
Bab 11
Wajah Sandra dan kedua temannya mendadak pucat pasi seakan darah di area wajahnya hilang. Mereka sangat shock dengan kejadian barusan. Sebuah pot berukuran cukup besar hancur di depan mereka. Semua mahasiswa di sana tahu ada banyak tanaman yang sengaja diletakan di atap bangunan kampus untuk menghiasi tempat itu agar terlihat indah dan asri. Tempat itu banyak digunakan oleh para mahasiswa untuk tempat berkumpul menghabiskan waktu atau belajar bersama. Tanaman-tanaman itu di tanam di pot-pot plastik dengan diameter 40-60 sentimeter.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Daniel sambil membantu mereka berdiri.
Kejadian itu membuat para mahasiswa yang ada di sana juga terkejut. Bahkan jeritan mereka lebih keras dari teriakan Daniel. Wajah muda-mudi itu sama pucatnya dengan Sandra.
"Apa ada yang ingin mencelakai aku?" tanya Sandra dengan tatapan kosong.
"Dengarkan aku! Kamu jangan takut karena aku akan selalu melindungi dan menjaga kamu," jawab Daniel sambil menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
Tanpa sadar Sandra pun membalas pelukan itu dengan erat dan bergumam ketakutan. Melihat keadaan nona muda Li yang seperti ini, membuat Daniel segera pergi dari sana.
***
Nyonya Li berdiri ketakutan setelah melihat isi paket yang dikirimkan untuk dirinya. Wajah dia sudah selayaknya mayat, wajah pucat dengan mata terbelalak dan mulut terbuka. Para pelayan yang mendengar teriakannya langsung berbondong-bondong datang menghampirinya. Mereka juga ketakutan saat melihat boneka berlumuran darah itu.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Kepala pelayan itu mendekati Sindy yang sedang berdiri kaku di tempatnya.
Lalu, laki-laki paruh baya itu menuntun sang nyonya dan meminta pelayan lain untuk membawakan minum. Sindy pun hanya pasrah, karena di tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini.
Leon yang sedang beristirahat di kamarnya terganggu dengan suara teriakan, memutuskan untuk melihat keadaan yang sudah terjadi di rumahnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan istri tercinta dan juga apa yang menyebabkannya seperti itu.
"Kamu cari tahu siapa pengirim paket ini!" perintah Leon kepada kepala pelayan.
"Siap, Tuan!" balas laki-laki paruh baya itu dengan semangat lalu bergegas pergi.
__ADS_1
Daniel datang sambil menggendong Sandra karena gadis itu tidak mampu berjalan karena tubuhnya lemas. Dia tidak menghiraukan tatapan dari orang-orang yang melihat dirinya dan Sandra. Begitu juga sebaliknya dia tidak memedulikan keadaan di rumah itu yang terlihat agak tegang. Baginya sekarang adalah mengembalikan kondisi Sandra agar tidak ketakutan seperti ini.
'Aku tidak mengira dia akan sampai sekacau ini karena ketakutan akan teror yang menimpa dirinya,' batin Daniel sambil menurunkan tubuh Sandra di atas ranjang.
"Jangan pergi!" Sandra menarik tubuh Daniel lalu memeluknya erat.
"Di sini kamu sudah aman, tidak akan ada berani mencelakai kamu. Aku juga akan di sini bersama kamu. Jadi, beristirahatlah!" titah Daniel sambil mengusap kepala Sandra yang bersandar di perutnya.
"Aku takut akan ada yang membunuh aku," kata gadis itu dengan lirih dan Daniel merasakan air mata itu membasahi bajunya dan tembus ke kulitnya.
Lalu, pemuda itu duduk di sampingnya sambil mengelus kepala dengan lembut mencoba menenangkan. Mereka duduk sambil merangkul sampai Sandra tertidur.
Daniel mencari tahu apa yang sedang terjadi di kediaman keluarga Li. Mengetahui ada teror untuk nyonya rumah, dia semakin yakin kalau semua kejadian yang menimpa keluarga itu adalah perbuatan sengaja yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok.
