Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 45. Bantuan Musuh Berdatangan


__ADS_3

Bab 45


Peter tersenyum lebar saat mendengar kalau Sandra sedang berada di bekas pabrik kayu dalam tawanan Damian. Dia yakin kalau Leon atau Daniel akan datang untuk membebaskan wanita itu.


"Jangan sampai wanita itu mati sebelum mereka memberi tahu kita di mana sisa harta karun milikku!" titah Peter kepada anak buahnya.


"Baik, Tuan," balas mereka serempak.


Peter yakin kalau sisa peti emas batangan berada di tangan keluarga Li. Hal ini dikarenakan tidak ditemukannya sisa peti di reruntuhan pabrik Li. Beberapa orang sudah mencarinya, baik menggunakan alat atau menggali secara manual di bawah komando Arthur dan Damian.


Meski keuangan dan keadaan perusahaan milik Peter sudah stabil kembali, tetapi jiwa serakahnya menginginkan sisa emas batangan itu. Sudah menjadi hal biasa jika manusia itu bersifat tamak dan lupa bersyukur. Merasa terus kurang akan apa yang sudah dia miliki.


Peter ingin menjadi orang paling hebat dan berkuasa di negaranya. Walau saat ini banyak orang yang sudah menganggap dia itu orang hebat dan kaya raya, bagi dia masih kurang.


***


Sandra tahu siapa orang yang sudah membawanya barusan. Dia adalah Damian, pamannya. Entah apa yang akan dia lakukan terhadap dirinya. Sandra belum tahu kalau Damian bukan anak Jimmy Li, yang dia tahu kalau sang paman masuk ke dalam kelompok Black Eyes dan menjadi lawan Daniel, suaminya.

__ADS_1


Sekarang wanita hamil besar itu di paksa berjalan ke lantai atas oleh Damian. Meski bisa melihat Sandra berjalan kesusahan bahkan setengah berlari, laki-laki itu tidak peduli. Dia sudah terlanjur benci kepada keluarga Li. Meski dia dibesarkan oleh Jimmy Li, dia merasa kalau ayahnya itu suka pilih kasih. Terutama kepada keluarga Leon. Apa pun yang diinginkan oleh Leon dan Sandra pasti akan dengan mudah dituruti. Berbeda dengan dirinya yang harus bisa meyakinkan ayahnya terlebih dahulu jika menginginkan sesuatu.


"Paman Damian, kita mau ke mana?" tanya Sandra dengan napas yang memburu, tetapi laki-laki itu diam saja tidak menjawab.


Wanita itu sudah merasa lelah dan capai karena kehamilannya sudah sangat besar. Namun, dia tidak bisa melawan.


'Daniel, kamu di mana?' batin Sandra.


Damian tahu kelemahan Daniel saat ini adalah Sandra dan calon anak mereka. Maka untuk mengalahkan laki-laki itu dengan cara menyandera pujaan hati laki-laki itu.


Sandra yang kemarin sempat merasakan sakit di perutnya, saat ini merasa baik-baik saja. Dia berharap kalau bayi di dalam perutnya tidak mengalami masalah.


***


Daniel melihat ada kursi dan tali di dekatnya. Dia yakin kalau tadi Sandra sempat duduk di sana. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru tempat untuk mencari keberadaan sang istri.


Dor! Dor!

__ADS_1


Salah seorang anak buah Black Eyes menembaki Daniel. Untungnya dia segera mengelak.


Dor! Dor!


Dilan yang bersembunyi tidak jauh dari Daniel memberikan tembakan kepada anak buah Black Eyes. Orang itu pun langsung mati di tempat. Sambil lari berjongkok, dia mengambil pistol milik musuhnya.


"Lumayan ada tiga peluru," gumam Dilan lalu pergi ke tempat yang aman lagi. 


Baku tembak di sana semakin sengit setelah kedatangan anggota Black Eyes lainnya. Mereka datang dalam jumlah cukup banyak. Mungkin sekitar 30 orang sedangkan Daniel dan teman-temannya bersisa sekitar 20 orang, kerena beberapa orang sudah mati oleh musuh.


Keadaan mereka semakin tidak seimbang, baik dalam jumlah personil maupun senjata. Namun, Daniel yakin kemampuan orang-orangnya itu sangat hebat dan akan mampu melawan pihak musuh meski dengan senjata seadanya.


"Musuh datang kembali!" teriak seseorang di dekat pintu depan gudang.


"Apa? Ini kapan bisa habisnya para musuh itu, jika mereka terus bertambah lagi dan lagi," Daniel semakin terpojokkan dengan keadaan.


Lukanya juga tidak bisa dianggap enteng. Dia sudah banyak kehilangan darah. Hanya menunggu keajaiban saja saat ini. Pertarungan tanpa rencana yang matang. Senjata yang tidak memadai, dan berada di area wilayah musuh. 

__ADS_1


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Daniel.


***


__ADS_2