
Bab 80
Nathan datang ke kediaman keluarga Li dia mendapat tugas dari Daniel melalui Osama. Laki-laki itu disuruh untuk mengawasi rumah mertuanya Daniel atau apartemen, setiap dua hari sekali giliran dengan Tom. Kebetulan tadi dia mendapat telepon dari salah satu anak buahnya yang sedang dia tugaskan untuk mengawasi kediaman Li ketika dirinya tidak mendapat giliran.
"Kalian habisi kelompok Black Eyes. Berpencar!" teriak Nathan memerintahkan kepada beberapa anak buahnya.
Semua orang yang datang bersama Nathan langsung berpencar di halaman rumah Leon.
Beberapa anggota Red Hair yang masih bersisa merasa sangat senang dengan kedatangan Nathan. Mereka sebenarnya sudah kehabisan peluru. Jadi, selain mengandalkan senjata hasil jarahan orang yang sudah meninggal di sana, mereka juga bertarung dengan tangan kosong.
Dor! Dor!
Nathan mulai melancarkan aksi penembakan kepada anggota Black Eyes. Sangat mudah untuk mengetahui mana anggota Black Eyes dan mana anggota Red Hair. Alat identitas anggota saja sudah beda. Black elEyes menjadikan kalung sebagai nomor ID anggota, sedangkan Red Hair menggunakan gelang. Model baju seragam dan warna yang dipakai mereka pun berbeda. Anggota Black Eyes memakai jas hitam sedangkan anggota Red Hair jubah biru navy. Jenis senjata yang dipakai juga berbeda karena mereka memiliki pabrik senjata masing-masing.
***
Leon mencari keberadaan Arthur dari balik sofa. Laki-laki itu tidak menemukan keberadaan adiknya di tempat tadi bersembunyi. Lalu, dia pun mencari ke sekeliling ruangan itu.
DOR!
Leon terkejut saat tiba-tiba saja ada peluru mengarah kepadanya dan mengenai bahu kiri. Darah langsung membasahi lengan baju yang berwarna putih. Kini berubah menjadi merah dan juga berbau anyir.
Arthur tersenyum senang karena pelurunya mengenai tubuh sang kakak. Padahal tadi dia menargetkan kepala yang akan jadi sasaran. Namun, Leon menghindar jadi mengenai bahunya.
__ADS_1
"Bagaimana, Kak? Sakit, bukan?" tanya Arthur yang kini berdiri di balik sofa tunggal itu sambil mengacungkan pistolnya ke arah Leon.
"Ya, lumayan. Tapi, ada apa dengan tangan kanan kamu itu? Jangan katakan kalau sudah tidak berfungsi lagi," ucap Leon mengejek.
Mendengar omongan kakaknya itu tentu saja membuat Arthur marah. Tangan kanan dia memang sudah mati rasa karena terkena empat peluru. Darah juga banyak yang keluar. Selain itu efek obat penyembuh luka itu juga akan memberikan reaksi seperti ini. Tangan itu akan bisa dia bebas bergerak dan digunakan setelah 10 menit.
Leon tahu adanya obat penyembuh luka. Luka terbuka akan cepat menghentikan pendarahan dan menutup luka. Namun, efeknya untuk sementara waktu tidak akan bisa digunakan. Selain itu, diperlukan kain kasa untuk menutupi luka agar tidak terkena infeksi atau bakteri.
DOR! DOR!
Dor! Dor!
Leon dan Arthur kembali melakukan baku tembak. Kedua saudara seibu itu tidak ada yang mau mengalah. Malam ini mereka ingin menentukan masa depan hubungan keluarga ini.
DOR! DOR!
Dor! Dor!
Nathan masuk ke ruangan itu dan terkejut melihat sudah banyak mayat bergelimpangan di sana. Selain itu dia juga melihat Leon dan Arthur yang sama-sama sudah terkapar di lantai.
"Tuan Leon!" Nathan berlari menghampiri ayah mertua Daniel.
Leon pun memaksakan diri untuk bangun. Lalu dia berjalan ke arah Arthur dengan sempoyongan. Saat Nathan mencoba membantu, laki-laki itu menolaknya.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau di akhir babak kehidupanku akan seperti ini," kata Leon yang masih berjalan ke arah Arthur.
Arthur pun sudah tidak mampu berdiri lagi. Dia sudah kehilangan banyak darah. Belum lagi rasa sakit dari obat tadi.
"Ya. Dan semua ini adalah salah ayah," ucap Arthur.
"Kenapa ayah yang disalahkan?" tanya Leon tidak mengerti.
"Karena dia selalu sibuk bekerja, jadi melupakan ibu," jawab Arthur.
"Ayah sudah memberikan waktu bersama keluarga di akhir pekan dan hari pekan. Bukannya kita selalu bersama-sama selama dua hari itu," tukas Leon tidak terima kalau ayahnya disalahkan.
"Lalu, yang lima hari itu ayah tidak bersama dengan kita," ucap Arthur sambil menyeringai.
"Ayah itu bekerja bukan pergi main," balas Leon.
"Tapi, dia menempatkan seorang laki-laki di sisi ibu. Istri yang kesepian dan mendapatkan perhatian dari laki-laki lain, maka wajar akan terjadi perselingkuhan. Namun, ayah memberi hukuman kepada laki-laki itu dengan sangat kejam. Lalu, kenapa tidak sekalian saja kepada ibu juga dia memberikan hukuman?" tanya Arthur.
"Karena ayah menyayangi aku, kamu, dan Damian. Dia tidak mau kita kehilangan sosok seorang ibu," jawab Leon.
"Apa kamu tahu kalau ibu setiap malam selalu menangis karena menahan rasa sakit akibat merindukan selingkuhannya itu. Jika ayah adalah orang baik, maka sebaiknya lepaskan ibu agar bisa hidup bahagia dengan kekasihnya," tukas Arthur.
"Ternyata otak kamu sudah gila!" teriak Leon.
__ADS_1