
Bab 89
Waktu berjalan dengan cepat, sudah dua hari berlalu dari kejadian pertempuran antara kelompok Black Eyes dengan Red Hair. Kondisi Daniel juga sudah jauh lebih baik. Dia sudah bisa mengontrol kekuatan tenaga dalamnya juga. Selama tiga hari Guru Fang dan Ryu memberinya latihan tanpa sungkan-sungkan. Jika selesai dia akan berendam dan mengoleskan ramuan agar tubuhnya kembali seperti semula.
"Hebat! Hanya dalam waktu tiga hari kamu sudah berhasil menguasai materi dan praktek yang kami berikan di sini. Jika kamu latihan seperti ini selama satu tahun penuh, aku yakin bisa dengan mudah kamu mengalahkan aku, Daniel. Kamu orang yang diberkati dengan banyak kemampuan dan kekuatan. Jarang ada orang yang seperti dirimu," puji Ryu.
"Aku juga ingin bisa berlatih seperti ini setiap hari. Tetapi, tidak ada seorang pun yang mau ikut aku ke ibu kota," balas Daniel.
Dia sempat mengajak beberapa kenalannya untuk ikut dengannya. Mereka bisa bekerja di perusahaan miliknya atau milik Leon. Namun, tidak ada yang mau. Mereka memilih tetap di sini untuk menjaga keamanan penduduk. Selain itu kehidupan di sini jauh lebih menyenangkan dibanding dengan kehidupan di luar sana yang sering membuat manusia merasa lelah hidupnya dengan segudang permasalahan.
"Kapan kamu akan pulang?" tanya Ryu dengan sendu.
Dia merasa senang mendapatkan lawan tanding seperti Daniel. Orang yang pantang menyerah dan mudah dengan cepat mengembangkan kemampuannya. Hari terakhir latihan ini, dia merasa terpojokkan dengan kekuatan lawannya. Tubuhnya juga mendapatkan banyak luka.
"Aku akan dijemput nanti sore. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Ada istri dan calon anakku yang harus aku lindungi," jawab Daniel yang kini sedang menerima pengobatan setelah latihan mati-matian bersama Ryu.
"Kapan-kapan ajak istri dan anakmu ke sini," ucap Ryu.
"Iya. Aku juga ingin mengajak mereka ke sini. Di sini banyak memiliki tempat yang indah. Orang-orangnya juga baik. Bisa saja nanti Sandra betah tinggal di sini dan ingin menetap di sini," kata Daniel sambil tertawa kecil.
Ryu akan merasa sangat bahagia jika Daniel dan keluarganya akan tinggal di sana. Kedua lelaki itu memiliki jalan pikiran yang sama dan mempunyai cara pandang yang sama juga. Ryu senang bisa bertukar pikiran dengan Daniel.
***
Betapa bahagianya Sandra saat ini. Karena suaminya akan pulang. Meski lebih lama dari apa yang direncanakan sebelumnya, dia bisa memakluminya.
__ADS_1
"Apa aku sudah cantik?" tanya Sandra kepada Dian dan Lisa.
"Ya, kamu sangat cantik sekali malam ini," jawab keduanya kompak.
Osama yang kebetulan lewat kamar menantunya itu hanya bisa tersenyum lebar. Dia senang Daniel bisa dicintai oleh Sandra seperti itu. Dahulu Diana takut kalau tidak akan ada orang yang mencintai putranya dengan tulus, karena terlahir dari keluarga mafia.
'Diana, apa kamu melihatnya? Menantu kita sangat mencintai Daniel. Kebahagiaan putra kita juga ada padanya, seperti aku yang akan bisa hidup bahagia jika bersama denganmu,' batin Osama.
Menjelang tengah malam Daniel berhasil mendarat di lapangan helipad yang tidak jauh dari villa tempat Sandra saat ini. Dia langsung masuk ke mobil yang sudah Marco siapkan untuknya. Laki-laki itu sudah tidak sabar ingin melihat dan memeluk istrinya secara langsung.
Begitu mobil terparkir di halaman villa, Daniel bisa melihat Sandra dengan perutnya yang buncit berlari ke arahnya. Dia pun bergegas ke luar dari mobil dan berlari menyambut pelukan sang istri.
"Aku rindu sekali padamu, Daniel."
Daniel memberikan kecupan di kening dan bibir Sandra. Lalu dia juga memberikan ciuman beberapa kali di perut sang istri sambil menyapa calon anaknya.
Osama tersenyum lebar saat Daniel datang menghampiri dirinya. Mereka pun berpelukan dan menumpahkan air mata. Entah itu karena bahagia atau sedih.
Selama tinggal di Pegunungan Mugen, Guru Fang juga banyak bercerita tentang Osama kepadanya. Jika dulu Daniel sangat benci kepada ayahnya itu, kini dia merasa kagum.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Osama.
""Baik, Pa. Terima kasih sudah menjaga Sandra dan anak kami," jawab Daniel.
"Bodoh. Tentu saja aku akan menjaga dan melindungi mereka meski harus mempertaruhkan nyawa sekalipun," tukas Osama sambil menepuk bahu putranya.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian beristirahatlah langsung, karena hari sudah malam. Kita akan sarapan bersama besok," lanjut Osama kepada semua orang.
Sandra mana mau langsung tidur begitu saja. Dia masih sangat rindu kepada suaminya. Sudah delapan hari mereka tidak bercinta dan dia sangat menginginkan sentuhan suaminya. Begitu juga dengan Daniel yang sudah tidak bisa menahan diri saat melihat kecantikan dan kemolekan tubuh istrinya.
"Apa selama tidak aku di sisimu, kamu sering merasa kesulitan dalam kehamilanmu?" tanya Daniel sambil mengusap kepala Sandra yang bersandar di dadanya.
"Anak kita sering bergerak jika belum melihat dan mendengar suara kamu, Daniel. Kayaknya dia akan menjadi anak yang penurut kepada ayahnya nanti," jawab Sandra.
"Aku rasa anak ini akan mirip dengan dirimu. Tidak suka dikekang dan diatur," balas Daniel sambil tertawa kecil.
Sandra yang kesal mencubit perut suaminya. Daniel pun hanya bisa mengerang meski sebenarnya tidak begitu sakit baginya.
Setelah Sandra tidur, Daniel mengambil handphone miliknya dan menghubungi Tom. Selama ini dia banyak mendapatkan informasi darinya.
"Apa kamu sudah menemukan di mana keberadaan Alessio dan Maria?" tanya Daniel.
"Iya. Aku sudah berhasil melacak keberadaan mereka berdua. Akan aku kirimkan alamat mereka saat ini kepadamu," jawab Tom.
Betapa senangnya Daniel saat tahu kedua mangsa itu sedang berada di negaranya. Jadi,. dia tidak perlu repot-repot mendatangi kedua benua tempat mereka tinggal selama ini.
'Tunggu saja Peter, kehancuran dirimu akan segera di mulai,' batin Daniel.
***
Apakah tujuan Daniel untuk menghancurkan Peter dan kelompok Black Eyes akan berhasil? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1