Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 57. Daniel Kehilangan Sesuatu Yang Penting


__ADS_3

Bab 57


Daniel dan Sandra pulang ke apartemen. Wanita itu tidak mau melepaskan suaminya. Dia masih merasa cemburu, apalagi saat mendengar kalau Nathalie juga akan diajak bekerja sama dengannya. Saat ini Dina sedang dalam keadaan lemah karena sedang hamil trimester pertama. Setiap pagi terus muntah dan baru bisa berhenti setelah lewat tengah hari.


Sebenarnya Daniel merasa tidak nyaman saat Sandra terus merangkul lengannya. Sebagai laki-laki dia lebih suka memeluk dari pada dipeluk yang tanggung begini. Namun, Sandra bersikukuh ingin hanya ingin memeluk lengannya sambil menyandarkan kepala.


"Selain Dina nanti di apartemen akan ada seorang pelayan yang mengurus membersihkan dan makanan untuk kita," ucap Daniel sambil mengetik sesuatu di handphonenya.


"Kamu sendiri tahu 'kan kalau aku—"


"Tidak ada bantahan. Dia itu wanita kepercayaan papa. Aku tidak mau terjadi sesuatu lagi terhadapmu, Sandra. Bisakah kamu memahami kekhawatiran aku ini?" 


Daniel dan Sandra saling menatap. Sandra senang karena suaminya masih sangat peduli kepadanya. Namun, dia tidak suka jika ada orang asing yang berkeliaran di mana dia tinggal.


"Terima kasih karena kamu selalu mengkhawatirkan aku, tetapi aku tidak mau—"


Daniel membungkam mulut istrinya dengan menciumnya. Dia saat ini tidak mau berdebat dengan Sandra. Otaknya harus bekerja keras agar semua yang sudah dia rencana bisa berjalan dengan benar sesuai keinginannya.


Sandra terbuai dengan ciuman yang diberikan oleh Daniel. Dia pun membalasnya tidak kalah panas. Mereka berhenti sampai pasokan oksigen di paru-paru habis. 


Napas keduanya memburu, Daniel mengusap lembut bibir Sandra yang menjadi agak bengkak. Lalu, mengecup keningnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau sampai kehilangan dirimu dan anak kita. Jadi, harus ada orang-orang yang bisa menjagamu selagi aku tidak ada," ucap Daniel dan Sandra pun mengangguk.


"Aku juga ingin menjadi orang yang berguna untukmu," kata Sandra dengan tatapan sendu.


Selama ini Sandra merasa dia 'lah yang selalu menerima kebaikan dari Daniel sedangkan dia belum bisa banyak memberikan suatu hal yang baik untuk sang suami. Wanita malah sering merepotkan laki-laki itu dengan teman-temannya.


"Aku akan ikut memantau beberapa anak perusahaan milikmu. Aku akan bekerja di apartemen. Bagaimana?" tanya Sandra bersikukuh ingin ikut membantu.


Daniel baru membuka mulutnya langsung ditutup oleh jari lentik milik Sandra. Wanita itu menggelengkan kepala seraya berkata, "Tidak boleh melarang. Aku ingin berjuang bersama-sama dengan suamiku. Bukannya istri yang baik itu selalu berada di samping suaminya dan memberikan dukungan untuknya. Jadi, izinkan aku menjadi orang pertama yang akan selalu mendukungmu."


Senyum lebar menghiasi wajah Daniel. Betapa bahagianya dia mempunyai istri seperti Sandra. Dia pun mengangguk dengan kedua tangannya menangkup wajah sang istri.


"Tapi, jangan memaksa diri jika lelah. Aku ingin kamu fokus pada calon anak kita itu. Apalagi dia calon penerus keluarga Li. Kalau terjadi apa-apa kepadanya, nanti papa Leon bisa-bisa membunuh aku," tukas Daniel sambil tertawa kecil.


Ada dua mobil anak buah Marco yang mendampingi perjalanan Daniel dan Sandra. Kedua mobil itu posisinya di depan dan di belakang kendaraan yang membawa tuan mereka.


Saat di perempatan jalan tiba-tiba saja ada mobil yang melaju dari arah kiri, di mana lampu di bagian itu sedang berwarna mereka, menandakan harus berhenti. Namun, kendaraan beroda empat itu malah langsung tancap gas berniat menabrakkan ke mobil yang di naiki oleh Daniel dan Sandra. Untungnya orang yang menjadi sopir sadar akan hal itu. Dia pun langsung tancap gas sehingga bisa selamat dari tabrakan itu. Hanya saja Sandra menjerit keras karena tiba-tiba saja kendaraan langsung ngebut dan tiba-tiba mengerem mendadak saat akan bertabrakan dengan kendaraan yang ada di depannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Daniel sambil memeluk Sandra, karena terhuyung ke depan dan kepalanya hampir membentur kursi di depan.


Terdengar bunyi keras seperti benda menabrak sesuatu lalu terdengar ledakan keras dan diikuti asap hitam membumbung tinggi. Daniel dan Sandra melihat ke arah belakang. Ternyata ada sebuah mobil yang terbakar di dekat pembatas jalan.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Sandra masih memperhatikan keadaan di luar sana.


'Ada apa dengan diriku? Kenapa insting aku menjadi tumpul seperti ini? Ini bukan pertama kalinya aku tidak menyadari adanya bahaya yang mengintai aku? Kenapa ini bisa terjadi?' batin Daniel. Laki-laki itu baru menyadari akan sesuatu yang tidak beres sudah terjadi kepada tubuhnya.


Orang-orang langsung menjauh dari sumber ledakan. Ada beberapa orang dari mereka yang terlihat menghubungi polisi dan pemadam kebakaran. Ada juga yang langsung menelepon ambulans karena ada orang di dalam mobil yang terbakar itu.


"Bagaimana keadaan tuan dan nona?" terdengar suara seseorang menghubungi sang sopir.


"Mereka baik-baik saja. Kami saat ini sedang berada di tepi jalan," jawab si sopir.


"Sebaiknya kamu melanjutkan kembali perjalan itu. Terlalu lama di jalanan malah mempermudah musuh memberikan serangan. Saat ini mereka sedang mengincar Nona Sandra," kata orang di seberang sana.


"Baik Tuan Marco. Aku akan secepatnya agar sampai ke apartemen," balas si sopir.


Mobil anak buah Marco yang berjaga di belakang terus waspada. Bisa saja kejadian serupa akan terjadi kembali. Pihak musuh itu pasti akan melakukan segala cara untuk menghancurkan kelompoknya.


Sandra menyadarkan kepala di dada Daniel. Dia merasakan debaran jantung suaminya seperti ini di saat genting. Biasanya di saat dalam bahaya, detak jantung laki-laki itu tidak bergemuruh begini, tetapi berdetak normal. Makanya selalu terlihat tenang saat menghadapi musuh-musuhnya.


"Ada apa? Apa ada bagian tubuh yang sakit?" tanya Sandra yang mengkhawatirkan Daniel.


Laki-laki itu menggelengkan kepala. Bukan tubuhnya yang sakit. Namun, dia sedang meratapi dirinya yang menjadi lemah seperti ini. Bagi orang-orang yang terlibat dunia gelap ketajaman insting itu sangat penting. Jika hal ini tidak ada pada diri mereka, maka kehancuran atau kekalahan akan menyelimuti mereka.

__ADS_1


***


Apakah Daniel akan bisa mempertajam instingnya kembali? Kenapa hal ini bisa terjadi kepada Daniel? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2