
Bab 67
Dor! Dor!
Terdengar suara tembakan semakin jelas dan terasa dekat. Daniel pun segera mengeluarkan pistol miliknya. Untung tadi dia juga membawa senjata miliknya yang sering dibawa saat bepergian.
"Cepat kita harus segera sampai ke kuil!" perintah ketua tim kelompok yang menjemput Daniel.
"Tuan Daniel. Kita akan menaiki kuda yang sama. Karena kita harus menunggangi kuda dengan cepat. Saya takut Anda celaka," ucap laki-laki muda itu lagi.
Tanpa membuang waktu Daniel pun turun dari kudanya dan ikut bersama yang lain. Sementara itu kuda yang tadi dinaiki oleh Daniel di bawa oleh salah seorang murid Guru Fang.
Dor! Dor! Dor!
Daniel dan orang-orang yang merupakan murid Guru Fang itu bergegas pergi dari sana. Begitu terdengar suara tembakan pistol itu mendekat.
Kuda yang mereka tunggangi berlari dengan sangat cepat. Bahkan Daniel sampai memegang kuat pada pelananya.
Dor! Dor!
"Aaaaa!" Suara teriakan dari lawan mereka
Daniel memberikan tembakan balasan kepada pihak musuh dan mengenai tubuh mereka langsung. Orang-orang itu pun jatuh ke tanah saat peluru mengenai tubuh mereka.
"Cepat!" Teriak orang yang membawa Daniel.
Mereka pun merasa senang saat melihat ada sebuah gapura dari kejauhan. Mereka pun semakin cepat melajukan kuda mereka
"Jangan biarkan mereka lolos!" Teriak lawan mereka dari kejauhan.
Daniel dan yang lainnya berhasil masuk ke dalam kuil. Tempat ini begitu luas dan bangunan yang mereka lihat ini. Sekarang mereka aman dari pihak yang di serang.
Orang yang menaiki kuda dengan Daniel mengajaknya ke bangunan utama. Mereka menemui seorang laki-laki tua yang sedang meditasi. Ada beberapa orang juga melakukan hal yang sama dengan orang itu.
__ADS_1
"Mereka sedang melakukan meditasi?" tanya Daniel.
"Ya. Dengan hati dan pikiran yang tenang maka mereka bisa mengendalikan dirinya sendiri," jawab pemuda yang belakangan diketahui bernama Ryu.
***
Marco mendatangi ruang rawat inap temannya Daniel itu. Dia mendapat kabar dari dokter barusan kalau orang yang sudah di siksa oleh Peter dan anak buahnya itu, sudah siuman. Mereka tidak tahu kalau orang ini masih hidup.
"Apa yang mereka lakukan terhadap dirimu?" tanya Marco.
Orang itu membuka mulutnya tetapi tidak terdengar suara dari mulutnya. Lalu, pihak dokter yang bertanggung jawab untuk menangani pasien ini, memeriksa keadaannya lagi. Kenapa sampai orang itu tidak bisa bicara.
***
Baru saja ditinggal setengah hari oleh Daniel, Sandra sudah merasa sangat rindu kepada suaminya. Tanpa terasa air matanya jatuh meleleh. Dia pun hanya bisa memandang wajah tampan laki-laki itu lewat foto yang ada di handphone miliknya yang dia ambil saat liburan di hotel dekat pantai hari kemarin.
"Kenapa wajah kamu semakin hari malah semakin tampan. Awas saja kalau kamu berani selingkuh," gumam Sandra bermonolog.
Dina dan Lisa yang mendengar ucapan Sandra hanya tertawa terkekeh. Mereka tahu seperti apa watak lelaki itu. Daniel adalah tipe laki-laki setia, tetapi jarang banyak bicara.
Wanita bertubuh montok itu, sekarang sedang membereskan beberapa majalah dan novel yang ada di ruangan itu. Sandra juga sudah merasa bosan.
"Bolehkah aku tanya sesuatu kepada kamu, Lisa?" Sandra menatap tajam ke arah ibu asuh suaminya ini.
"Tentu saja boleh, Nona. Aku akan jawab selagi aku tahu," balas Lisa.
"Apakah Daniel pernah mencintai seseorang? Maksud aku mencintai seorang wanita sebelum bertemu dengan aku?" tanya Sandra.
Lisa hanya menggelengkan kepalanya. Lalu, dia berkata, "Kenapa Nona Sandra malah menanyakan hal sesuatu yang seperti itu? Yang penting sekarang adalah Tuan Daniel begitu mencintai Nona."
