
Bab 61
Mendengar ucapan sang istri, Daniel terkejut sekaligus gemas. Suami itu pergi bukan untuk bersenang-senang atau liburan, ini malah ingin ikut.
"Tidak. Pikirkan bayi yang ada di dalam perut kamu. Apalagi sekarang sudah berusia tujuh bulan. Aku takut keadaan di sana tidak cocok dengan bayi kita," kata Daniel mencoba merayu Sandra.
Biasanya wanita itu sering luluh jika menyangkut buah hati mereka berdua. Daniel tahu betapa sayangnya Sandra kepada bayi yang ada di dalam perut itu. Jadi, pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk sang anak.
"Tapi, aku ingin ikut. Bukannya kamu sendiri tahu kalau aku tidak bisa tidur jika tidak berada dalam pelukan kamu. Bayi ini sering bergerak menendang ke sana ke mari jika tidak mendapatkan sentuhan kamu," ucap Sandra dengan memasang wajah cemberut.
Daniel juga sebenarnya tidak tega meninggalkan sang istri lama-lama tanpa pengawasan darinya. Meski banyak orang yang akan menjaga Sandra.
"Aku janji akan secepat mungkin untuk melakukan pelatihan itu," kata laki-laki yang memiliki wajah tampan dan tubuh yang profosional.
Setelah bernegosiasi dengan bujuk rayu akhirnya Sandra mau ditinggal. Sebagai gantinya mereka akan menghabiskan waktu seharian berdua dengan moment yang romantis. Pada dasarnya wanita itu suka dengan perhatian dan keromantisan. Maka Daniel pun melakukan hal itu kepada istrinya.
***
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain Arthur yang masih diliputi rasa duka karena kematian Damian mulai merancang balas dendam kepada Daniel. Dia tahu kalau suami keponakannya itu sangat mencintai Sandra. Dulu dia juga begitu sayang kepada keponakannya itu. Bahkan dia sudah menganggap sebagai putrinya sendiri meski benci kepada Leon. Sikap manja dan cerdas yang dimiliki oleh Sandra itu sering membuatnya rindu.
"Maafkan paman, Sandra. Jika mulai sekarang paman juga akan menyeret kamu untuk membalas semua perbuatan papa dan suamimu," ucap Arthur.
Sorot matanya terlihat nanar saat membelai pigura foto dirinya dengan Sandra yang masih kecil. Terlihat jelas tawa kebahagiaan dari wajah mereka berdua. Foto yang diambil saat Sandra berulang tahun yang kelima.
"Daniel, aku ingin tahu nyawa siapa yang berarti bagimu. Nyawa kamu? Nyawa Sandra? Atau nyawa anak kalian yang merupakan generasi penerus keluarga Li?"
Lalu
Arthur memasukan pigura foto itu ke dalam laci paling bawah. Lalu menguncinya seakan enggan untuk melihatnya lagi.
***
"Cari tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Daniel!" perintah Peter kepada sang asisten.
"Siap Tuan," balas laki-laki bertubuh tegap itu.
__ADS_1
Ruangan kerja Peter kini hanya menampilkan beberapa orang saja di ruangan itu. Salah satu di antara mereka adalah Arthur.
"Kenapa kamu senang sekali merecoki menantu dari keluarga Li?" tanya seorang laki-laki paruh baya sambil tertawa kecil.
"Kita datang ke sini untuk membahas kerja sama bukan untuk bergosip. Jika itu tidak ada urusan dengan proyek kerja sama kita, sebaiknya jangan di bahas," ucap laki-laki tua yang bertubuh gemuk.
Saat ini Peter sedang mengumpulkan beberapa rekan kerja bisnisnya. Dia tidak mau sampai kejadian dahulu terjadi kembali kepadanya. Puluhan tahun dia membangun usaha, tetapi langsung diguncang oleh beberapa serangan. Baik akibat ekonomi global atau dari pihak musuh. Salah satunya dari Daniel.
"Orang itu selain menantu keluarga Li, dia juga anaknya Osama dengan Diana," ujar Peter sambil menatap jengah kepada orang-orang yang ada di sana.
"Apa?" pekik orang-orang yang baru tahu informasi ini.
Sudah menjadi rahasia umum jika Peter dan Osama punya hubungan yang buruk. Kerap kali kedua kelompok itu terlihat pertempuran baik sebagai kelompok mafia atau pengusaha.
"Kamu dibuat susah oleh seorang bocah," ucap laki-laki tua tadi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kamu tidak akan bicara begitu jika sudah bersinggungan dengan dirinya. Aku yakin yang ada adalah rasa marah dan ingin menghancurkan," balas Peter dengan nada mengejek.
__ADS_1
***
Apakah rencana Daniel akan berjalan lancar ditengah gempuran dari lawan-lawannya? Ikuti terus kisah mereka, ya!