Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 117. Pertempuran Akhir Red Hair & Black Eyes (3)


__ADS_3

Bab 117


Dor! Dor!


Daniel menembak orang-orang yang ada di depannya. Pertempuran di markas Black Eyes sudah lebih dari 15 menit dan sudah banyak orang yang mati, baik dari pihak lawan maupun kawan. 


"Habisi anggota Red Hair!" teriak beberapa orang anggota Black Eyes.


DOR! DOR! DOR!


"Lawan Black Eyes, habisi mereka semua!" teriak Daniel kepada anak buahnya.


Dor! Dor! Dor!


Baku tembak terus terjadi bahkan menjadi semakin sengit di antara kedua kubu. Keadaan markas Black Eyes sudah hancur di beberapa bagian. 


Terlihat anggota Black Eyes semakin banyak dan gencar memberitakan perlawanan. Lalu, Daniel pun menyuruh tim yang dipimpin oleh Tom dan James masuk memberikan bala bantuan untuk melawan musuh. Kebanyakan mereka menggunakan senjata berat dan pemusnah masal dengan daya hancur yang besar.


Duar! Duar!


Drrrrrt! Drrrrrt!


Kedatangan tim Tom dan James membuat kelompok Black Eyes terkejut dan ketar-ketir karena kebanyakan mereka terkena serangan. Senjata seperti ini bagaikan dua sisi mata pedang. Bukan hanya menghabisi lawan, kawan juga bisa jadi korban jika dalam radius dekat dengan titik target.


"Mundur! Mundur!" teriak Daniel agar orang-orangnya tidak menjadi korban keganasan senjata mesin tipe Maxim MG 08. Senjata yang bisa menembak 500 peluru dalam waktu singkat. 


Duar! Duar!


"Kalian mundur lalu berlindunglah! Jangan sampai kena serangan kami!" teriak Tom kepada anggota Red Hair.


Drrrrrt! Drrrrrt!


James begitu santainya melancarkan serangan kepada anggota Black Eyes. Suara teriakan dan erangan keras terdengar dari tempat persembunyiannya anggota Black Eyes.


Peter yang melihat apa yang sedang terjadi di markasnya sangat murka. Anggota sebanyak 500 orang yang ada di markasnya untuk menahan serangan Red Hair, sudah banyak yang mati.


Serangan dari arah depan dan belakang markas benar-benar digempur habis-habisan oleh kelompok Red Hair dengan menggunakan senjata yang lebih mutakhir. Sementara senjata miliknya yang belum sempat dikirim ke markas banyak direbut oleh kelompok Red Hair kemarin di Pulau Coral. 


***

__ADS_1


Kelompok tim Bryan juga sudah bergabung dengan James di lantai tiga. Musuh di lantai satu dan dua sudah bersih. Pertempuran saat ini ada di lantai tiga dan empat. Di lantai atas ada tim Daniel dan Tom.


"Kita habisi musuh di lantai ini, setelah itu kita langsung naik ke lantai lima," kata Bryan.


"Telusuri semua ruangan, kita harus membersihkan lawan malam ini juga!" perintah James kepada bawahannya.


Semua ruangan digeledah dan akan terjadi baku tembak jika mendapati ada musuh. Markas Black Eyes seakan dibuat habis penghuninya.


Nathan dan beberapa anggota Red Hair yang masuk lewat lorong rahasia, terlibat baku tembak. Namun, orang-orang itu menggunakan atribut kelompok Silver Tiger.


"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Nathan.


"Tidak ada kewajiban untuk kami menjawab pertanyaan kamu," balas orang itu.


"Wah, tidak menyangka kalau Peter berani membayar kelompok pembunuh bayaran untuk menghadapi kami," ujar Nathan mengejek.


Dor! Dor!


DOR! DOR!


Baku tembak pun terjadi di sana. Ruang bawah tanah di markas Black Eyes lumayan luas dengan banyak pilar-pilar dan ruang-ruang yang berjajar tertutup pintu besi. Kini kelompok Red Hair melawan anggota Silver Tiger yang menjadi pasukan bayaran. Tidak aneh jika suatu kelompok mafia membutuhkan tenaga bantuan dengan menyewa beberapa orang yang menjadi tentara bayaran. Mereka akan melakukan kerja sama dan membayar sesuai dengan harga kesepakatan.


Dor! Dor!


DOR! DOR!