Sandra pun menganggukkan kepala. Sebenarnya dia ingin tahu kalau saja Daniel mempunya mantan kekasih, apa yang akan dia lakukan jika mereka bertemu kembali. Tadi sore Sandra mendapatkan pesan dari Mary kalau Ronald akan pulang karena sudah memasuki libur panjang.
'Jika aku bertemu dengan Ronald kembali, sebaiknya aku harus bagaimana?' batin Sandra.
__ADS_1
Lisa bisa melihat ada rasa kegusaran dari sinar pancaran mata Sandra. Dia yakin kalau istrinya Daniel ini sedang memikirkan sesuatu yang sulit.
"Ada apa Nona? Kalau ada sesuatu katakan saja kepadaku. Siapa tahu aku bisa membantu?"
Lisa memegang tangan Sandra lalu mengusap-usapnya dengan lembut. Dia teringat akan janjinya kepada Daniel kalau dia akan menjaga Sandra selama tuannya itu pergi.
"Bolehkan aku bercerita hal ini kepada kamu, Lisa?" terlihat ada keraguan dari ekspresi wajah ibu hamil itu.
"Tentu saja boleh, Nona Sandra. Aku akan menjadi pendengar setia yang baik," balas Lisa dengan diiringi senyum lembutnya.
"Aku punya seorang kekasih bernama Ronald. Daniel juga tahu siapa dia itu. Kami berpisah karena dia kuliah di luar negeri dan membantu perusahaan keluarganya di sana. Kami pun berpisah, tetapi masih menjalani komunikasi dengan baik," kata Sandra mengawali ceritanya.
"Aku dan Ronald saling mencintai. Meski aku sudah menikah dengan Daniel, hubungan aku dengannya bisa berjalan dengan baik. Sampai suatu hari, aku ketakutan kehilangan Daniel. Tanpa sadar kalau aku sudah jatuh cinta kepadanya. Semenjak itu aku tidak pernah menghubungi Ronald lagi. Setiap dia menelepon aku abaikan. Dia sering kirim aku pesan, juga tidak pernah aku balas," lanjut Sandra.
"Di dalam hatiku ini perasaan untuk Daniel semakin besar dan dalam. Sampai-sampai aku lupa kepada Ronald. Hari-hari aku dipenuhi oleh Daniel. Setiap hari aku selalu memikirkan dia. Rindu kepadanya. Sehari tidak melihat dia sudah merasa rindu," tambah Sandra.
"Aku sempat berpikir bagaimana jika Ronald datang ke sini? Apa yang harus aku lakukan?"
Terlihat wajah Sandra berubah menjadi sendu. Ekspresi ceria yang sering diperlihatkan itu kini hilang entah ke mana. Senyum menawan yang sering membuat Daniel juga ikutan tersenyum juga hilang. Yang ada air mata yang jatuh begitu deras keluar dari netranya.
"Aku takut jika Daniel akan marah atau cemburu saat melihat aku dengan Ronald. Makanya aku tanya kepadamu tadi tentang wanita yang dicintai oleh Daniel. Bisa saja dia mempunyai wanita yang pernah dicintai di masa lalu sebelum bertemu dengan aku. Karena banyak sekali hal tentang Daniel yang tidak aku ketahui," kata Sandra dengan menahan isak tangisnya.
Lisa pun memeluk tubuh Sandra dan mengusap punggung ibu hamil itu dengan lembut. Sebagai seorang perempuan Lisa memahami perasaan nona-nya ini.
"Sebaiknya Nona jangan melihat masa lalu, tetapi lihatlah sekarang ini dan masa depan kalian. Apalagi akan hadir buah cinta kalian ini. Hilangkan pikiran buruk itu," ucap Lisa dengan lembut. Layaknya seorang ibu menasehati putrinya
Pintu kamar tidur Sandra terbuka. Terlihat Sindy keluar. Ternyata wanita itu mencari keberadaan putrinya.
"Kamu harus tidur sekarang, Sayang. Tidak baik ibu hamil begadang tiap malam," ujar Sindy.
Sandra mau tidak mau harus menuruti perintah ibunya. Padahal dia masih ingin curhat banyak kepada Lisa. Dengan berat hati ibu hamil itu berjalan dengan gontai digandeng oleh Sindy.
Lisa hanya bisa menatap dalam diam kepada Sandra. Menjadi seorang istri dari ketua kelompok mafia itu tidak akan mudah. Dia teringat akan sosok Diana yang merupakan ibu dari Daniel, sekaligus istri seorang ketua kelompok Mafia Red Hair.
__ADS_1
***
Jika ada kesalahan typo atau naskah yang amuradul tolong tandai nanti aku revisi. Karena ini eror terus.