
Bab 119
Dor!
Dian menembak kepala orang yang mengarahkan pistol kepada Nathalie. Seketika langsung mati di tempat.
Anggota Black Eyes yang berada di dalam villa menyangka wanita hamil itu adalah Sandra. Semua mengarahkan tembakan ke arah Dian yang sedang menyamar menjadi Sandra.
DOR! DOR! DOR!
Dian langsung tiarap lalu merangkak ke tempat yang aman. Dia sudah berjanji kepada Daniel akan melahirkan putra dari sahabatnya. Jadi, saat ini dia tidak boleh mati.
Drrrrrt! Drrrrrt! Drrrrrt!
Di waktu yang bersamaan Lisa mengarahkan senapan mesin yang ada di tangannya. Dia menembaki anggota Black Eyes yang sedang menembak ke arah Dian.
"Aaaaa!"
Orang-orang itu berteriak karena terkena peluru. Banyak sekali amunisi yang bersarang pada tubuh mereka. Sudah bisa dipastikan mereka akan meninggal karena luka parah dan kehabisan darah.
Nathalie dan Maria seakan tidak terganggu oleh baku tembak yang sedang terjadi di sana. Keduanya terlalu fokus ingin membalaskan dendam ibu mereka.
Maria merasa kalau Thalia adalah penjahat yang sudah merebut Peter dari mamanya. Dia begitu benci wanita yang menjadi sekretaris sang ayah.
Sementara Nathalie benci kepada Maria, anak dari Miranda yang sudah membunuh ibunya di depan mata dia dan Nathan. Padahal sejak kecil tidak tahu siapa ayah kandung mereka. Ibunya sering bilang kalau laki-laki itu sudah meninggal. Namun, suatu malam datang rombongan beberapa mobil dan langsung memberondong rumah mereka. Meski saat itu dia dan kembarannya baru berusia tiga tahun, kejadian naas itu masih membekas dalam ingatan mereka.
"Apa tidak cukup bagi ibumu dengan kepergian mamaku dari negara ini? Dia pergi dalam keadaan hamil dan hidup sendirian di negara asing. Namun, ibumu masih saja memburu kami dan menginginkan kami mati dengan membakar aku dan Nathan hidup-hidup!" Nathalie merasakan sesak di dadanya karena mengingat kejadian malam di musim dingin itu.
"Aku pernah dengar kalau mama sudah membereskan Thalia dengan kedua anaknya. Tapi, kenapa kamu masih bisa hidup?"
Kedua wanita ini dalam pose kuda-kuda siap menyerang dan bertahan. Tinggal menunggu waktu yang tepat dan tidak boleh lengah.
__ADS_1
"Meski mama mendapatkan delapan tembakan yang dilancarkan oleh Miranda, dia tidak langsung mati. Mamaku wanita hebat dan kuat. Dia berhasil menyelamatkan kami meski dirinya tidak bisa keluar dari rumah yang sudah dilahap api," ucap Nathalie.
Thalia yang sudah sekarat menyuruh anaknya bergegas keluar lewat lorong bawah tanah yang sengaja dia buat di bawah tempat tidur Nathan. Malam itu kedua bocah ini diberi bekal uang dan perhiasan juga beberapa dokumen penting. Mereka disuruh untuk pergi ke kota sebelah untuk menemui sahabat Thalia. Dia adalah Nicole yang menjadi ibu kedua Nathalie dan Nathan. Orang-orang mengenal wanita itu sebagai ibu si kembar.
Nathan dan Nathalie bersumpah akan membalas dendam kepada Peter dan keluarganya. Makanya mereka bekerja keras agar menjadi orang yang hebat. Bahkan untuk menutupi identitas asli dengan menggunakan identitas palsu, mereka berdua harus ikut kelas akselerasi agar bisa satu angkatan dengan Maria dan Daniel. Untungnya tubuh mereka bongsor jadi tidak ketahuan kalau usia mereka dua tahun lebih muda.
Maria melihat ada pistol tergeletak di lantai, dia berpikir untuk membawa senjata itu dan akan langsung melancarkan serangan kepada Nathalie. Wanita itu menyerang dengan melayangkan pukulan di susul dengan tendangan. Kedua serangan itu mengenai tubuh Nathalie sampai mundur beberapa langkah.
