
Bab 70
Pegunungan Mugen merupakan daratan tinggi yang memiliki udara sejuk, tetapi tekanan udaranya tinggi. Suasana di puncak pegunungan sangat tenang dan bagus sekali untuk meditasi.
Daniel berjalan dengan langkah lebar untuk menemui Guru Fang. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Namun, laki-laki itu terkejut saat Ryu mengajaknya ke sebuah ruangan di mana orang-orang sedang makan bersama.
"Guru Fang mana?" tanya Daniel sambil berbisik kepada Ryu.
"Itu di sana," jawab Ryu sambil menunjuk ke arah sebuah meja di mana hanya ada seorang laki-laki tua yang sedang makan dengan tenang, seorang diri.
Kedua laki-laki itu pun berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang tepat di depan Guru Fang.
Laki-laki tua yang memiliki wajah yang tenang bersahaja itu tersenyum lembut kepada Daniel.
"Kamu anak dari Osama?" tanya Guru Fang.
"Benar, Guru. Nama saya Daniel," jawab suami dari Sandra itu dengan senyum tipis langsung terukir di wajahnya.
Guru Fang sudah mendengar sedikit masalah yang terjadi kepada Daniel dari Osama. Namun, dia ingin mendengar secara langsung keluhan yang dirasakan oleh Daniel.
"Kamu bisa memulai latihan malam ini di ruang aula," kata Guru Fang setelah mendengar penjelasan Daniel.
Tentu saja hal ini membuat calon papa itu senang. Semakin cepat dia melatih insting yang ada pada dirinya, maka kemungkinan pulang akan lebih cepat. Daniel tidak mau membuang waktu.
"Nanti Ryu akan membantu kamu," lanjut laki-laki berjubah emas kekuning-kuningan.
__ADS_1
***
Malam hari setelah selesai makan malam, Daniel masuk ke ruang aula. Ternyata ruangan itu berbeda dengan yang dia lihat saat pertama kali datang ke sini tadi siang. Ruangan itu memiliki banyak sekali benda atau alat tertentu.
"Semua benda dan senjata itu ...?" tanya Daniel sambil menunjuk ke arah sisi kiri ruangan.
"Itu untuk membantu pelatihan Anda nanti," jawab Ryu.
"Duduklah di atas alas itu!" titah Ryu kepada Daniel.
Tidak lama kemudian datang Guru Fang ke ruangan itu. Lalu, dia menyuruh Daniel untuk duduk bersila sambil memejamkan mata dan posisi tubuh yang rileks. Kedua orang itu diam dengan tenang.
"Saat ini kita latih indra pendengar kamu terlebih dahulu. Ini adalah cara tercepat untuk melatih insting kamu. Pusatkan semua pikiran kamu kepada indera pendengaran. Dengarkan suara yang ada di sekitar kita meski suara bunyi itu sangat pelan," ucap Guru Fang.
Daniel tidak bisa mendengar suara apa pun. Hanya ada kesunyian dan keheningan. Baru juga 30 menit dia duduk bersila, tetapi hampir saja laki-laki itu tertidur. Sampai dia merasa ada sebuah benda terlempar kepada tubuhnya.
Daniel sungguh terkejut mendapat serangan dadakan itu. Lalu, dia berusaha kembali fokus dengan indera pendengarannya.
Setelah sekian lama, Daniel merasa ada yang aneh karena semua dalam keadaan sepi dan sunyi. Rasanya dia ingin membuka mata untuk melihat keadaan sekitarnya. Bisa saja dia ditinggal sendiri di ruangan itu.
"Guru Fang—" Daniel mencoba memanggil.
Sebuah benda terlempar mengenai tubuh Daniel, saat laki-laki itu membuka mulutnya. Lemparan kali ini terasa jauh lebih sakit dibandingkan dengan lemparan benda yang pertama.
"Fokus, Daniel! Kalau kamu ingin cepat mendapatkan apa yang kamu inginkan, maka harus banyak berjuang dan bekerja keras," ucap Ryu dan itu membuat Daniel langsung terdiam.
__ADS_1
Entah berapa lama Daniel duduk di sana dan tidak merasakan apa-apa selain sunyi dan gelap. Bahkan dia merasa mulai kesemutan kakinya.
"Berapa lama lagi aku harus duduk seperti ini?" batin Daniel.
***
Sementara itu di tempat lain, para dokter sedang memeriksa keadaan Peter dan anak buahnya. Tadi siang mereka memberikan ramuan penawar racun. Meski keadaan mereka semua masih dalam keadaan tidak sadarkan diri alias koma, nyawa mereka masih bisa diselamatkan untuk saat ini.
Kondisi tubuh Peter yang sudah pucat pasi layaknya mayat, kini sudah mending terlihat ada warnanya. Tim medis kelompok Black Eyes masih berusaha mencari obat penawar racun itu, karena ramuan hebat hasil racikan mereka sebelumnya, saat ini sudah tidak ada manjurnya.
"Kita belum berhasil menemukan bahan-bahan yang terkandung dalam racun itu," ucap laki-laki muda.
"Kelompok Red Hair semakin hebat dalam membuat senjata. Kita selalu kalah selangkah dengan mereka," lanjut rekannya yang kini seorang perempuan.
Beberapa orang sedang berada di laboratorium sedang memeriksa kandungan zat yang ada pada racun itu. Mereka akhirnya bisa menemukan kalau racun diletakkan di pembungkus paket bukan pada makanannya.
Meski begitu mereka belum bisa membuat penawarnya. Tim medis kelompok Black Eyes sudah merasa kelelahan. Mereka terus bekerja keras tanpa lelah dan istirahat.
"Kelompok Red Hair memang pantas disebut sebagai kelompok mafia yang selalu tanpa ampun dalam melawan musuh-musuhnya. Maka dibutuhkan banyak sekali senjata untuk melakukan pembelaan diri dan menyerang lawan," ucap laki-laki paruh baya.
"Mereka membuat sendiri senjata?" tanya laki-laki muda.
"Ya, kelompok mereka memproduksi dan menjual berbagai jenis senjata sebagai sumber pendapatan kelompok itu," jawab laki-laki paling tua.
"Berarti kelompok Red Hair kelompok mafia yang sangat hebat?" Laki-laki itu malah memuji kelompok musuh.
__ADS_1
***
Apakah Daniel bisa melatih tubuhnya dengan capat sesuai harapan dia? Apa kelompok Black Eyes akan melakukan misi balas dendam? Ikuti terus kisah mereka, ya!