
Bab 8
Mobil Daniel memasuki halaman kampus tempat Sandra kuliah. Dia melihat kedua teman sang istri berlari ke arahnya. Wajah mereka terlihat pucat dan jelas sekali garis kepanikan di mukanya.
"Daniel! Sandra …," ucapan gadis berambut panjang itu terputus karena napasnya ngos-ngosan. Terlihat sekali kalau mereka sudah berlari dari jarak jauh.
Merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Sandra, maka Daniel pun memaksa teman yang lainnya untuk bicara. Dugaan dia kalau penjahat itu masih saja mengincar keluarga Li.
"Tadi Sandra izin ke toilet, tetapi tidak kembali juga meski jam mata pelajaran sudah habis," ucap gadis yang bernama Mery.
Saking kesalnya pemuda itu langsung pergi dari kampus untuk mendatangi Dilan. Dia itu seorang hacker yang bisa dia andalkan selain Nathan. Daniel akan menyuruhnya untuk meretas kamera cctv di kampus dan kamera pengawas di jalan raya. Daniel mengendarai mobil dengan kecepatan penuh agar cepat sampai ke apartemen temannya itu.
"Cepat temukan di mana kebenaran Sandra saat ini!" Tanpa banyak bicara Daniel menyuruh Dilan untuk melakukan perintahnya.
"Datang-datang langsung main suruh saja. Tidak ada kata minta tolong," gerutu Dilan karena merasa kesal jadwal kencan dengan sang kekasih terganggu oleh temannya ini.
Saat Daniel hendak protes handphone miliknya berdering. Terlihat di sana ada nama Sindy dan dengan cepat dia pun menggeser tombol warna hijau.
"Halo, Nyonya …."
"Hei, kerja kamu itu apa, hah! Sampai-sampai putriku bisa diculik!" bentak Sindy begitu mendengar suara Daniel.
"Saat ini saya sedang mencari keberadaan Nona Sandra, Nyonya. Jadi—"
"Saat ini dia disekap dan penculiknya meminta tebusan uang 100 juta Yuan!" pekik Sindy memotong pembicaraan Daniel.
Tentu saja Daniel merasa heran kenapa penculiknya meminta uang tebusan. Sementara itu, semua keluarga Li mengalami banyak hal yang membahayakan nyawanya.
"Apa pelaku kejahatan ini berbeda dengan pelaku yang selalu berusaha membunuh keluarga Li?" gumam Daniel.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa? Yang jelas kalau bicara, jangan menggerutu begitu! Dasar orang tidak tahu adab, sopan, dan santun!" kata Sindy menghina Daniel.
Tidak lama setelah Sindy mematikan panggilannya, dia mengirimkan foto bergambar Sandra yang sedang terikat dan mulut yang tertutup plester. Daniel memperhatikan dengan seksama apa yang ada di dalam foto itu.
"Ini seperti di tempat yang menyerupai sebuah gudang," gumam Daniel sambil mencari petunjuk yang ada lewat foto itu.
Dilan pun berpikir hal yang sama, kalau tempat penyekapan itu adalah di sebuah gudang. Ruangan yang terlihat gelap dan kotor. Juga tidak terlihat ada barang apa pun di sana.
Sambil berpikir keras Daniel meneliti tiap sentimeter yang ada di dalam foto itu. Senyumnya pun langsung mengembang begitu melihat sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk yang sangat berarti.
"Aku tahu ini gudang apa. Hanya saja aku tidak tahu di mana tempatnya secara pasti karena gudang seperti ini ada di beberapa tempat," kata Daniel dengan semangat.
Hal ini membuat Dilan terheran kemudian tersenyum lebar. Dia lupa kalau temannya ini begitu cerdas dan teliti.
"Memangnya itu gudang apa?" tanya Dilan penasaran karena yang dilihat hanya sebuah foto yang buram dan seperti tidak pernah dimasuki oleh orang.
"Ini adalah sebuah gudang bekas penyimpanan milik Pabrik ERZA. Lihatlah, ada sebuah peti yang memiliki logo dari perusahaan yang sudah bangkrut 5 tahun silam" jawab Daniel sambil menunjuk sudut foto.
Kemudian mereka pun meminta Nathan untuk ikut membantu membebaskan Sandra yang sedang di sekap di sebuah gudang bekas yang ada di dekat pelabuhan. Sudah 3 jam lebih dari waktu gadis itu menghilang tadi.
