
Bab 115
Daniel menaiki anak tangga menuju lantai paling atas. Dia tahu ada Peter di sana sedang menunggu dirinya. Namun, baru juga di lantai dua sudah ada serangan dari anak buah Black Eyes.
DOR! DOR! DOR!
Daniel bersama beberapa bawahannya langsung menunduk dan berlindung di tempat yang kira-kira bisa melindungi mereka dari peluru yang ditembakkan oleh lawan. Detik itu juga anak buah Red Hair langsung memberikan serangan balasan.
Dor! Dor! Dor!
"Aaaaa!"
DOR! DOR! DOR!
Beberapa anggota Black Eyes langsung mati terkena tembakan di kepala atau dada mereka. Begitu juga dengan beberapa anak buah Red Hair, ada yang mati terkena tembakan di kepala. Ada juga yang mengalami patah tulang karena beberapa peluru yang mengenai tubuh dan terlindungi oleh baju anti peluru.
"Jo, kamu tidak apa-apa?" tanya Daniel sambil menarik tubuh laki-laki itu untuk masuk ke ruang sebelah.
Anak buah Daniel itu muntah darah karena ada organ dalam yang terluka. Jo terkena beberapa kali tembakan di bagian dada.
"Kamu istirahat dulu di sini. Nanti menyusul," kata Daniel dan ada dua orang lainnya yang mengalami hal serupa dengan Jo.
Daniel dan beberapa orang lainnya kembali melanjutkan perjalanan ke lantai tiga setelah memastikan lantai dua barusan musih sudah selesai dihabisi oleh anggota Red Hair lainnya. Laki-laki itu merasakan kesedihan melihat beberapa orang yang dikenalnya kini sudah terbujur tidak bernyawa.
'Tidak akan aku sia-siakan perjuangan dan nyawa kalian," gumam Daniel.
Sementara itu, di bagian belakang gedung baku tembak berlangsung dengan sengit. Kedua kelompok sama-sama saling serang dan tidak mau membiarkan lawan bisa lolos begitu saja.
Dor! Dor! Dor!
DOR! DOR! DOR!
"Menyerang lawan jangan terlalu menggebu-gebu dan malah membuang-buang peluru. Yakinkan dulu di mana tempat target kalian berada!" teriak Bryan.
Anggota Red Hair tahu kalau mereka saat berhadapan dengan musuh itu jangan asal tembak. Mereka harus tahu terlebih dahulu di mana musuh itu berada baru melancarkan serangan agar tidak menyia-nyiakan peluru dan resiko kita terkena serangan tembakan balik juga berkurang.
Berbeda dengan anggota Black Eyes yang sering melakukan serangan secara memberondong atau membabi buta. Mereka berpikir dengan melakukan serangan seperti ini akan ada satu atau dua peluru yang mengenai musuh. Bisa dikatakan lebih banyak peluru yang tidak mengenai sasaran, alias terbuang percuma.
Duar!
__ADS_1
Seseorang menembakan peluru bazoka ke arah kelompok Red Hair yang bersembunyi di dekat anak tangga. Seketika tempat itu hancur dan banyak mayat bergelimpangan. Serangan itu datang dari atas.
Melihat itu Bryan melemparkan dua granat sekaligus ke tempat orang yang melancarkan serangan barusan. Dia harus membalaskan kematian rekan-rekannya. Dengan kekuatan lemparkan yang kuat akhirnya bisa juga mencapai tepat sasaran.
Duar! Duar!
"Aaaaaaa!"
Kini dari kubu Black Eyes yang mendapatkan serangan dan banyak orang mereka yang mati. Kembali terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Suara ledakan bom dari arah depan.
"Sepertinya Tuan Daniel juga main cepat dalam pertempuran ini," gumam Bryan.
"Bukan aku. Tadi kelompok Black Eyes yang memasang jebakan bom," balas Daniel melalui earphone.
Bryan dan anak buahnya sedang berusaha naik ke lantai atas. Mereka langsung melakukan baku tembak begitu menginjakan kaki di lantai dua.
"Sepertinya mereka mulai tersebar dari lantai dua. Lantai satu hanya ada segelintir orang saja. Bahkan serangan sejak tadi datangnya dari lantai atas," ucap salah seorang anak buah Bryan.
Semua anggota Red Hair bisa saling komunikasi lewat earphone itu. Jadi, bisa tahu situasi yang sedang terjadi kepada kelompok lainnya.
