
Bab 106
Jep! Jep! Jep!
Marco menembaki anggota Black Eyes yang hendak menembak beberapa anggota Red Hair yang ketahuan oleh pihak musuh. Untungnya pistol mereka menggunakan peredam suara sehingga tidak memancing banyak orang.
"Cepat sembunyikan mayat mereka!" titah Marco kepada anak buahnya.
Pertempuran kali ini benar-benar membutuhkan strategi yang tepat dan harus bisa memanfaatkan peluang yang tepat juga. Anggota Black Eyes dan Gold Eagle sedang baku tembak di dekat hotel dan bangunan gapura yang berlokasi tidak jauh. Begitu juga di gerbang masuk yang menuju ke dalam kawasan wisata Aquarium Sea World.
Suara letusan pistol saling bersahutan dan memekakkan telinga. Para anggota Red Hair maju terus menuju ke villa milik Peter yang lumayan cukup jauh. Mereka mengabaikan baku tembak yang sedang terjadi di sana karena harus fokus dengan tujuan utama kedatangan ke pulau ini. Ada hutan bakau yang harus mereka lalui untuk mencapai ke lokasi itu.
Marco dan tiga tim lainnya sudah sampai di titik pertemuan. Yaitu sebuah gua di sisi pantai barat. Mereka akan menunggu beberapa anggota Red Hair yang lainnya di sana sambil memeriksa persenjataan dan beristirahat sejenak.
"Kita tunggu sampai matahari terbenam. Setelah itu baru kita bergerak kembali!" perintah Marco sesuai arahan Daniel lewat tisu yang diberikan kepadanya saat di toilet.
__ADS_1
Tidak lama kemudian datang dua tim sisanya. Berselang sekitar 15 menit datang sepuluh orang lagi yang sempat terpisah tadi. Kini ada 40 orang anggota Red Hair di gua itu.
"Sisanya mana?" tanya Marco.
"Rekan yang lainnya ada yang ditembak dan tertembak oleh musuh. Orang-orang itu merasa kalau teman kita adalah anggota Gold Eagle. Jadi, tanpa banyak bicara mereka langsung menembakkan pistol ke arah semua orang yang menurut mereka mencurigakan," jawab salah seorang yang selamat dari target kelompok Black Eyes.
"Baiklah dengarkan aku baik-baik. Aku akan memberi tahu kalian strategi kita malam ini. Usahakan kalian jangan sampai mati sia-sia. Ingatlah pulang dengan begitu kalian akan bertahan untuk hidup," ucap Mario meniru kata-kata Daniel yang selalu ingat kepada Sandra akan akan pulang ke sisinya.
Kini tinggal ada 40 orang yang bersisa. Mereka bersembunyi dahulu sampai petang. Jika keadaan di sana sudah gelap, maka mereka akan bebas melakukan penyusupan ke pelabuhan ilegal, gudang, dan villa.
***
"Aku ingin mengadakan pesta kecil-kecilan dengan kalian yang sudah bisa mempertahankan pulau ini dari musuh," ujar Maria dengan semangat.
'Bagus. Sebaiknya mereka mengadakan pesta di saat seperti ini, agar penyusupan bisa berjalan baik dan lancar,' batin Daniel.
__ADS_1
Menjelang malam hari, orang-orang dari kelompok Black Eyes bersenandung sambil mabuk. Mereka meracau tidak jelas karena kesadarannya sudah diambil oleh alkohol.
"Daniel, ayo ... minum!" ajak Maria sambil menyerahkan gelas berisi minuman berwarna biru muda.
Daniel pun menerima gelas itu lalu berpura-pura meminumnya. Bagaimanapun juga dia harus dalam keadaan sadar tidak boleh sampai mabuk. Begitu pandangan Maria ke arah lain, Daniel dengan cepat membuang minuman itu ke sebuah pot bunga hias.
"Daniel, kita bersulang lagi!" titah Maria sambil memberikan minuman alkohol kembali kepada laki-laki itu.
Daniel menerima minuman itu untuk kedua kalinya dan kembali pura-pura meminumnya. Dia juga kembali membuang minuman itu lagi.
Mata Daniel mencari sosok Ken. Laki-laki itu tidak ada di ruang pesta yang diadakan oleh Maria. Dia baru menyadari hal ini.
'Ke mana Ken? Jangan-jangan ini adalah rencana yang dibuat oleh Maria!' batin Daniel.
Pandangan Daniel mengedar ke seluruh ruangan lalu beralih ke luar vila. Dia melihat lewat kaca jendela. Senyum suaminya Sandra terbit, dia melihat ada beberapa orang Red Hair yang berjalan mengendap-endap ke vila.
__ADS_1
'Akhirnya mereka datang juga ke sini,' ucap Daniel yang kini mengedarkan ke para anggota Black Eyes.
***