
Bab 32
Suara desing peluru yang saling bersahutan. Bau mesiu yang menyengat dalam penciuman. Debu yang berterbangan membuat mata kesat dan perih. Itulah keadaan di reruntuhan puing-puing bekas pabrik Li.
Daniel dan kedua temannya serta ayah mertua saat ini sedang melakukan baku tembak dengan kelompok Peter. Meski waktu masih siang hari, tetapi tidak ada pihak keamanan dari militer yang berani ikut campur jika para kelompok mafia saling bersitegang. Justru dengan begini memudahkan mereka untuk melenyapkan kelompok itu jika anggotanya dalam keadaan lemah.
Kemampuan menembak Daniel jangan diragukan. Dia bisa menggunakan kedua tangannya untuk menembakan peluru tepat ke arah sasaran. Sejak kecil dia sudah belajar ilmu beladiri dan menembak dari Alex, ajudan sekaligus orang kepercayaannya.
Dor! Dor!
DOR! DOR!
Anggota kelompok Black Eyes mengepung Daniel dan yang lainnya. Meski begitu jumlah mereka juga banyak yang berkurang. Nathan dan Dilan juga merupakan seorang sniper jadi tidak ada satu pun peluru yang terbuang sia-sia.
"Gawat, peluru sudah habis!" bisik Nathan kepada Dilan.
__ADS_1
"Sama, pistol punya aku juga kehabisan peluru," balas Dilan yang jaraknya terpaut tidak jauh.
Daniel masih memunguti pistol yang ada di tangan para mayat. Dia memanfaatkan semua benda yang ada disekitarnya.
Leon juga sudah kehabisan peluru. Kemampuan dia tidak sehebat Daniel dan teman-temannya. Kadang banyak peluru yang lancarkan itu tidak mengenai sasaran yang tidak bisa diam.
Tidak lama kemudian terdengar suara mesin mobil yang mendekat ke arah mereka. Tidak lama kemudian terdengar bunyi tembak yang beruntun dan suara teriakan serta erangan kesakitan.
"Kelompok Red Hair datang!" teriak seseorang di antara bisingnya bunyi peluru yang saling bersahutan.
"Apa? Cepat amankan petinya!" perintah Peter.
"Tidak akan aku biarkan kamu mengambil apa yang sudah menjadi miliki!" teriak Leon sambil mencoba menembak kepada Peter.
Akan tetapi, peluru di pistolnya sudah habis. Dia menarik pelatuk pistol beberapa kali, tetap saja tidak ada yang keluar.
__ADS_1
Peter menembak ke arah Leon, lagi-lagi Daniel menolong sang ayah mertua. Namun, kali ini peluru mengenai paha lelaki itu.
"Daniel kamu terluka!" pekik Leon saat melihat banyak darah yang keluar dari bagian paha.
"Berikan peti emas itu dengan cara baik-baik. Atau aku akan menghabisi orang-orang yang dekat dengan kamu!" perintah Peter.
Leon menjadi meradang. Dia ambil pistol dari tangan Daniel dan menembak ke arah Peter sambil berteriak, "Tidak akan aku berikan!"
"Sejak awal barang itu milik aku dan tanpa sengaja Jimmy Li membeli tanahnya. Seandainya saja aku tahu kalau tanah itu akan dijual sudah aku beli semua," tutur Peter sambil tertawa sinis.
Leon akan merasa sangat kesal jika emas sebanyak itu jatuh ke tangan Peter. Itu sama saja dengan memberikan kekuatan dana keuangan kepada kelompok Black Eyes.
Marco dan anak buahnya langsung menembak ke arah anak buah Black Eyes yang tidak jauh dari lokasi persembunyian Daniel. Mereka tetap akan fokus kepada anak ketua mereka ini. Sebab, laki-laki itu selalu berhasil lolos dalam pengejaran mereka.
Kedatangan anggota Red Hair semakin membuat panas keadaan di sana. Daniel tidak menyangka kalau Marco akan datang ke tempat ini. Jika, sudah kemunculan orang ini berarti dia harus mencari cara untuk kabur kembali darinya.
__ADS_1
"Oh, kenapa Marco yang muncul di sini? Kemana teman-teman kita?" kata Dilan yang merasa kalau saat ini keadaan semakin kacau.
***