Berbeda dengan kelompok Red Hair yang dipimpin oleh Nathan. Mereka masuk lewat jalan rahasia di mana tempat itu sangat gelap, lembab, dan pengap. Ada cahaya itu dari senapan yang mereka pegang karena sudah terpasang senter kecil.
Tiba-tiba tercium bau dan terlihat ada kepulan asap. Mereka tahu kalau itu adalah gas beracun yang bisa membunuh lawan.
"Kalian semua berhati-hati! Gas beracun sudah mereka keluarkan. Percepatan jalan kalian! Kalian yang masih di luar bersiaga dahulu sebentar. Semoga asapnya cepat hilang," ujar Nathan.
Ternyata bukan hanya gas beracun jebakan yang ada di sana. Tiba-tiba saja ada bola besi besar dan menggelinding ke arah mereka.
"Nempel ke dinding!" teriak Nathan.
"Jangan tiarap! Kalian ingin mati terlindas bola besi!" bentak Nathan kembali saat melihat orang di sampingnya malah tiarap.
Bola besi itu menggelinding dengan cepat dan menimbulkan bunyi keras dan mengerikan. Mereka semua hampir jadi korban. Kebayang benda bulat berukuran sangat besar itu menimpa tubuh, pastinya akan menjadi penyet.
Setelah bola itu lewat mereka merasa lega. Lalu, melanjutkan lagi perjalanan. Saat di pertengahan Nathan mendapat kabar kalau kelompok yang tadi belum masuk tidak bisa karena bola besi itu menghalangi jalan masuk.
"Kalian gabung–"
"Kami sudah bisa menyingkirkan bola ini," ucap salah seorang lewat earphone.
__ADS_1
Beberapa orang sisa yang tadi menunggu di depan pintu itu bergegas masuk untuk menyusul teman-teman yang sudah masuk duluan.
Baru berjalan beberapa menit kelompok Nathan kembali dikejutkan dengan lantai yang tiba-tiba terbelah dan beberapa orang jatuh ke sana. Di mana ada banya pasak besi di bawah.
"Hati-hati!" teriak Nathan.
Mereka semua mencari tombol yang bisa menutupkan lantai itu kembali. Tidak ada petunjuk yang memperlihatkan tuas atau kunci rahasia agar lantainya kembali normal.
Salah seorang tidak sengaja menginjak lantai yang terasa seperti tombol. Lalu, lantai itu pun menutup kembali. Semua orang heran melihat itu.
"Sepertinya ubin ini adalah kunci dari jebakan ini. Kalau kita menginjaknya maka lantai akan terbuka. Jika kita injak lagi maka akan menutup," jelas laki-laki muda sambil menunjuk ubin yang diinjak oleh kakinya.
Semua kini paham dan berjalan lebih hati-hati kembali. Banyak perangkap terpasang di sini meski tidak sebanyak di jalan rahasia di markas Red Hair.
***
Di markas Red Hair sendiri saat ini sedang terjadi baku tembak antara kedua kelompok mafia besar. Marco dan anggota Red Hair lainnya tidak membiarkan anggota Black Eyes masuk ke dalam markas. Mereka hanya bisa mencapai halaman depan karena sudah mendapatkan banyak serangan dari pihak Red Hair.
Mereka bertarung jarak jauh dengan mengandalkan kekuatan senjata masing-masing. Berbagai jenis pistol, senapan, bom, granat, atau bazoka digunakan semuanya.
Dalam pertarungan ini tentu saja pihak Red Hair yang diuntungkan. Area peperangan ada di wilayah kekuasaan jadi otomatis mereka tahu tempat medan perang. Persenjataan juga jauh lebih banyak. Apalagi ditambah dengan persenjataan yang berhasil mereka bawa dari Pulau Coral, dahulu.
Dor! Dor!
Drrrrrt! Drrrrrt!
Duar! Duar!
Boom! Boom!
"Aaaaaaa!"
Suara tembakan, ledakan, dan teriakan mewarnai malam yang dingin ini menjadi lebih meriah. Sudah bisa dipastikan banyak pihak Black Eyes yang mendapatkan serangan dan menjadi korban mati.
"Si*al! Kenapa malah kita yang terpojok!" umpat Alessio penuh emosi.
***
jangan lupa like, komentar, dan nonton iklan, ya!
__ADS_1