
Marco dan anak buah Red Hair terus menggempur kelompok Black Eyes yang berusaha masuk ke markas mereka. Mereka tidak akan membiarkan musuh menginjakkan kaki mereka di gedung utama markas Red Hair.
Duar!
Boom!
Mereka saling melempar boom dan granat. Jangan lupa bazoka, senjata yang digunakan untuk menghancurkan pintu masuk markas Red Hair. Sampai saat ini kubu Black Eyes yang banyak jatuh korban. Hal ini karena taktik yang digunakan kelompok Red Hair lebih hebat dan efektif dalam melancarkan serangan kepada musuh.
Anggota Black Eyes yang datang untuk menghancurkan kelompok Red Hair sebanyak 500 orang itu sudah habis setengahnya. Namun, mereka belum juga bisa menginjakkan kaki di teras markas Red Hair.
Boom! Boom!
Duar! Duar!
Alessio terus menembak ke arah markas Red Hair, entah mau kena sasaran lawan atau tidak, yang penting bangunan itu rusak. Sementara itu, Nikolas lebih memilih menyerang ke arah atas bangunan markas Red Hair yang di duga banyak lawannya bersembunyi di sana.
Tentu saja Marco tidak mau kalah apalagi di wilayah kekuasaan milik kelompoknya. Dia akan memberantas habis semua anggota Black Eyes. Dia bisa melihat Alessio yang sedang mengadakan bazoka ke bangunan markas. Tanpa membuang kesempatan ini, dia menggunakan pistol laras panjang untuk menembak kepala putranya Peter.
Jleb! Jleb!
"Aaaaaaa!"
"Tuan Alessio!" teriak beberapa anggota Black Eyes yang ada di dekatnya.
Seperti tidak mau membuang waktu dan kesempatan, para anggota Red Hair memanfaatkan kepanikan itu. Mereka dengan semangat melancarkan tembakan dengan menggunakan senapan mesin.
Drrrrrt! Drrrrrt!
Hujan peluru langsung menghantam kelompok Black Eyes. Suara teriakan yang memekakkan telinga di antara bunyi desingan peluru dua kelompok itu.
Nikolas mendapatkan kabar kematian Alessio. Amarah pun langsung menguasai dirinya. Dia menembakan bazoka ke arah bangunan yang tadi terlihat ada anggota Red Hair menghujani peluru dengan senapan mesin.
__ADS_1
Boom! Boom!
"Jangan biarkan kelompok Black Eyes melakukan serangan balik! Serang terus!" teriak Marco yang meringis menahan perih sambil mencabut bendera serpihan kaca yang mengenai tangan.
Pertarungan Black Eyes dan Red Hair di markas Red Hair ini merupakan jarak jauh. Jadi, senjata yang digunakan pun kebanyakan senjata mutakhir dan berat, tetapi mempunyai daya hancur tinggi. Senjata yang di bawa oleh kelompok Black Eyes, tidak berguna sama sekali. Kecuali senapan laras panjang, bazoka, dan granat.
Marco melihat Nikolas di persembunyian, dia hendak menembak kepalanya, tetapi sudah ada seseorang yang menembakkan terlebih dahulu. Dia pun melancarkan serangan ke beberapa orang yang dianggap sebagai anggota elit. Dilihat dari pakaian dan senjata yang digunakan.
Markas Red Hair juga sekarang dalam keadaan kacau dan hancur meski bagian depan, tidak separah markas Black Eyes yang dihancurkan oleh Daniel dan teman-temannya. Baku tembak berlangsung selama 30 menit setelah itu benar-benar tidak ada lagi suara serangan balasan.
"Apakah mereka semua sudah mati?" tanya salah seorang anggota Red Hair.
"Entahlah. Seseorang harus memeriksa ke sana," jawab yang lain.
Setelah melakukan pemeriksaan dengan menggunakan drone dan terlihat semua musuh sudah mati. Tidak ada pergerakan apa pun dari mereka.
"Mereka semua sudah mati!" Setelah dua orang mendatangi beberapa titik yang tadi digunakan untuk bersembunyi para anggota Black Eyes.
