
Bab 52
Sandra mendatangi kamar Nathan, di sana ada Dina dan seorang perempuan. Istri Daniel itu tersenyum tipis kepada wanita asing itu.
"Nona Sandra, kenalkan ini Natalie kembaran Nathan," ucap Dina dan wanita itu mengulurkan tangannya kepada Sandra.
Mereka saling berjabat tangan dan melempar senyum. Wajah Natalie sangat berbeda dengan Nathan. Bahkan warna rambutnya juga berbeda.
Nathan terlihat sudah jauh lebih baik. Dia juga terkena banyak luka tembak. Namun, masih beruntung karena peluru tidak mengenai organ vital. Meski begitu dia banyak kekurangan darah dan lagi-lagi nasib baik di dapat oleh laki-laki itu karena mempunyai golongan darah yang banyak stoknya, jadi tidak sulit baginya untuk mendapatkan berkantung-kantung darah.
"Bagaimana keadaan kamu, Nathan?" tanya Sandra yang kini melihat ke arah laki-laki itu.
"Seperti yang Anda lihat, Nona. Sekarang aku sudah jauh lebih baik. Bahkan besok sudah bisa pulang," jawab Nathan diiringi senyum lebar.
Sandra senang mendengar hal itu. Dia juga berharap kalau Daniel juga bisa segera pulih dan pulang ke apartemen. Wanita hamil ini lebih suka menghabiskan waktu berdua dengan sang suami di tempat tinggal mereka.
"Jadi, Anda ada perlu apa datang ke sini?" tanya Dina kepada Sandra.
__ADS_1
Ada tatap terluka dari pancaran mata Dina. Sandra selalu rasa bersalah kepadanya. Gara-gara menolong dirinya, Dilan menjadi korban.
"Aku ingin melihat keadaan Nathan. Saat ini Daniel tahunya teman-teman dia juga sedang dirawat. Makanya belum bisa menemuinya. Dia juga sebenarnya sejak kemarin sudah ingin menemui Dilan dan Nathan. Tapi aku cegah, dengan mengatakan kalau kalian masih harus istirahat total seperti dirinya," jawab Sandra dengan lirih.
Istri dari Daniel ini sekarang menjadi serba salah dan tidak enak jika berhadapan dengan Dina. Suatu perasaan yang dulu tidak pernah hadir di dalam hatinya. Dia biasanya masa bodoh dan tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi kepada orang lain, sekarang dia malah jadi sering kepikiran. Entah efek kehamilan atau dia memang jadi berubah.
"Ya, itu lebih baik," ucap Dina dengan senyum tipis bahkan pancaran bahagia tidak terlihat sama sekali dari pancaran matanya. Sandra melihat itu sebagai senyum formalitas.
***
Daniel membuka lalu mempelajari laporan yang dibawa oleh Tony tadi. Langkah untuk menghancurkan Peter melalui perusahaan kini menjadi sulit. Laki-laki itu kini punya uang yang sangat banyak untuk memperkuat modal usahanya.
Daniel pun tersenyum senang saat sebuah ide tiba-tiba tercetus dalam otaknya. Suami dari Sandra pun menghubungi seseorang yang akan bisa menjalankan idenya itu.
Sandra masuk dengan lesu. Dia langsung tersenyum saat melihat Daniel tersenyum kepadanya. Wanita itu pun menghambur memeluk suaminya. Sebenarnya Sandra ingin menangis saat ini, tetapi dia tidak boleh melakukan hal itu.
"Ini apa?" tanya Sandra sambil membuka amplop yang ada di atas nakas.
__ADS_1
"Itu beberapa laporan informasi beberapa perusahaan saat ini," jawab Daniel.
Sandra membaca beberapa lembar pertama. Dia bisa menyimpulkan kalau anak perusahaan milik Daniel yang mengalami penurunan.
"Jika ada beberapa perusahaan yang mengalami penurunan, sebaiknya jual salah satunya yang paling tidak menguntungkan bagi kita. Lalu uangnya bisa kita jadikan modal tambahan untuk perusahaan yang bisa memberikan keuntungan untuk kita," ujar Sandra dan Daniel setuju akan hal itu.
Meski Sandra statusnya masih seorang mahasiswi, tetapi dia sudah sering ikut berbisnis dengan papa dan kakeknya sejak kecil. Jadi, dia sudah sering mendengar pembicaraan mereka saat sedang menjalankan kerja sama. Cara mencari keuntungan tercepat atau cara menjatuhkan bisnis lawan.
"Apa aku harus turun tangan membantu salah satu perusahaan ini?" tanya Sandra.
"Tidak. Aku ingin kamu fokus ke bayi kita. Biar nanti Dilan bila salah satu perusahaan itu. Aku sudah menyuruhnya mengambil salah satu perusahaan yang dia mau. Tapi, katanya dia akan ambil itu setelah Dina melahirkan," jawab Daniel.
"Sekarang keadaan malah seperti ini. Aku berharap bisa memberikan perusahaan terbaik untuk Dilan dan Nathan. Makanya aku selalu berusaha agar semua perusahaan yang berada di bawah kuasa aku maju semua," lanjut Daniel.
Mendengar ucapan suaminya Sandra sudah tidak tahan lagi menahan tangisannya. Bagaimana reaksi Daniel nanti saat tahu Dilan sudah meninggal. Sandra pun bergegas ke kamar mandi untuk menumpahkan air matanya.
Daniel merasa heran dengan tingkah Sandra yang tiba-tiba pergi begitu saja. Dia pun mengambil handphone milik Sandra yang kebetulan berada di atas nakas bersama laporan tadi. Laki-laki itu hendak menghubungi teman-temannya.
__ADS_1
***
Apakah Daniel akan mengetahui tentang kematian Dilan? Ikuti terus kisah mereka, ya!