
Bab 92
Daniel pulang ke apartemen miliknya untuk mengambil beberapa berkas penting untuk menunjang penyamarannya. Laki-laki itu juga berjalan ke kamar tidur, di mana banyak berkas penting.
Saat Daniel memasukan beberapa dokumen ke dalam koper kerja, handphone miliknya berbunyi. Terlihat ada nama Lisa di layar. Segera saja dia menggeser tombol berwarna hijau.
"Tuan Daniel, apakah sedang sibuk?" tanya Lisa di seberang sana.
"Tidak. Ada apa?" tanya Daniel sambil merapikan kopernya.
"Nona Sandra sedang marah dan mengurung diri di kamar. Dia begitu saat tahu kalau papanya sedang di rawat di rumah sakit. Tadi, kita semua sudah memberi tahu alasannya kenapa tidak diberi tahu," jawab Lisa dengan lirih.
"Hmmm, aku akan ke sana sekarang," balas Daniel lalu pergi meninggalkan apartemen.
Perjalanan menuju tempat persembunyian Sandra sangat jauh dari ibu kota. Namun, demi istri dan bayi yang ada di dalam kandungan wanita itu, dia rela harus bolak-balik meski sangat jauh.
***
Daniel mengetuk pintu kamar di mana Sandra mengurung diri. Dia harus sabar menghadapi wanita yang sedang hamil. Perasaan mereka itu sangat sensitif di masa ini.
__ADS_1
"Sandra Sayang, buka pintunya!" pinta Arga setelah mengetuk papan kayu berbentuk persegi panjang.
Terdengar suara kunci dibuka lalu Daniel langsung menerobos masuk. Dia tidak mau kalau Sandra sampai terganggu lagi emosinya. Laki-laki itu langsung memeluk tubuh sang istri.
"Katanya kamu sedang marah, sampai tidak makan? Kenapa begitu?" tanya Daniel lembut.
Dibelainya kepala sang istri dengan lembut. Selain itu Daniel juga mencium kening Sandra
"Kalian jahat. Tidak memberi tahu keadaan papa yang kritis dan Paman Arthur yang sudah meninggal," jawab Sandra yang kembali terisak.
"Dengar Sayang, kamu itu sedang hamil. Tidak boleh mendengar berita yang buruk-buruk. Nanti berpengaruh kepada janin yang ada di dalam kandungan kamu, Sayang."
Arga dan Sandra saling beradu tatap. Keduanya bergeming sampai terdengar suara Osama dari balik pintu.
Sandra berjalan ke arah sofa yang terletak di dekat kaca jendela yang sangat luas. Wanita itu pun duduk sambil melihat pemandangan pantai luas berwana kebiru-biruan.
"Tetap saja aku berhak tahu mengenai apa yang sudah terjadi antara kelurga sendiri atau keluarga suaminya. Apalagi keadaan papa saat ini sedang kritis," ucap Sandra.
Baru saja Daniel membuka mulut handphone miliknya kembali berbunyi. Dia pun melihat siapa yang menghubungi dirinya di saat tegang begini.
__ADS_1
Terlihat ada nama Maria di sana. Suaranya mengalun lembut bagi siapa saja yang mendengarnya. Sandra pun semakin marah dan kesal karena Daniel malah disibukan dengan urusan putrinya Peter itu.
"Awas kalau sampai selingkuh!" kata Sandra mengancam sambil mengepalkan tangannya.
Daniel pun tertawa terkekeh karena melihat ekspresi wajah istrinya saat ini. Lalu, dia pun menghubungi ibu mertuanya yang saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Halo, Mama!" pekik Sandra saat melihat wajah ibunya di layar handphone android.
Sindy pun menyapa putrinya. Kedua wanita berbeda gender itu saling berbicara mengenai keadaan Leon. Mereka sempat sama-sama menangis saat keadaan laki-laki itu kritis. Untungnya segera mendapatkan penanganan yang tepat sehingga berhasil melalui saat-saat menakutkan itu.
"Sekarang keadaan papa sudah jauh lebih baik. Makanya kami tidak memberi tahu kamu, Sandra. Ingat, jaga baik-baik calon cucu keluarga Li itu. Hanya kamu yang bisa mengabulkan harapan kakek," kata Sindy.
"Iya, Ma. Sandra akan jaga bayi ini dengan segenap jiwa dan ragaku," balas Sandra sambil terisak.
Daniel mengusap punggung Sandra dengan lembut untuk menenangkan dirinya. Tiba-tiba mata laki-laki itu terbelalak saat melihat seseorang berjas putih masuk ke ruangan Leon. Pria itu tersorot kamera karena posisi Sindy membelakangi pintu.
"Gawat!" teriak Daniel.
"Mama jangan biarkan laki-laki itu menyentuh papa!" teriak Daniel dan itu membuat Sindy dan Sandra terkejut.
__ADS_1
***
Siapakah yang masuk ke dalam ruang rawat Leon? Ikuti terus kisah mereka, ya!