
"Anda bisa melakukan pengobatan akupuntur mulai hari ini. Biasanya ini dilakukan seminggu dua kali. Selama 10 menit sampai dua jam. Tergantung seberapa parah atau seberapa banyak titik saraf yang harus dibenarkan," jelas Meimei.
Daniel pun memulai pengobatan dengan cara akupuntur. Ada sekitar 30 jarum akupuntur yang ditancapkan di sekujur tubuhnya. Dia tidak begitu merasakan kesakitan, baginya seperti digigit semut.
Meimei sesekali memperhatikan keadaan Daniel. Lalu, dia menulis sesuatu kepada selembar kertas.
Hari pertama Daniel menjalani proses pengobatan ini selama satu jam. Terasa perbedaannya pada tubuh dia setelah menjalani akupuntur.
__ADS_1
"Bagaimana sekarang keadaannya tubuh, Tuan? Apa terasa ada perbedaan?" tanya Meimei.
"Ya, meski baru sekali, tapi aku merasa tubuhku sangat nyaman dan rileks. Rasa kaku dan berat juga hilang. Kenapa dulu aku tidak terpikirkan pengobatan ini, ya?" jawab Daniel dengan antusias.
Meimei tertawa kecil melihat suaminya Sandra ini, yang bicara sambil menggerak-gerakkan kedua tangan, badan, dan kedua kakinya. Wanita itu langsung suka kepada sosok Daniel yang ramah dan menyenangkan.
"Terima kasih, tabib Meimei. Anda memang hebat," ucap Daniel dengan nada menggodanya.
Pipi Meimei langsung memerah. Terlihat jelas kalau wanita itu tersipu malu mendengar pujian dari laki-laki berwajah tampan itu.
***
Peter sudah mendapatkan pengobatan dengan diberi ramuan penawar racun. Laki-laki itu diberi cairan ramuan sebanyak tiga kali. Detak jantung berangsur normal, tekanan darah juga sudah normal. Wajah yang dulu pucat pasi, kini sudah normal.
"Hari ini akan diadakan kumpulan anggota elit kelompok Black Eyes. Kalian semua wajib datang!" ucap asisten Peter yang bernama Nikolas lewat pesan video kepada sebelah anggota elit yang tersisa. Posisi Damian belum ada yang menggantikan dirinya.
Nikolas sudah memanggil Alessio agar datang ke sini. Leon, Marco, dan Tony berhasil menggoyahkan kembali perusahaan milik Peter. Nilai sahamnya juga terus mengalami penurunan seiring beredarnya kabar ketua Black Eyes itu sedang koma atau sekarat.
Arthur masuk ke dalam ruang rawat Peter. Dia melihat Nikolas sedang memeriksa beberapa laporan. Laki-laki itu sengaja datang ke sana karena akan memberikan laporan atau informasi penting.
"Ada apa, Arthur?" tanya Nikolas sambil merapikan beberapa kertas.
"Sepertinya Daniel sedang tidak ada di kota ini," jawab Arthur to the poin.
Nikolas langsung hentikan kegiatannya membereskan berkas laporan beberapa perusahaan milik Peter. Dia terkejut dengan kabar ini. Dia mengira kalau Daniel adalah dalang dari semua kekacauan di pemasaran produk pabrik milik Peter yang ada di dalam negeri.
"Dia tidak ada di kota ini, lalu di mana laki-laki itu?" tanya Nikolas.
__ADS_1
***
Apakah keberadaan Daniel di Pegunungan Mugen akan diketahui oleh kelompok Black Eyes? Seperti apa sosok Alessio anaknya Peter? Ikuti terus kisah mereka, ya!