Tanpa mereka duga tiba-tiba saja ada sesuatu yang jatuh dari arah atas. Setelah itu muncul banyak sekali asap berwarna putih dan memiliki bau yang menyengat.
"Gas beracun!" teriak Marco langsung memasang masker muka miliknya. Anggota Red Hair yang memang memakai masker di seragamnya langsung dipasang. Sementara yang tidak memakai masker langsung berjatuhan karena menghirup gas beracun itu.
"Pakai masker kalian!" perintah Marco yang mulai merasa sesak dan pusing karena tadi dia sempat menghirup gas beracun itu.
Ternyata serangan itu tidak cuma sekali, tetapi berkali-kali bahkan sasarannya adalah gedung markas Red Hair. Bangunan itu kini dipenuhi oleh gas beracun.
Beberapa orang yang masih kuat bergerak, memilih berlari ke arah kolam air mancur. Ada juga yang menyalakan beberapa sprinkler (alat penyiraman otomatis). Mereka berusaha untuk menghilangkan gas beracun itu.
Para sniper Red Hair mencari orang yang sudah menembakan gas beracun ke markas. Mereka berhasil menemukan beberapa orang di titik yang tidak jauh dari markas. Langsung saja mereka menembak mati para sniper anggota Black Eyes.
"Tuan Marco, kita sudah berhasil menghabisi beberapa sniper lawan," kata salah seorang anggota Red Hair yang berada di luar kawasan markas.
__ADS_1
Marco berlari sekuat ke dalam markas. Dia mengkhawatirkan keadaan Osama. Tadi, laki-laki itu lupa sudah menyiapkan berapa masker pelindung gas.
Begitu membuka ruang kontrol yang sudah di penuhi oleh asap, Marco mendapati Osama sudah dalam keadaan lemas. Begitu juga dengan beberapa orang lainnya yang ada di sana bertugas melindungi ketua mereka.
Saat Marco akan melepas masker miliknya, Osama menahannya. Dia tidak mau anak asuhnya ini mati.
"Tuan, ke mana masker yang sudah aku siapkan untuk kalian?" tanya Marco dengan berderai air mata.
"Mereka lebih membutuhkan," jawab Osama berbisik.
Tadi Osama malah memberikan beberapa masker itu kepada beberapa orang anggota Red Hair sebelum pertempuran di mulai. Menurutnya mereka lebih membutuhkan dibandingkan dengan dirinya dan orang-orang yang berada di ruang kontrol.
Siapa yang tahu kalau dinding ruangan itu bisa jebol juga akibat gempuran bazoka yang terus dilancarkan oleh Alessio tadi. Akibatnya, saat gas itu menyelimuti markas, bisa masuk ke tempat mereka.
"Aku titip semua anggota Red Hair yang masih selamat nanti. Aku ingin kamu memegang kendali sebagai ketua. Kita tidak bisa memaksa Daniel, kita harus menepati janji kepada dia dan Sandra," kata Osama dengan napas terputus-putus. Laki-laki tua itu merasakan sakit di dadanya.
Marco semakin menangis tergugu apalagi saat tuannya tidak lagi bergerak. Dia memeluk erat laki-laki yang sudah menyelamatkan diri, dahulu. Bukan hanya Osama, rekan dia yang merupakan anggota elit yang berada di sana, semua menghembuskan napas terakhir di saksikan olehnya.
***
Di villa tempat Sandra berada saat ini. Nathalie dan Maria bertarung dengan kosong. Kedua wanita itu tidak akan berhenti sampai ada yang mati salah satunya. Dendam yang diwariskan dari sang ibu menurun kepada mereka.
Nathalie menendang kepala Maria sampai wanita itu terlempar dan membentur dinding. Darah pun keluar dari mulutnya. Dia tidak menyerah lalu melemparkannya sebuah guci yang dekat dengan tangannya.
Prang!
Nathalie menahan lemparan guci itu dengan menggunakan lengan kiri, akibatnya tangan itu sobek dan mengeluarkan banyak darah. Tidak jauh dari mereka berdua ada salah seorang anggota Black Eyes sedang mengacungkan pistol kepada Nathalie.
***
Bagaimana akhir kisah pertarungan di markas Black Eyes? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1