Baku tembak di ruang bawah tanah terjadi sekitar sepuluh menit. Kelompok Red Hair bisa menghabisi semua anggota Silver Tiger yang dibayar oleh Peter. Semua senjata mereka di rampas.


Beberapa pintu yang berjajar di sana pun dibuka paksa. Ternyata itu adalah gudang senjata yang sengaja ditaruh di ruang bawah tanah. Ada sangat banyak sekali pistol, amunisi, granat, dan pisau belati.


"Sepertinya kita malah mendapatkan harta Karun di sini," kata Nathan tertawa terkekeh.


"Ini bukan saatnya kita tertawa senang. Sebaiknya kita secepatnya naik ke atas dan bergabung dengan yang lainnya," ucap salah seorang anggota Red Hair.


Mereka pun bergegas naik ke lantai atas. Karena lantai satu dan dua sudah benar-benar tidak ada musuh, adanya banyak mayat bergelimpangan, mereka bisa dengan cepat menyusul. Mereka membayangkan betapa mengerikannya baku tembak di lantai dua yang hampir semua lantai di penuhi oleh darah. Bau anyir begitu sangat menyengat bahkan sampai membuat mual. 


"Ini sudah seperti area pembantaian saja," ucap salah seorang anggota Red Hair dan dibenarkan oleh yang lainnya.


Lantai dua dan tiga mengalami kerusakan yang sangat parah. Mereka langsung naik ke lantai empat karena di sana masih terjadi baku tembak. Namun, di lantai ini pun keadaan jauh lebih kacau dan mengerikan. Senjata berat yang memiliki daya hancur besar membuat orang yang terkena akan hancur atau tubuh menjadi tidak utuh.

__ADS_1


Beberapa orang sampai mual-mual saat melihat mayat-mayat itu. Sungguh peperangan hanya akan memberikan kerusakan dan kengerian.


"Kalian langsung naik ke lantai lima!" perintah Tom kepada anak buah Red Hair yang datang bersama Nathan.


"Aku mau bilang ada beberapa tentara bayaran dari kelompok Silver Tiger," ucap Nathan.


"Ya, kami sudah tahu. Kita juga sudah berhadapan dengan mereka tadi," balas Tom.


Nathan menyusul Daniel yang ada di lantai lima. Anggota Red Hair juga sudah banyak yang mati, meski jauh lebih banyak anak buah Black Eyes yang mati.


***


Nathalie beradu kekuatan dengan Maria. Kedua wanita itu saling pukul, tendang, dan banting. Mereka sama-sama menguasai ilmu bela diri.


"Aku tidak menyangka punya penggemar seperti kamu yang kerjanya suka menguntit kehidupan aku," ucap Maria.


"Tentu saja aku harus tahu apa pun tentang kamu. Agar bisa menghabisi kamu saat ada kesempatan," balas Nathalie sambil melancarkan tendangan kepada Maria.


"Kenapa kamu begitu terobsesi ingin membunuh aku?" tanya Maria saat menahan tendangan kaki kanan Nathalie.


Kedua wanita ini bicara sambil adu kekuatan. Saling serang dan bertahan mereka lakukan di saat bersamaan. 


"Kamu ingin tahu alasan kenapa aku ingin membunuh kamu? Jawabannya adalah untuk membalas kematian ibuku yang sudah dibunuh oleh ibumu!" jawab Nathalie sambil membanting tubuh Maria saat pertahanan wanita itu melonggar.


Mendengar ucapan Nathalie barusan Maria merasa terkejut. Setahu dia wanita yang dibunuh langsung oleh ibunya itu adalah Thalia, selingkuhan papanya. (Aku lupa apa sudah menyebutkan nama sekretaris Peter, dahulu. Anggap saja ini mana ibu Nathan dan Nathalie)


"Apa kamu anaknya Thalia?" tanya Maria dengan tatapan tidak percaya.


Tatapannya penuh selidik memperhatikan Nathalie. Maria bisa melihat ada garis persamaan Nathalie dengan Thalia.


"Benar. Apa kabar saudaraku? Senang bisa bertemu denganmu!" jawab Nathalie dengan seringai lebar.


"Tidak mungkin!" Terlihat Maria sangat shock.


***


Apa Peter tahu atau tidak Maria masih hidup, lalu bagaimana Nathalie dan Nathan bisa menyembunyikan identitasnya akan dibahas di bab berikutnya. Jadi, ikuti terus kisah mereka, ya! Jangan lupa baca juga karya aku ini.


__ADS_1


__ADS_2