Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 54. Kesedihan Daniel


__ADS_3

Bab 54


"Daniel," panggil Sandra dengan perasaan takut.


Daniel hanya melihatnya sekilas lalu pergi dengan langkah terhuyung. Kakinya yang panjang melangkah dengan lebar seakan sedang terburu-buru. Setelah sampai di parkiram dia merasa bingung. Baru pertama kali laki-laki itu merasa linglung dan harus pergi ke mana?


"Kenapa aku tidak tanya Dina?" gumamnya sambil menepuk jidat.


"Bagaimana aku bisa menghubungi dia handphone aku saja entah di mana?" Daniel merasa kesal sendiri.


"Sekarang aku harus ke mana terlebih dahulu?" Daniel mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari orang yang kira-kira bisa membantu dirinya. Dia akan pergi dahulu ke markas Red Hair. Di sana dia akan mencari tahu apa yang sudah terjadi pada hari Sandra di culik. Dia yakin malam itu kelompok Red Hair juga ikut terlibat pertempuran di bekas pabrik kayu.


Setelah mendapatkan sebuah taksi, Daniel pun pergi dari rumah sakit. Dia tidak sadar kalau ada beberapa anak buah Red Hair yang di bawah pimpinan Marco, membuntuti dari kejauhan.

__ADS_1


"Di mana Dilan dikebumikan?" tanya Daniel kepada Marco.


Suami Sandra ini langsung masuk ke kamar Marco tanpa permisi. Tentu saja si pemilik kamar terkejut melihat anak tuannya tiba-tiba saja datang. Mana masih memakai pakaian rumah sakit.


"Apa mereka tidak bekerja dengan benar?" Marco malah balik bertanya.


Laki-laki itu sudah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menjaga Daniel dari serangan lawan yang bisa saja menyusup ke sana. Keadaan calon pemimpin kelompok Red Hair yang sedang dalam keadaan kritis sudah diketahui banyak orang. Tentu saja untuk menghindari hal buruk yang tidak diinginkan, maka dia menugaskan orang-orang untuk menjaga dan melindungi dirinya.


"Katakan kepadaku di mana Dilan dimakamkan?" teriak Daniel.


Daniel pun bergegas pergi dari sana. Dia mengambil salah satu mobil milik Osama di garasi. Dalam perjalanan dia membeli tiga buket bunga. Untuk Alex, Dilan, dan Nathan. Laki-laki itu mengira kalau Nathan juga meninggal.


Kini Daniel berjalan dengan gontai sewaktu memasuki kompleks pemakaman. Dia mencari kuburan Alex karena di sampingnya adalah makam Dilan. Perasaan Daniel saat ini sedih, kecewa, marah, dan menyesal karena dia tidak bisa melindungi teman-temannya. 

__ADS_1


Mata Daniel sudah bisa melihat batu nisan milik Alex dan benar saja di sampingnya adalah makam dengan tulisan Dilan di batu nisan yang terbuat dari marmer. Dia mengedarkan pandangan mencari nama Nathan. Namun, belum juga dia menemukan nama itu di deretan nama-nama yang tertulis di batu nisan.


"Dilan, aku datang," ucap Daniel dengan lirih.


Air mata Daniel jatuh berlomba-lomba tanpa bisa dihentikan. Kini dia duduk sambil memegang batu nisan itu dengan kuat. Kenangan bersama dengan Dilan bermunculan dalam ingatannya. Saat pertama kali mereka bertemu, melakukan hal-hal bodoh bersama. Juga saat-saat kritis di mana mereka berbuat nekad yang mempertaruhkan nyawa.


"Kenapa kamu bisa sampai terkena tembakan di bagian vital. Bukannya dulu kamu sering mengatakan kepadaku agar jangan sampai jantung terkena tembakan." Daniel meracau masih sulit menerima kematian sang sahabat.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Namun, Daniel tidak menyadarinya karena dia masih larut dalam kesedihan. Biasanya laki-laki itu selalu waspada dengan keadaan sekitar, kini seakan semua indranya lumpuh atau tumpul.


***


Siapakah yang datang? Apakah Peter akan semakin gencar untuk menjatuhkan Daniel? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


 


__ADS_2