"Sebaiknya kita membawa senjata, karena tidak tahu musuh itu seperti apa," ucap Daniel sambil mempersiapkan senjata yang dia ambil di dalam sebuah koper.
"Sudah aku siapkan. Bahkan peluru cadangan pun aku bawa," tukas Dilan.
***
Daniel dan kedua temannya datang dengan dua kendaraan. Daniel dan Nathan naik mobil, sedangkan Dilan naik motor. Kendaraan mereka berhenti begitu memasuki gerbang pelabuhan dan menyelinap masuk secara diam-diam. Tidak boleh menimbulkan sesuatu yang bisa membuat lawan curiga dan bersiaga.
Dilihat dari deretan banyaknya gudang di daerah pelabuhan menjadi masalah baru lagi bagi mereka bertiga. Di sana ada beberapa blok gudang, jadi mereka pun harus kembali memeriksa di blok mana gudang itu berada.
__ADS_1
Setelah melakukan pencarian informasi, ternyata letak gudang itu berada di blok B yang tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Begitu mereka memasuki kawasan gudang Blok B terlihat ada sebuah mobil boks dan sebuah mobil sedan di sana. Dengan ini sudah bisa dipastikan kalau Sandra di sekap di gudang ruang ke tiga dari kanan.
Daniel dan teman-temannya berjalan tanpa menimbulkan suara di sana. Mereka mengintip lewat sebuah cela kecil karena keadaan gudang itu sudah rusak. Terlihat di dalam sana ada empat orang laki-laki dan Sandra yang duduk terikat di kursi.
"Apa belum ada balasan dari orang tuanya?" tanya laki-laki berjaket hitam.
"Belum. Tadi mereka hanya meminta waktu untuk menyiapkan uang," jawab laki-laki berbaju kaos putih.
Daniel memberi kode kepada kedua temannya untuk menerobos masuk saat dilihatnya para penculik itu dalam keadaan lengah. Pintu yang terbuka sedikit memudahkan mereka saat masuk ke sana.
Sialnya Dilan menginjak potongan kayu dan membuat bunyi patahan. Sontak saja para penculik itu langsung melihat ke arahnya. Tanpa mereka duga kalau salah satu penculik itu langsung melesatkan peluru dari pistol yang memang dia pegang sejak tadi. Peluru itu bisa dihindari oleh Dilan dan mengenai dinding yang lumayan jauh dan memantul ke arah Daniel.
Melihat itu Daniel pun refleks menunduk dan langsung membalas tembakan itu. Dia menembak ke tangan laki-laki yang sedang memegang pistol dan tepat mengenai sasaran. Tangan penculik itu terkena peluru dan pistol yang ada di tangannya jatuh.
Ketiga penculik lainnya yang tadi sempat terkesima oleh kejadian barusan yang terbilang cepat. Kemudian mereka pun memberikan tembakan balasan kepada Daniel dan kedua temannya.
Tidak begitu sulit untuk melumpuhkan keempat penculik Sandra itu. Sepertinya mereka hanya penjahat biasa bukan dari golongan mafia atau gangster. Tidak sampai 17 menit keempat orang itu sudah bisa dilumpuhkan.
"Aku rasa mereka bukan dari kelompok Black Eyes. Kemampuan menembaknya sangat buruk," ucap Dilan karena para penculik itu tidak bisa memperkirakan gerak tubuh lawannya, sehingga tidak bisa menembak mengenai sasaran.
"Iya, mereka hanya penjahat remahan, tidak akan memberikan manfaat untuk kita," balas Nathan sambil mengikat kedua tangan para penculik.
Sandra yang masih shock dan ketakutan hanya bisa menangis dalam diam. Daniel pun segera melepas ikatan talinya.
"Aku takut," kata Sandra sambil memeluk tubuh Daniel.
Dipeluk dengan cara mendadak seperti ini membuat Daniel terkejut. Ini pertama kalinya gadis itu memeluk dirinya. Baru saja dia merasakan pelukan sang istri tiba-tiba saja dikejutkan oleh bunyi tembakan.
Suara teriakan Sandra mengikuti setelah terdengar bunyi letusan tembak. Gadis itu terkena tembakan di badannya.
__ADS_1
"Sandra!" teriak Daniel panik saat tahu salah seorang penculik berhasil mengambil pistol milik Nathan dan menembak ke arahnya. Tembakan itu mengenai Sandra yang sedang dalam pelukannya.
***