Melihat musuh kehilangan keseimbangan Maria langsung berlari meraih pistol itu. Dengan gerakan cepat dia pun melancarkan tembakan ke arah Nathalie tadi berdiri.
Dor!
DOR!
Ternyata Nathalie pun melakukan hal yang sama dengan Maria. Perempuan itu mengambil pistol yang di sembunyikan di balik pigura yang berjajar di atas bufet. Dengan gerakan lebih cepat dia bisa menembak duluan dari Maria.
Peluru Nathalie menembus kepala Maria, sedangkan peluru yang ditembakkan oleh wanita itu mengenai perut adik Nathan. Keduanya jatuh ke lantai bersamaan.
Nathalie melihat Maria sudah tidak berkutik lagi. Wanita itu sudah mati dengan mata terbuka dan darah segar keluar banyak dari keningnya yang tertembus peluru.
Dahulu Nathan berhasil membunuh Miranda seolah-olah terjadi kecelakaan. Padahal pemuda itu sudah mengolesi minyak di alas sepatu milik mantan istri Peter juga di lantai. Saat wanita itu jalan tergesa-gesa sepatutnya licin sehingga dia jatuh dari eskalator.
Pertempuran di villa dimenangkan oleh kelompok Red Hair meski banyak yang meninggal juga dari kubu mereka. Mayat-mayat dipisahkan antara kelompok Red Hair dengan Black Eyes.
"Nathalie, bangun! Kamu tidak boleh mati," Sandra yang baru berhasil keluar dari persembunyian. Dia mencari keberadaan orang-orangnya dan berharap mereka masih hidup.
Terlihat Lisa juga sudah terkapar tidak sadarkan diri. Banyak luka dia badannya akibat tembakan atau goresan.
"Kita harus panggil polisi dan ambulans," ucap Sandara kepada Dian.
"Ini banyak sekali orang-orang yang terluka mana cukup satu atau dua ambulans," balas Dian.
__ADS_1
Datang beberapa orang anggota Red Hair yang masih mampu berjalan. Mereka juga terluka, tetapi masih bisa bergerak.
"Kumpulkan orang-orang yang terluka dan sekarat. Bunuh anggota Black Eyes yang masih sekarat atau hidup!" titah Vicky salah seorang anggota elit Red Hair yang bertugas menjaga keamanan di Sandra di villa.
***
Sementara itu, Daniel dan rekan-rekannya yang melakukan serangan ke markas Black Eyes, masih melakukan baku tembak. Kini mereka sudah berada di lantai lima.
Dor! Dor!
DOR! DOR!
Daniel melancarkan tembakan kepada orang-orang yang sejak tadi melindungi Peter. Laki-laki itu beberapa kali gagal fokus saat akan menembak ke arah orang yang bersama ketua Black Eyes. Pikiran dia tiba-tiba saja dipenuhi oleh Sandra dan Osama.
Melihat jumlah orang-orang yang berada di markas terasa sedikit dari perkiraan dia, hal ini membuat Daniel berpikir kalau ada anggota Black Eyes yang dikirim ke suatu tempat. Laki-laki itu tidak melihat adanya Maria di markas. Jadi, dia mengambil kesimpulan kalau wanita itu dikirim ke tempat lain.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Daniel menebak dengan menggunakan dua pistol ke arah dua anggota Black Eyes yang berjaga melindungi Peter. Keduanya langsung mati setelah mendapatkan dua peluru yang bersarang di dada.
DOR! DOR!
Peter pun melancarkan serangannya ke arah Daniel dan mengenai tangannya sampai pistol itu terlepas. Dia meringis menahan sakit dan perih.
Dor! Dor!
Nathan yang baru saja sampai ke lantai lima langsung menembakkan pelurunya ke arah Peter. Lebih tepatnya ke jantung dan perut laki-laki tua itu.
"Nathan," gumam Daniel.
"Bolehkah aku yang menghabisi laki-laki tua ini?" Nathan berjalan mendekat dengan tangan masih mengacungkan pistol kepada Peter.
__ADS_1
***
Tinggal 1 bab lagi, semoga bisa selesai hari ini. Jangan lupa like, komentar, dan nonton iklan.