
Bab 110
Baku tembak masih terjadi di villa, sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan. Kebanyakan dari pihak Black Eyes.
Dor! Dor!
DOR! DOR!
Beberapa orang kembali meregang nyawa karena terkena tembakan. Anggota Red Hair yang kekurangan senjata merampas milik anggota Black Eyes yang sudah mati. Setidaknya mereka masih memberikan perlawanan dan melindungi diri sendiri dari musuh.
Marco mengambil senjata AK-47 yang tadi dia ambil di salah satu peti yang akan dikirimkan oleh kelompok Black Eyes ke luar negeri. Dengan senjata mematikan itu, sang wakil ketua Red Hair berhasil menghabisi banyak musuh.
"Drrrrr! Drrrrrt!"
"Aaaaa!"
"Jangan biarkan ada musuh yang tersisa!" teriak Marco dan kembali menembaki lawannya.
Maria yang melihat banyak orang-orang dari Black Eyes yang mati. Maka dia pun marah lalu mengacungkan pistolnya ke arah Marco yang tidak begitu jauh dari tempat dia bersembunyi sejak tadi.
"Rasakan ini!"
Dor! Dor!
Maria menembakkan beberapa peluru ke arah kepala Marco. Hanya saja gerakan laki-laki itu sangat gesit, sehingga dia bisa menghindari serangan lawan. Wanita itu mengumpat karena sasarannya tidak kena.
Kini Marco menyerang balik Maria dengan pistol AK-47 yang ada di tangannya. Keahlian dia dalam menembak jangan diragukan. Dari sekian banyaknya rentetan peluru yang diarahkan kepada Maria, ada dua yang mengenai tubuhnya.
"Nona Maria!" teriak anak buah Black Eyes yang melihat kejadian barusan.
__ADS_1
Ken yang sedang berkelahi dengan Daniel langsung panik melihat lengan atas dan dada Maria mengeluarkan darah. Laki-laki itu hendak berlari ke arah nona mudanya, tetapi tendangan dari Daniel membuatnya terpental lalu jatuh tersungkur.
"Kamu masih punya urusan denganku. Kita selesaikan dulu pertarungan ini, baru kamu boleh mendatangi Maria. Jika kamu sanggup mengalahkan aku," ucap Daniel dengan ekspresi dingin.
Ken yang marah menggunakan jurus terlarang untuk mengalahkan Daniel. Meski nyawa dia taruhannya, asal bisa membunuh pemimpin kelompok Red Hair, tidak masalah baginya.
Daniel merasa ada perubahan warna aura pada tubuh Ken, maka dia pun semakin waspada. Laki-laki itu belum mempelajari banyak ilmu beladiri yang menggunakan tenaga dalam. Dia baru memperlajari hal dasar cara menggunakan tenaga dalam.
Ken melancarkan serangannya kepada Daniel. Meski suami Sandra ini sangat gesit gerakannya, tetap saja dia bisa terkena pukulan lawan di perutnya dan dia pun muntah darah. Padahal dia juga menggunakan rompi anti peluru, tetapi bisa tembus juga.
'Sakit sekali,' batin Daniel sambil memegangi perutnya.
Tidak mau mati di sana, membuat Daniel harus bisa mengalahkan musuhnya. Dia pun meningkatkan konsentrasi agar bisa menyerang titik lemah organ tubuh lawan. Selain itu di saat yang bersamaan dia juga harus bisa menghindari serangan lawan.
Ken kembali Mela pukulan ke arah tubuh Daniel, tetapi berhasil ditahan. Pergelangan tangan Ken di cengkeraman kuat olehnya lalu dengan cepat pukulan itu diarahkan ke dadanya sendiri. Kini Ken yang muntah darah. Paru-paru dan jantungnya rusak karena terkena pukulan tenaga dalam milik sendiri.
Laki-laki itu merasa dadanya terbakar, sakit sekali sekali. Sudah beberapa kali Ken muntah darah, tetapi dia masih memaksakan diri untuk menyerang Daniel.
Sebenarnya Daniel juga sudah kepayahan bertarung melawan Ken. Dia juga merasakan perutnya panas seperti terbakar.
"Bukan culas, tapi cerdas! Aku hanya memanfaatkan otak aku yang termasuk jenius ini. Salah sendiri kamu bertarung tidak menyertakan otak," balas Daniel sambil tertawa terkekeh.
Mendengar ucapan anak Osama itu membuat Ken ingin membungkam mulutnya. Dengan sudah payah dia kembali menerjang Daniel. Tidak ada rasa takut akan mati dari dirinya. Hanya satu keinginannya saat ini, yaitu membunuh Daniel.
Danile yang melihat ada pedang pajangan di dinding langsung saja meraihnya lalu dia lemparkan dengan kuat ke arah jantung Ken. Dalam hitungan detik benda tajam itu menancap di dada sebelah kiri, Ken.
Tubuh Ken limbung dengan darah mengalir keluar dari mulutnya. Tatapan dia mengarah kepada Maria yang kini tubuhnya sedang diberondong peluru oleh Marco.
"No–na Ma–ria," gumam Ken pelan dengan air mata yang mengalir dari kedua netranya.
__ADS_1
Ken merasa telah gagal melindungi wanita yang dicintainya. Gagal sebagai pelindung dan penjaga putri dari Peter ini.
"Ma–af," ucap Ken sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Begitu juga dengan Maria yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit. Entah berapa banyak peluru yang mengenai sekujur tubuhnya. Sekarang dia dalam keadaan sekarat. Wanita itu melihat ke arah sang bodyguard yang selama ini selalu menjaga dan melindunginya.
'Kalau kamu sudah tidak ada di dunia ini, maka siapa yang akan menjaga dan melindungi aku?' batin Maria yang tatapannya masih mengarah kepada Ken dan Daniel.
'Kalau kamu mati, siapa yang akan mendengarkan omelan aku nanti,' lanjut Maria.
Tidak berapa lama wanita itu memuntahkan darah dan merasakan kalau sebentar lagi nyawanya akan melayang. Dia ingat dahulu pernah membicarakan tentang kematian bersama Ken.
'Apakah ini rasa sakit menjelang kematian yang kamu ceritakan dahulu? Ternyata sangat sakit sekali,' batin Maria sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Suasana di sana langsung hening karena sudah tidak ada lagi anggota kelompok Black Eyes yang hidup. Semua sudah mati tanpa bersisa.
" Akhirnya kita menang!" teriak Marco dan disambut gemuruh gembira oleh anggota Red Hair yang masih tersisa.
Daniel merasakan sakit yang teramat sangat di bagian perutnya. Serangan Ken tadi benar-benar membuatnya kena serangan telak. Kini dia hanya berbaring tidak sanggup menggerakkan tubuhnya sama sekali.
"Marco, Tuan Daniel di mana?" tanya salah seorang anggota Red Hair.
"Cari Tuan Daniel!" perintah Marco.
***
Bagaimana reaksi Peter saat tahu Maria mati? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1