Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 48. Emergency


__ADS_3

Bab 48


Marco dan anak buahnya sudah menghabisi anggota Black Eyes yang ada di depan gedung pabrik kayu. Lalu, mereka pun merampas semua senjata milik mereka.


"Jangan sampai ada sisa senjata yang tertinggal milik mereka! Bisa saja ada yang masih hidup dan tiba-tiba memberikan tembakan balasan," perintah Marco dan dipatuhi oleh semua bawahannya.


Laki-laki itu pun masuk ke dalam pabrik. Dia melihat sudah banyak mayat bergelimpangan di sana. Bau mesiu dan anyir dari darah begitu menyengat. Dia pun memerintahkan kepada bawahannya untuk mengambil semua pistol yang ada di ruangan itu. 


"Marco," Nathan yang tadi bersembunyi kini keluar. Tubuhnya sudah banyak berlumuran darah, jalannya pun diseret karena kakinya tertembak di paha dan betis.


"Nathan, mana Tuan Daniel?" tanya Marco sambil berjalan ke arah teman anak bosnya.


"Dia ada di lantai atas," jawab Nathan sambil meringis menahan sakit yang teramat sangat.


'Apakah aku akan mati hari ini?' batin Nathan dan merasakan kalau badannya melemah bahkan kakinya sudah tidak kuat untuk menopang berat tubuhnya.


Dalam hitungan detik Nathan pun kehilangan kesadaran dan tubuhnya pun terjengkang ke belakang. Namun, dua orang anak buah Marco berhasil menahan berat tubuhnya. Dia pun langsung di bawa ke luar untuk dibawa ke rumah sakit.


Marco berlari menaiki tangga dia melihat Sandra menangis dengan histeris sambil memeluk tubuh Daniel. Di sampingnya ada Dilan yang terbaring.


"Nona Sandra, tolong minggir sebentar! Aku akan memberikan pertolongan pertama kepada Tuan Daniel," pinta Marco lalu membaringkan tubuh putra dari Osama.

__ADS_1


Denyut nadi milik Daniel masih bisa dia rasakan meski lemah. Dia pun menyuruh bawahnya untuk menelepon rumah sakit dan mempersiapkan operasi darurat untuk Daniel.


Tidak lama kemudian datang helikopter dan membawa Dilan, Daniel, dan Damian. Mereka langsung dibawa ke rumah sakit milik kelompok Red Hair. Fasilitas di sana sangat kumplit dan keamanan terjaga.


Sandra juga menjalani tes kesehatan. Tidak lupa bayi yang di dalam perut pun mendapat pemeriksaan. Wanita ini merasa sedih sekaligus bahagia. Sedih karena melihat keadaan suaminya yang sedang menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru di dalam tubuhnya. Senang, sebab bayinya dalam keadaan sehat dan kuat.


Leon mendatangi kamar mayat untuk melihat keadaan mayat adiknya. Namun, betapa terkejutnya Leon saat melihat penjaga ruang mayat ditemukan dalam tidak bernyawa. Lalu, dia pun memeriksa satu persatu mortuary cabinet atau lemari pendingin mayat. Tidak ada mayat Damian di sana.


"Ke mana hilangnya mayat Damian? Apa Arthur mencurinya?" gumam Leon panik.


Meski Leon benci kepada Damian, tetapi dia berniat untuk menguburkan jenazahnya di samping makan ibu mereka. Bagaimanapun juga dulu mereka tumbuh dan besar bersama.


***


Hari ini Arthur baru kembali dari Eropa, begitu sampai di markas Black Eyes, dia mendengar kalau Damian sudah mati di tangan menantu keluarga Li. Tentu saja ini menambah rasa benci kepada keluarga kakaknya.


"Tunggu saja pembalasan aku!" geram Arthur.


***


Sandra sedang bersama Dina, mereka menunggu suami mereka yang sedang menjalani operasi. Banyak sekali peluru yang bersarang pada tubuh keduanya. Begitu juga dengan Nathan yang harus menjalani operasi meski tidak sebanyak luka yang didapat oleh Daniel.

__ADS_1


"Aku takut sekali," gumam Sandra dalam pelukan Dina.


"Yakinlah kalau mereka akan baik-baik saja seperti biasanya," balas Dina. Padahal dalam hatinya dia juga merasa ketakutan.


Operasi sudah berjalan selama 3 jam, tetapi belum terlihat akan segera selesai. Tiba-tiba pintu dibuka dan seorang berpakaian warna biru berlari dari sana. Sandra pun langsung berdiri. Dia tahu kalau keadaan di dalam sedang emergency.


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Daniel," gumam Sandra dengan penuh harap.


Perasaan Dina semakin kacau. Baginya Daniel adalah dewa penolong. Laki-laki itu sudah beberapa kali menyelamatkan hidupnya, sehingga dia merasa punya hutang nyawa kepada suami Sandra ini. Jika saja ada yang bisa dia lakukan atau berikan pasti akan segera dia laksanakan.


Laki-laki tadi kembali berlari sambil membawa dua kantong labu darah dan sebuah alat medis. Terlihat sekali dia dalam keadaan harus cepat tanggap dalam bertindak.


Dina menahan tubuh Sandra saat wanita itu ingin ikut masuk ke dalam ruang operasi. Dia juga mencoba menenangkan kembali si ibu hamil.


"Aku takut, Dina. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan kepada Daniel?" Sandra menyandarkan tubuhnya kepada Dina.


Tidak jauh dari sana ada Marco dan Osama. Keduanya tidak bisa mendekati Sandra saat ini.


***


Apakah Daniel dan teman-temannya akan baik-baik saja? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2