'Siapa? Apa tujuannya? Kenapa Tuan Besar Jimmy begitu yakin aku bisa melindungi keluarga ini?' batin Daniel sambil berpikir keras.
***
"Aku sudah mendapatkan bukti keterlibatan kelompok mafia Black Eyes atas pengeboman di pabrik Li, dulu," kata Nathan yang kini sedang duduk bertiga bersama Daniel dan Dilan.
"Sudah kuduga mereka juga terlibat di dalam kejadian itu," tukas Dilan dengan geram. Laki-laki ini punya dendam tertentu kepada kelompok mafia itu karena sudah membunuh adik dan kakaknya.
Daniel membaca laporan yang didapatkan oleh Nathan, orang suruhannya. Bukti sebuah sigaret dengan logo khas kelompok Black Eyes ditemukan di reruntuhan pabrik. Selain itu ada sebuah lencana keanggotaan yang merupakan pemilik salah satu jabatan di kelompok Black Eyes.
"Lencana ini menunjukkan dia berada di dalam golongan elit," kata Nathan.
"Iya, aku tahu itu," balas Daniel yang memang mengetahui seluk beluk dunia gelap, karena dia juga dulu merupakan salah satunya.
__ADS_1
Laki-laki itu berpikir keras kenapa ada seorang anggota elit mafia datang ke pabrik Li. Biasanya para anggota elit tidak terjun langsung hanya untuk mencari informasi atau melakukan hal-hal seperti ini. Mereka akan menyuruh anak buahnya atau orang kepercayaannya.
'Siapa dia? Apa dia merupakan salah satu pekerja di pabrik Li? Kebanyakan anggota elit akan bekerja dibalik layar dan melakukan pekerjaan yang akan mendapatkan keuntungan yang banyak bagi dirinya dan kelompoknya,' batin Daniel masih dengan berpikir keras.
Tiba-tiba saja dia menggebrak meja dan membuat Nathan dan Dilan terkejut. Terlihat seringai kesenangan di wajah Daniel.
"Ada apa?" tanya Dilan dan Nathan bersamaan.
"Aku ingin kamu periksa cctv di kampus Sandra karena tadi ada orang yang hendak mencelakainya. Juga ada paket menjijikan yang dikirim untuk Sindy. Aku rasa ini masih ada hubungannya dengan serangkaian yang terjadi di keluarga Li, pastinya orang itu menginginkan sesuatu yang sangat penting dan berharga pada keluarga Li. Apa itu? Aku juga tidak tahu," jelas Daniel saat melihat wajah penasaran dari kedua temannya.
***
Dalam perjalan pulang Daniel hendak membelikan sebatang coklat untuk Sandra. Saat dia melewati toko bunga, dia pun membeli buket bunga mawar merah. Sebenarnya sejak tadi dia merasa diikuti oleh seseorang. Untuk memastikannya laki-laki itu berputar-putar di sebuah mall.
Sesuai dugaannya dia memang sedang dibuntuti oleh beberapa orang. Tentu saja Daniel berpikir bagaimana caranya agar dia bisa lolos dari kejaran mereka.
'Jadi, mereka yang selama ini mengikuti aku. Mau apa mereka?' batin Daniel berjalan cepat menyelinap ke sana kemari.
Orang-orang yang membuntuti Daniel pun bergerak cepat. Mereka tidak mau kalau sampai kehilangan buruannya.
"Kalian harus mendapatkannya. Jangan sampai dia lolos kembali!" perintah seseorang melalui earphone kepada orang-orang itu.
"Baik, Tuan!" Mereka pun berpencar untuk menangkap Daniel.
Untuk mengelabui orang-orang itu, Daniel mengganti baju dan penampilannya. Namun, siapa sangka saat di parkiran ada kelompok mereka yang melihat dan mengenali Daniel.
"Daniel Hao, berhenti!" teriaknya.
__ADS_1
"Cepat ke tempat parkir, Daniel akan melarikan diri lagi!" perintah orang itu kepada teman-temannya.
***